TRIBUNTRENDS.COM - Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, kembali menegaskan sikapnya terkait peluang maju dalam Pilpres 2029.
Ia memastikan tidak memiliki rencana untuk kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah munculnya nama Mahfud dalam sejumlah pemetaan elektabilitas menuju Pilpres 2029.
Dalam survei SMRC periode 5–19 Juli 2026, namanya tercatat masuk dalam simulasi semi-terbuka calon presiden.
Mahfud MD memperoleh tingkat elektabilitas sebesar 4 persen dalam survei tersebut.
Meski namanya masih diperhitungkan dalam bursa kandidat, Mahfud memilih tidak menjadikan hasil survei sebagai alasan untuk kembali bertarung.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa dirinya tidak berencana mengulang langkah politiknya pada Pilpres sebelumnya.
Dengan demikian, peluang Mahfud untuk tampil sebagai capres ataupun cawapres pada 2029 tampaknya tidak menjadi bagian dari agenda politiknya.
Baca juga: 3 Skenario Hukum soal Praperadilan TPPU Febrie Adriansyah Menurut Mahfud MD, Alasan Ditahan di KPK
Hasil survei SMRC sendiri menggambarkan peta awal dukungan publik yang masih dapat berubah seiring dinamika politik nasional.
Untuk saat ini, Mahfud menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki rencana untuk mencalonkan diri dalam Pilpres 2029.
Dalam survei pilihan presiden tersebut, posisi Mahfud MD berada di bawah beberapa tokoh nasional lainnya:
Dikutip dari video yang diunggah Mahfud MD dari YouTube Mahfud MD Official, Senin (10/8/2026), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu secara terbuka mengaku sadar diri dirinya tidak memiliki partai politik maupun modal finansial untuk bertarung dalam Pilpres.
Ia juga menyebut dalam Pilpres 2024 dirinya tidak pernah maju, namun diminta.
"Saya itu tidak pernah maju sebagai cawapres, saya diminta. Saya tidak pernah pasang iklan, saya tidak pernah juga pakai baliho-baliho di daerah."
"Saya juga tidak pernah minta disurvei, dan orang survei itu tidak murah," ungkap Mahfud.
Ia juga mengungkapkan kembali pada Pilpres 2024 bagaimana Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri memanggilnya secara mendadak tanpa ada tuntutan mahar atau biaya politik yang membebankannya.
"Waktu zaman 2024 gak tahu, pendaftaran dibuka tanggal 18, tanggal 16 sore saya dipanggil Bu Mega diminta."
"Dan bagi saya itu satu kehormatan karena pada waktu itu Bu Mega mengatakan, 'Pak Mahfud tidak usah menyediakan duit'. Kenapa saya tidak pernah ingin mencalon-calonkan diri sebagai capres atau cawapres? Karena saya tidak punya uang, tidak punya partai juga," ungkapnya.
Pengalaman serupa juga diceritakan Mahfud pada Pilpres 2019 lalu, di mana namanya sempat diproyeksikan mendampingi Joko Widodo (Jokowi) sebelum akhirnya konstelasi partai politik mengubah peta koalisi di detik-detik terakhir.
Saat itu, KH Ma'ruf Amin secara mendadak dipilih sebagai Cawapres Jokowi.
Pengalaman-pengalaman tersebut, ungkap Mahfud, makin memperkuat prinsipnya untuk tidak aktif memburu jabatan politik melalui cara-cara pragmatis.
"Tahun 2019 saya pernah diminta oleh Pak Jokowi menjadi cawapresnya, dan itu diakui juga oleh Pak Jokowi kepada saya. Saya juga tidak ngelamar sama sekali."
"Oleh sebab itu, yang akan datang pun saya tidak akan ngelamar-ngelamar, tidak gitu. Saya tahu diri, tidak punya duit dan tidak punya partai," tambah pria kelahiran Madura, Jawa Timur itu.
Baca juga: Mahfud MD Dukung Kabinet Bayangan, jadi Improvisasi & Pengawas, Kritik Menteri Prabowo: Agak Lemah
Meskipun tidak maju pada Pilpres 2029, Mahfud menekankan bahwa dirinya tidak akan berhenti memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
Menurutnya, kontribusi terhadap perbaikan iklim demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia dapat dilakukan di luar jalur kekuasaan formal, termasuk melalui pemikiran, kritik konstruktif, serta edukasi publik secara konsisten.
"Tetapi saya akan tetap berkontribusi kepada negara ini, ya minimal bicara seperti ini agar rakyat sadar bahwa kita punya negara yang sangat besar yang harus kita jaga bersama," tegasnya.
(TribunTrends/Tribunnews/Gilang P)