TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON — Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat tetap memegang kendali atas Selat Hormuz yang strategis dan akan "mempertahankannya."
"AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. SAYA RASA KITA AKAN MEMPERTAHANKANNYA!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
"Blokade Angkatan Laut kita disebut oleh semua pihak sebagai 'DINDING BAJA,' dan tidak ada yang bisa dilakukan Iran untuk melawannya," sebut Donald Trump, Rabu, 13 Agustus 2026.
Trump telah berulang kali mengklaim bahwa Amerika Serikat menguasai selat tersebut, yang merupakan jalur vital bagi jalur energi dan pengiriman komoditas lainnya di Timur Tengah.
Namun, Iran menyatakan mereka secara efektif menguasai sebagian besar jalur perairan tersebut dan akan menerapkan sistem pungutan biaya ke setiap kapal yang melintas sebagai tanggapan atas perang AS yang dilancarkan Trump pada 28 Februari 2026.
Pada Selasa malam, Trump mengatakan kepada para wartawan: "Saat ini kita memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Mereka tidak memegang kendali. Kita yang memegang kendali penuh. Kita yang menguasainya."
Pasukan AS dan Israel telah membombardir militer Iran secara besar-besaran dan menewaskan sejumlah besar pimpinan negara itu selama perang yang telah berlangsung hampir enam bulan ini—perang yang awalnya dilancarkan dengan tujuan antara lain memaksa Teheran meninggalkan program tenaga nuklirnya dan melakukan pergantian rezim.
Iran telah melakukan perlawanan dengan serangan rudal terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut, Israel, dan target-target di negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS.
Baca juga: Intelijen AS : Iran Ubah Strategi! Tinggalkan Nuklir, Selat Hormuz Jadi Senjata Baru Lawan Trump
Tanggapan mereka yang paling efektif adalah menyerang kapal-kapal yang melintasi Hormuz, yang secara efektif melumpuhkan jalur perdagangan tersebut dan mengguncang ekonomi dunia.
Di tengah merosotnya popularitas politiknya di dalam negeri menjelang pemilihan umum sela Kongres bulan November, Trump telah mengurungkan niat untuk meningkatkan eskalasi perang demi meraih kemenangan mutlak.
Hal ini membuat perang tersebut berada dalam situasi jalan buntu.
Namun, politisi dari Partai Republik itu mengatakan bahwa Amerika Serikat siap untuk fokus memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran melalui strategi yang ia sebut kepada Axios sebagai pendekatan yang "tidak mencolok."
"Kita hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka. Kita hanya memantau Iran dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang," ujar Trump kepada Axios pada hari Minggu.
Menanggapi keinginan Iran mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi hari Rabu kemarin langsung menyampaikan keberatan.
Dia menekankan pentingnya untuk tidak mengenakan biaya atas pelayaran yang melintasi Selat Hormuz dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran, mengingat jalur perdagangan tersebut secara efektif telah tertutup di tengah macetnya negosiasi antara AS dan Iran.
Saat berbicara kepada wartawan di kantornya di Tokyo, Takaichi mengatakan bahwa dirinya sudah menyampaikan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian pandangan Jepang mengenai perlunya Amerika Serikat dan Iran untuk segera mengadakan pembicaraan dan mencapai kesepakatan, khususnya terkait isu nuklir.
Baca juga: Trump Kembali Tekankan Kendali Selat Hormuz Ada pada AS, Iran Tetap Teguh pada Persyaratannya
Mengenai Selat Hormuz, Takaichi mengatakan ia telah menyampaikan kepada Pezeshkian bahwa "penting untuk memulihkan kebebasan dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz sesegera mungkin tanpa adanya biaya tambahan." Jepang, yang minim sumber daya alam, sangat bergantung pada Timur Tengah untuk pasokan minyak mentah.
Menurut Takaichi, dalam pembicaraan yang berlangsung sekitar 20 menit tersebut, Pezeshkian memaparkan posisi Iran, termasuk status dan prospek diskusi dengan Oman terkait Selat Hormuz. Takaichi sebelumnya telah berbicara dengan Sultan Oman, Haitham bin Tariq al-Said, pada hari Senin.
Takaichi mengatakan ia menyampaikan "kekhawatiran mendalam" dari perspektif ketahanan energi terkait situasi di Selat Bab el-Mandeb di ujung barat daya Semenanjung Arab, serta meminta Iran untuk mendesak kelompok pemberontak Houthi di Yaman—yang bersekutu dengan Teheran—agar menahan diri.
Otoritas Yaman pada hari Selasa menyatakan bahwa kelompok Houthi—yang pada bulan Juli mendeklarasikan "blokade maritim" terhadap kapal-kapal Arab Saudi—telah melancarkan serangan mematikan terhadap sebuah kapal kargo di selat tersebut. Selat ini telah menjadi jalur alternatif pengangkutan minyak mentah di tengah tertutupnya akses melalui Selat Hormuz.
Takaichi mengutip pernyataan Pezeshkian yang menyebutkan bahwa Iran sedang berupaya menyelesaikan masalah tersebut sembari menjalin dialog dengan Arab Saudi.
Ia juga mengatakan telah kembali mendesak penyelesaian segera kasus seorang warga negara Jepang yang sempat ditahan di Iran dan dibebaskan dengan jaminan pada bulan April. Orang tersebut diyakini merupakan kepala biro NHK (lembaga penyiaran publik Jepang) di Teheran.
Pembicaraan antara Takaichi dan Pezeshkian ini merupakan yang pertama sejak bulan Juni dan yang keempat sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari. Meskipun merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, Jepang secara tradisional menjalin hubungan yang bersahabat dengan Iran.
Korea Times/Kyodo News