SURYA.CO.ID - Insiden dugaan keracunan makanan menimpa lingkungan sekolah di Kabupaten Trenggalek. Ratusan siswa beserta guru di SMPN 1 Trenggalek dilaporkan mengalami gejala mual dan diare massal usai mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (11/8/2026).
Gejala tersebut mulai dirasakan mayoritas korban pada Selasa malam hingga Rabu (12/8/2026) dini hari. Akibatnya, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah tersebut terganggu karena banyak siswa yang terus-menerus izin ke toilet.
Pihak sekolah akhirnya mengambil langkah tegas dengan mengizinkan siswa yang merasa tidak sehat untuk pulang lebih awal atau dijemput oleh orang tua masing-masing.
Baca juga: Sosok Guru Besar UGM yang Kritik Putusan MK Soal MBG Dipisah dari Dana Pendidikan Paling Lambat 2028
Salah satu Pembantu Guru SMPN 1 Trenggalek, Fathurrahman DAG, mengungkapkan bahwa meski dirinya tidak ikut menyantap paket MBG tersebut, ia menerima banyak laporan mengenai kondisi makanan yang dibagikan. Sejumlah siswa dan guru mencium aroma yang tidak sedap dari salah satu menu yang disajikan.
"Itu dibuka sepertinya seperti sate ayam, saya juga tidak tahu. Terus aslinya ada beberapa yang ngomong mambu (bau). Tapi ada yang bilang itu tidak mambu, ya begini ini bumbunya," ujar Fathurrahman saat dikonfirmasi di lokasi sekolah, Rabu (12/8/2026).
Mirisnya, gejala sakit perut tetap muncul meskipun beberapa orang hanya mencicipi makanan tersebut dalam porsi yang sangat sedikit.
"Terus setelah selesai itu tadi makan. Aslinya ada beberapa yang sadar ini mambu, makan secuil sebenarnya, terus ada yang makan, guru pun juga ada yang makan secuil. Anak-anak ada beberapa," tambahnya.
Menurut laporan di lapangan, keluhan mulai memuncak setelah waktu Magrib hingga Isya. Intensitas diare yang cukup parah membuat banyak siswa kehilangan waktu istirahat mereka.
"Anak-anak banyak yang bilang, anu Pak, saya tadi malam tidak bisa tidur. Lha kenapa, 'Nang WC dua kali' dan itu pun yang keluar itu air, intinya seperti itu," jelas Fathurrahman menceritakan keluhan para siswanya.
Kondisi ini berlanjut hingga Rabu pagi saat jam sekolah dimulai. Fasilitas toilet sekolah pun tidak mampu menampung banyaknya siswa yang mengeluh sakit perut secara bersamaan. Pihak Unit Kesehatan Siswa (UKS) juga dilaporkan kewalahan karena dipenuhi siswa yang meminta obat diare.
"Anak-anak banyak yang mengeluh, namanya WC di sekolah tidak seberapa banyak, akhirnya dipulangkan. Jam 10 tadi dipulangkan yang sakit perut. Ya hampir setengahnya, ya hampir banyak yang pulang," ulasnya lagi.
Kejadian ini tidak hanya terbatas pada satu tingkatan kelas saja, melainkan tersebar dari kelas VIII hingga kelas IX, termasuk para staf pengajar.
"Banyak semua kelas tadi saya menemui kelas 9 ada yang kena, kelas 8 ada yang satu kelas, ada yang guru-gurunya kena. Kasihan," kata Fathurrahman.
Bahkan, beberapa guru dilaporkan harus mengonsumsi obat diare hingga air kelapa muda (degan) untuk meredakan gejala yang dirasakan.
"Pun juga bapak ibu guru juga ada yang kena. Sampai sakit, ada yang beli degan, sampai minum diare diapet. Nah, yang cicip itu juga kena padahal sedikit, tidak makan semua," ungkapnya.
Hingga Rabu siang, pihak sekolah masih melakukan penanganan dan pemantauan terhadap kondisi siswa serta guru. Terkait kelanjutan program MBG pada hari tersebut, pihak sekolah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih.
"Terus ini MBG datang banyak yang tidak makan dan ada yang makan. Bagi yang yakin silakan makan," pungkas Fathurrahman.