Berita Malang Raya Populer: Rute Trans Jatim II Hindari Suhat, Kebakaran Bromo Tembus 3 Kabupaten
Sarah Elnyora Rumaropen August 13, 2026 09:35 AM

Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Benni Indo/Luluul Isnainiyah

SURYAMALANG.COM, MALANG RAYA - Rencana rute Operasional Trans Jatim Koridor II mulai mengerucut pada opsi Terminal Arjosari menuju Madyopuro demi menghindari kawasan Soekarno Hatta (Suhat) agar tidak bersinggungan dengan banyak jalur angkutan kota.

Di sisi lain, bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian meluas hingga merembet ke tiga kabupaten, yakni Malang, Pasuruan, dan Probolinggo. 

Guna menanggulangi dampak Karhutla yang diperkirakan telah membakar hampir 1.000 hektare lahan, petugas gabungan memaksimalkan pemadaman darat dan pemadaman udara menggunakan helikopter.

Berikut ulasan selengkapnya:

2 Alternatif Rute Trans Jatim Koridor II

Komisi C DPRD Kota Malang telah bertemu Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur (Jatim) di Surabaya, Selasa (11/8/2026). Pertemuan tersebut membahas rencana operasional Trans Jatim Koridor II dan pelaksanaan program feeder.

Anggota Komisi C, Dito Arief Nurakhmadi menjelaskan, rencana rute Trans Jatim Koridor II yang akan melintasi Kota Malang mulai mengerucut. Ada dua alternatif jalur yang dibicarakan.

Dari dua alternatif yang dibahas, jalur Terminal Arjosari–Jalan Raden Intan–Jalan Sunandar Priyo Sudarmo–Sulfat–Madyopuro menuju arah Kabupaten Malang dinilai menjadi opsi yang lebih memungkinkan.

Baca juga: Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini Kamis 13 Agustus 2026: Cerah dan Kabut, Suhu Terendah 13 Derajat

Sedangkan rute kedua melintasi Jalan Soekarno Hatta atau Jalan Suhat tidak menjadi prioritas.

Jalur yang melintasi Jalan Soekarno Hatta itu dimulai dari Terminal Arjosari, lalu ke Jalan Raden Intan, Jalan A Yani, Jalan Borobudur, Jalan Soekarno Hatta, belok ke arah Betek melintasi Pasar Oro-oro Dowo menuju Kayutangan, Stasiun Malang ke arah selatan menuju Kepanjen.

Dito Arief Nurakhmadi mengatakan, dua alternatif tersebut mengemuka setelah pihaknya melakukan kunjungan dan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Jatim.

"Hasil dari kunjungan kami ke Dishub Jatim, ada dua rute yang mengerucut," kata Dito kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (12/8/2026).

Alasan Rute Soekarno Hatta Tidak Dipilih

Sementara alternatif kedua yang melintasi kawasan Jalan Soekarno Hatta tidak dipilih karena bersinggungan lebih banyak dengan trayek angkutan kota (angkot).

“Jalur opsi pertama itu bersinggungan dengan lima trayek, sedangkan jalur Soekarno Hatta itu bersinggungan dengan delapan trayek,” ujar Dito.

Menurut Dito, sebenarnya cukup banyak masyarakat yang menginginkan Trans Jatim melintasi Jalan Soekarno Hatta.

Kawasan tersebut memiliki mobilitas masyarakat yang tinggi, terlebih menjadi salah satu pusat aktivitas pendidikan, perdagangan, dan jasa di Kota Malang.

Akan tetapi banyaknya trayek angkutan kota yang bersinggungan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan rute.

"Kelihatannya mengerucut pada opsi pertama. Meskipun masyarakat banyak yang meminta ada Trans Jatim lewat Jalan Soekarno Hatta. Namun karena di sana banyak trayek, maka yang dipilih opsi pertama," ujarnya.

Program Feeder Jadi Solusi

Dito mengatakan, pemerintah juga harus memperhatikan keberlangsungan angkutan kota ketika Trans Jatim Koridor II mulai beroperasi.

Salah satu skema yang disiapkan sebagai jalan tengah adalah menjadikan angkutan kota sebagai angkutan pengumpan atau feeder Trans Jatim.

Sayangnya, program feeder tersebut belum terlaksana sejak Trans Jatim pertama kali beroperasi pada November 2025.

Skema tersebut dinilai dapat menjadi solusi agar peningkatan pelayanan transportasi publik tidak mematikan angkutan yang selama ini telah beroperasi.

"Nah, salah satu yang menjadi win-win solution adalah program feeder. Ini kan ada stimulus dari Pemprov," katanya.

Berdasarkan informasi yang diterima DPRD, dukungan pembiayaan dari Pemprov Jawa Timur untuk feeder diberikan selama sekitar 12 bulan, yakni mulai pertengahan 2026 hingga pertengahan 2027. Bukan dua tahun.

Baca juga: Diduga Keracunan MBG, Ratusan Siswa dan Para Guru SMPN 1 Trenggalek Mengeluh Mual dan Diare

Setelah masa stimulus tersebut berakhir, Pemkot Malang harus mulai menyiapkan keberlanjutan pembiayaan melalui APBD.

Dito menyebut, kebutuhan anggaran diperkirakan berkisar Rp2 miliar hingga Rp 4 miliar. Besaran anggaran akan sangat bergantung pada jumlah armada angkutan pengumpan yang nantinya dioperasikan.

"Untuk program berikutnya, PAK 2027 harus dianggarkan pembiayaan feeder dari APBD Kota Malang, yang berkisar antara Rp 2 miliar hingga Rp 4 miliar," jelasnya.

Oleh karena itu, Komisi C mulai mengantisipasi kebutuhan anggaran yang harus ditanggung pemerintah daerah setelah stimulus dari Pemprov Jawa Timur selesai.

Kebakaran Bromo Hampir 1.000 Hektare

Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih berlangsung hingga Rabu (12/8/2026) dan sampai saat ini, total lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan hampir mencapai 1.000 hektare.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan jika kebakaran sudah meluas hingga ke Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Petugas gabungan kini dimaksimalkan untuk melakukan pemadaman api.

"Kemarin saya update ke Pak Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan memaksimalkan (penanganan) hari ini, mudah-mudahan bisa selesai," kata Khofifah saat menghadiri peringatan Hari Veteran Nasional 2026 di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Rabu (12/8/2026).

Baca juga: Bromo Ditutup Akibat Kebakaran, Wisatawan Asing Digeser Liburan ke Tumpak Sewu Lumajang

Khofifah menjelaskan dampak luasan arena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Bromo tidak bisa dihindari, sebab kondisi cuaca angin kencang mengakibatkan api cepat merembet.

Di sisi lain, kondisi cuaca juga menjadi kendala bagi petugas untuk memadamkan api.

Khofifah menyebutkan, helikopter dari BNPB sebanyak dua unit yang berkapasitas 4.000 liter dan 1.000 liter, serta bantuan helikopter dari Abdulrachman Saleh telah dikerahkan.

Bahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyewa helikopter dari Jawa Tengah.

"Harapan dari BNPB pemadaman secepat mungkin bisa dikendalikan sehingga dua heli perbantuan itu bisa digunakan untuk memadamkan di provinsi lainnya," sambungnya.

Luas Karhutla Capai 921 Hektare

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengatakan, berdasarkan laporan Selasa (11/8/2026) malam, total lahan yang terbakar sekitar 921,42 hektare. 

Data tersebut terus berkembang seiring luas lahan yang terbakar.

"Prakiraan luas lahan yang terbakar totalnya sekitar 921,42 hektare dengan jenis vegetasi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar," kata Sadono, Rabu.

Sampai saat ini, petugas gabungan dari segala unsur masih terlibat untuk memadamkan api, dan akan melanjutkan upaya penanganan melalui operasi udara dan darat.

Pada pelaksanaan operasi udara, petugas gabungan akan melakukan water bombing menggunakan helikopter. Total air untuk bombing sampai hari Rabu sebanyak 205.800 liter.

Baca juga: DPRD Kota Batu Dukung Langkah Kejari dalam Mengusut Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI

Sementara, pada pelaksanaan operasi darat, petugas membuat sekat bakar serta pembasahan sisa bara api yang terjangkau dengan mobil tangki milik TNBTS, BPBD Provinsi Jawa Timur, dan BPBD Kabupaten Malang.

"Area batas wilayah Kabupaten Malang sudah tidak ada bara api. Bara api masih terpantau di wilayah Probolinggo dan Penanjakan Pasuruan," jelas Sadono.

Akibat kebakaran yang semakin meluas, pihak Balai Besar TNBTS menutup seluruh akses masuk kawasan wisata, mulai dari Cemorolawang Kabupaten Probolinggo, Wonokitri Kabupaten Pasuruan, Pos Jemplang hingga Coban Trisula Kabupaten Malang, serta Senduro Kabupaten Lumajang.

"Penutupan mulai diberlakukan sejak Sabtu (8/8/2026) sekira pukul 22.00 WIB sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan," pungkasnya.

Untuk diketahui, kebakaran mulai terjadi sejak Senin (3/8/2026), di mana titik api pertama muncul dari wilayah Blok Bantengan hingga menghanguskan vegetasi seperti cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.