TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wacana dibukanya kembali kesempatan bagi suporter untuk menyaksikan langsung tim kesayangannya pada laga tandang di Super League 2026/2027 disambut positif oleh PSS Sleman.
Executive Representative PSS Sleman, Vita Subiyakti, menilai kebijakan tersebut menjadi kabar baik bagi suporter.
Namun, ia mengingatkan bahwa penerapannya tidak akan mudah, terutama pada pertandingan dengan tingkat rivalitas dan risiko tinggi.
“Positif, tapi challenging,” kata Vita saat menjawab wacana tersebut, Kamis (13/8/2026).
Menurut Vita, setiap pertandingan memiliki karakter dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, jumlah suporter tim tamu tidak serta-merta akan sama pada setiap pertandingan.
“Lima persen dari kuota pertandingan yang diberikan,” ujarnya.
Vita menjelaskan, kuota tersebut juga dapat ditentukan berdasarkan kesepakatan serta mempertimbangkan tingkat risiko pertandingan.
“Atau berdasarkan kesepakatan, tergantung tingkat resikonya. Kan setiap match tingkat resikonya beda-beda,” katanya.
Vita menilai tantangan terbesar dari dibukanya kembali suporter tandang justru berada di luar stadion.
Menurutnya, regulasi lebih mudah diterapkan ketika suporter sudah berada di dalam arena pertandingan.
“Karena yang paling berat ini kan mengatur teman-teman suporter ya, bukan di dalam stadion. Kalau di dalam stadion ini regulasi masih bisa diberlakukan. Yang terjadi adalah ketika berada di luar stadion,” jelasnya.
Ia juga mengaku masih mempelajari tingkat risiko sejumlah pertandingan, terutama laga yang memiliki rivalitas tinggi.
“Sebenarnya ngelihat untuk tipikal koordinasinya itu bagus. Teman-teman udah punya komunikasi dengan suporter tim lawan kan. Cuman saya juga mempelajari tingkat-tingkat risiko yang ada beberapa klub ya, yang rivalitasnya cukup tinggi dan kita mesti melihat kembali apakah suporter kita siap,” ujar Vita.
Menurutnya, komunikasi antarkelompok suporter yang selama ini sudah terbangun menjadi modal penting. Namun, koordinasi di tingkat atas belum otomatis menjamin situasi di lapangan.
“Karena mungkin kalau yang bisa diajak duduk bersama yang di atas ini kan bisa diskusi, tetapi apakah sampai ke grassroot kan kita enggak bisa menjamin,” katanya.
Vita juga menyinggung persoalan rivalitas yang sudah berlangsung lama. Ia menyebut regenerasi suporter bisa membawa perubahan, tetapi sejarah rivalitas tetap menjadi persoalan yang harus diperhatikan.
“Karena kan itu adalah historical issue ya. Nah, sebenarnya kan meminimalisir historical issue ini yang jadi PR bersama, terutama untuk di Yogyakarta,” tuturnya.
Vita pun mengajak suporter PSS untuk bersama-sama belajar jika regulasi suporter tandang benar-benar diterapkan pada musim 2026/2027.
“Tolong temani aku. Kita belajar bersama karena saya juga belum pernah mendampingi langsung kan. Jadi kayak, ayok kita saling support, kita lihat nanti kita sama-sama belajar bersama, evaluasi bersama,” ucapnya.