TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Sebanyak 19 rumah warga Gombel Lama di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, jawa Tengah, rusak akibat penataan lahan untuk Pakuwon Mall.
Dari jumlah tersebut, 14 rumah warga akan diperbaiki Pakuwon Group sebagai pemilik proyek.
Keruskaan yang terjadi berupa dinding rumah akibat pengoperasian alat berat di lokasi yang tak jauh dari rumah mereka.
Warga pun berharap, bukan kerusakan yang diperbaiki tetapi mereka mendapat ganti untung.
Tri Wahyudi (51), warga Gombel Lama mengatakan, dinding dan lantai rumahnya retak, bahkan ambles sejak proyek pematangan lahan Pakuwan Mall berlangsung.
Baca juga: Pemkot Semarang Pastikan Belum Keluarkan Izin Pembangunan Gedung Pakuwon Mall di Gombel Lama
Rumahnya telah dua kali disurvei dari pihak Pakuwon untuk proses perbaikan.
Dirinya sempat keberatan dengan sistem perbaikan yang akan dilakukan Pakuwon.
"Sistem dari Pakuwon yang kemarin itu hanya separuh yang diperbaiki, tambal sulam. Makanya warga kan keberatan, soalnya ada yang tanah ambles."
"Makanya kan warga mintanya sistemnya ganti untung aja," ujarnya, Rabu (12/8/2026).
"Tapi, penjelasan dari pihak Pakuwon tadi, bahwasanya kerusakan rumah warga keretakan itu akan diperbaiki keseluruhannya," katanya.
Meski demikian, Tri belum mengetahui apakah seluruh warga kini telah menyetujui skema perbaikan.
Ia menyebut, keputusan tersebut masih perlu dibicarakan bersama warga.
"Kalau itu, warga kita belum tahu. Soalnya kemarin kesepakatan warga jadi kan enggak tahu ya seperti itu," imbuhnya.
Warga lain, Sulistyowati (42) mengatakan, debu menjadi gangguan yang paling dirasakan selama aktivitas pekerjaan berlangsung.
"Iya, pertama debu," ucapnya.
Menurut Sulistyowati, kondisi debu cukup parah, terutama ketika warga beraktivitas di luar rumah.
Debu juga disebut masuk ke dalam rumah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
"(Kondisi debu) Parah banget," ungkapnya.
Ia mengatakan, penyiraman yang dilakukan di sekitar lokasi belum cukup untuk mengatasi debu.
Selain debu, warga juga terganggu suara dari aktivitas pekerjaan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari.
Sulistyowati mengatakan, sebenarnya warga memilih ganti untung dibandingkan perbaikan sebagian rumah.
"Padahal kan sebenarnya pengennya ganti untung," ungkapnya.
Menurutnya, sebagian warga masih melakukan pembahasan mengenai bentuk penanganan rumah yang terdampak.
Sementara itu, Head General Affair Pakuwon Group, Iful Novianto mengatakan, perbaikan 14 rumah tersebut merupakan bagian dari pembagian penanganan antara pihak Pakuwon dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta.
Lima rumah rusak lainnya akan ditangani BBPJN.
Rabu, tim dari Pakuwon Mall mendatangi rumah warga untuk memastikan kapan mereka bisa melakukan perbaikan.
"Nah, total sebenarnya 19 (rumah yang rusak), cuma, dari arahan Pak Lurah, kami bagi, PJN 5, kami 14," kata Iful saat mendatangi rumah warga terdampak proyek Pakuwon Mall, Rabu (12/8/2026).
Baca juga: Pakuwon Mall Semarang Bakal Jadi Terbesar di Indonesia, Pemiliknya Pernah Terjun di Industri Film
Menurut Iful, terkait laporan kerusakan pada rumah warga, pihaknya telah melakukan survei sebanyak dua kali pada awal Juli.
Survei pertama dilakukan tim internal Pakuwon, sedangkan survei kedua melibatkan vendor yang ditunjuk untuk menangani perbaikan.
Ia menjelaskan, metode perbaikan akan disesuaikan dengan kondisi kerusakan rumah.
"Dalam perbaikan ini, bukan hanya di touch up touch up aja," ucapnya.
Iful menyebut, kerusakan yang ditemukan pada rumah warga secara umum berupa retakan.
Menurut dia, kondisi tanah di kawasan Gombel yang bergerak menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan dalam pelaksanaan proyek.
"Kerusaknya itu secara umum adalah retak," katanya.
Terkait warga yang meminta agar tanah atau rumah mereka sekalian dibeli dan menjadi bentuk ganti untung, Iful mengatakan, skema tersebut belum menjadi bagian dari mekanisme kompensasi Pakuwon saat ini.
"Kalau dibeli, jadi konsep kami dari awal adalah memperbaiki."
"Sampai saat ini, skema yang ada di luaran seperti ganti untung itu kami belum masukkan ke dalam proses kompensasi di kami."
"Tapi, tetap kami akan perbaiki," katanya.
Ia menyebut, sebagian warga belum langsung bersedia rumahnya diperbaiki karena memiliki kebutuhan atau kondisi tertentu.
"Nah, kemudian, hari ini, kami kembali silaturahmi ke warga dalam rangka 'mandorku wis siap'."
"Ya, sekarang kapan warga ini siap untuk diperbaiki. Kayak Ibu tadi, 'Sik Mas, aku sik berduka (sebentar, Mas, saya masih berduka). Ya 7 hari lagi, 4 bulan lagi', saya tunggu," katanya.
Sementara itu, Iful menjelaskan, proyek Pakuwon Mall Semarang saat ini masih berada pada tahap pematangan lahan.
Karena itu, belum ada pembangunan struktur utama mal di lokasi.
"Sampai saat ini, belum ada pergerakan sama sekali tentang bangunan itu muncul. Jadi ini adalah pematangan lahan," katanya.
Pembangunan struktur utama ditargetkan mulai sekitar April-Mei 2027, setelah proses stabilisasi dan pengujian lahan dilakukan.
Pakuwon menyebut, luas keseluruhan lahan proyek sekitar 18 hektare.
Dari luasan tersebut, area yang diperkirakan masuk ke pengembangan mal sekitar 12 hektare. Sisanya, diperuntukkan sebagai ruang hijau dan pengembangan berikutnya.
"Nah, kapan dimulai? Itu adalah di Mei tahun depan, April atau Mei tahun depan. Ketika ini nanti sudah selesai akan ada uji coba dulu," katanya.
Ia mengatakan pihaknya terbuka terhadap keluhan warga selama proyek berlangsung.
"Intinya adalah kami enggak akan lari ke mana-mana. Kami di depan sini kok. Warga kalau mau komplain, monggo," katanya. (*)