TRIBUNJOGJA.COM - Tribunners mungkin pernah mendengar ada teori yang menjelaskan bahwa bumi itu datar.
Banyak yang beranggapan bahwa teori ini mulai populer dan dipercaya oleh orang-orang zaman dahulu.
Tanpa didasari ilmu pengetahuan, mungkin naluri manusia memang akan menganggap tempat dimana kita berpijak ini datar.
Karena dalam jarak pandang manusia yang terbatas, permukaan Bumi memang tampak rata, sehingga sulit untuk orang menyadari bahwa Bumi sebenarnya melengkung.
Pertanyaannya, kapan dan bagaimana manusia mulai menyadari bahwa bentuk Bumi itu sebenarnya bulat?
Orang Yunani Kuno Sudah Tahu Bumi Bulat Sejak Ribuan Tahun Lalu
Pemahaman bahwa Bumi berbentuk bulat sebenarnya sudah muncul jauh sebelum era modern.
Filsuf Yunani bernama Thales diyakini menjadi salah satu orang pertama yang mengemukakan gagasan ini sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Pythagoras dan Aristoteles.
Aristoteles bahkan memiliki bukti empiris sederhana yang bisa diamati siapa saja, ia memperhatikan bahwa bayangan Bumi yang jatuh ke permukaan Bulan saat terjadi gerhana selalu berbentuk lengkung, sesuatu yang hanya mungkin terjadi kalau Bumi berbentuk bulat.
Puncaknya, filsuf sekaligus ilmuwan bernama Eratosthenes berhasil menghitung keliling Bumi pada abad ke-3 sebelum Masehi menggunakan metode yang sangat sederhana, memanfaatkan perbedaan sudut bayangan matahari di dua kota berbeda di Mesir.
Hasil perhitungannya adalah sekitar 40.000 kilometer, sangat dekat dengan angka keliling Bumi yang diukur menggunakan teknologi modern saat ini.
Pengetahuan Ini Tidak Pernah Hilang di Abad Pertengahan
Sejarawan Jeffrey Burton Russell dalam bukunya yang terbit pada 1997 menegaskan bahwa hampir tidak ada satu pun orang terpelajar dalam sejarah peradaban Barat sejak abad ke-3 sebelum Masehi yang benar-benar percaya Bumi itu datar.
Pengetahuan bahwa Bumi berbentuk bulat terus diwariskan dan diterima secara luas oleh kalangan terpelajar Yunani, Romawi, hingga Eropa Abad Pertengahan.
Selama masa Keemasan Islam, para astronom Muslim di Baghdad turut melanjutkan dan menyempurnakan pengetahuan ini.
Mereka memanfaatkan karya Ptolemeus untuk melakukan berbagai perhitungan astronomi, sebuah bukti nyata bahwa pemahaman soal bentuk Bumi terus berkembang seiring waktu.
Bahkan perdebatan yang benar-benar terjadi di kalangan cendekiawan Abad Pertengahan bukan soal apakah Bumi itu bulat atau datar, melainkan soal seberapa besar ukuran sebenarnya, serta kemungkinan adanya wilayah dan penduduk lain di sisi Bumi yang belum terjangkau.
Lalu, dari Mana Mitos Bumi Datar Sebenarnya Berasal?
Mitos populer bahwa masyarakat Abad Pertengahan percaya Bumi datar ternyata baru muncul jauh belakangan, tepatnya dari sebuah buku biografi karya penulis Amerika, Washington Irving, yang terbit pada 1828.
Dalam bukunya, Irving menggambarkan Columbus sebagai sosok visioner yang berani menantang keyakinan Bumi datar yang dianut para cendekiawan pada masanya.
Padahal, cerita tersebut murni hasil dramatisasi Irving demi kepentingan narasi, bukan berdasarkan catatan sejarah apa pun.
Perdebatan asli antara Columbus dan Dewan Salamanca sebenarnya berkisar pada seberapa jauh jarak pelayaran menuju Asia, bukan soal bentuk Bumi.
Diperkuat Lagi oleh Gerakan Bumi Datar di Abad ke-19
Mitos ini semakin kuat berkat munculnya gerakan Bumi datar modern yang dipelopori Samuel Rowbotham, penulis asal Inggris yang menggunakan nama pena Parallax.
Lewat karyanya berjudul "Zetetic Astronomy" yang kemudian dikembangkan menjadi buku "Earth Not a Globe", Rowbotham mengemukakan berbagai argumen yang menentang konsensus ilmiah soal bentuk Bumi.
Gerakan semacam ini muncul seiring berkembangnya skeptisisme terhadap otoritas ilmiah pada masa itu, dan ironisnya, justru ikut memperkuat kesan bahwa mempercayai Bumi datar adalah sesuatu yang lazim.
Jadi, anggapan bahwa nenek moyang kita dulu keliru soal bentuk planetnya sendiri ternyata tidak sepenuhnya benar.
Justru sebaliknya, manusia sudah memahami dan bahkan berhasil menghitung ukuran Bumi dengan cukup akurat, ribuan tahun sebelum adanya teknologi modern.
(MG Farhatiy Rijal)