"Kemarau yang semakin kering tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian, ketersediaan air bersih.” RIDWAN JAMIL, Kalaksa BPBD Aceh Besar
SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kewaspadaan itu seiring kondisi cuara yang semakin kering.
Berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar, tercatat sudah terjadi 34 peristiwa karhutla di wilayah kabupaten itu sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Kebakaran tersebut berdampak terhadap lahan seluas 38,88 hektare yang terdiri atas lahan produktif dan kawasan hutan dan dilaporkan terjadi di 17 kecamatan.
Kalaksa BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil, mengatakan, kecamatan Blang Bintang menjadi wilayah dengan luas lahan terdampak paling besar, yakni 11,1 hektare dari tiga kejadian. Selanjutnya, Kecamatan Lembah Seulawah tercatat mengalami tiga kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 10,69 hektare.
"Montasik dua kejadian dengan luas 5,5 hektare, Kuta Malaka dua kejadian 3,5 hektare, serta Seulimeum dua kejadian dengan luas 3,01 hektare," katanya, Rabu (12/8/2026).
Sementara itu, Baitussalam mencatat lima kejadian dengan luas terdampak 0,14 hektare. Blang Bintang tiga kejadian 11,1 hektare, Peukan Bada tiga kejadian 0,13 hektare, dan Lembah Seulawah tiga kejadian 10,69 hektare. Kejadian karhutla juga tercatat di Ingin Jaya, Sukamakmur, Lhoknga, Darussalam, Mesjid Raya, Jantho, Darul Imarah, Indrapuri, serta Simpang Tiga.
Ridwan Jamil mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah kondisi kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih panjang.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tidak membuang puntung rokok sembarangan yang dapat memicu kebakaran.
BPBD juga mengimbau warga agar tidak membiarkan api sekecil apa pun di kawasan hutan dan lahan. Apabila melihat kepulan asap atau titik api, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang atau petugas terdekat.
Menurutnya, tingginya kejadian karhutla ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meluasnya dampak kekeringan di sejumlah wilayah Aceh Besar.
"Kondisi kemarau yang semakin kering tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian, ketersediaan air bersih dan aktivitas masyarakat," pungkasnya.(iw)