Mengenal Paes Ageng Yogyakarta, Rias Pengantin Keraton yang Penuh Makna
Joko Widiyarso August 13, 2026 02:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Jika berbicara mengenai tata rias pengantin tradisional Jawa, Paes Ageng Yogyakarta menjadi salah satu riasan yang memiliki ciri khas kuat.

Tata rias ini identik dengan gaya pengantin Keraton Yogyakarta. Dahulu, penggunaannya juga sangat terbatas karena hanya diperuntukkan bagi keluarga keraton dalam upacara pernikahan.

Seiring perkembangan zaman, Paes Ageng akhirnya dapat digunakan oleh masyarakat umum. Meski telah mengalami berbagai modifikasi, pakem dan filosofi di balik riasan ini masih dipertahankan.

Bukan hanya mempercantik wajah pengantin, setiap bagian Paes Ageng ternyata memiliki bentuk dan makna tersendiri.

Lantas, seperti apa sejarah dan keunikan Paes Ageng Yogyakarta? Simak penjelasannya berikut ini.

Bagaimana Sejarah Paes Ageng Yogyakarta?

Paes Ageng berkembang dari tradisi tata rias dan busana pernikahan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pada masa lalu, Paes Ageng atau yang dikenal pula dengan sebutan Paes Ageng Kanigaran merupakan tata rias dan busana kebesaran yang digunakan dalam upacara pernikahan keluarga Sultan.

Karena berkaitan dengan lingkungan istana, penggunaannya dahulu tidak terbuka untuk masyarakat umum.

Seiring perubahan zaman, tata rias tersebut kemudian diperbolehkan untuk digunakan masyarakat di luar keraton. Langkah tersebut turut membantu mempertahankan Paes Ageng sebagai salah satu warisan budaya Yogyakarta.

Perlu diluruskan, izin penggunaan Paes Ageng oleh masyarakat umum lebih banyak dikaitkan dengan masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bukan Sri Sultan Hamengku Buwono XI seperti yang tertulis dalam naskah awal.

Apa Ciri Khas Paes Ageng Yogyakarta?

Hal yang paling mudah dikenali dari Paes Ageng adalah bentuk paes berwarna hitam pada dahi pengantin perempuan.

Paes dibuat dengan beberapa lekukan yang memiliki ukuran dan posisi berbeda. Bagian tersebut kemudian dihiasi dengan prada atau warna emas sehingga tampak semakin mencolok.

Selain paes, terdapat pula bentuk alis khas yang disebut alis menjangan ranggah.

Bentuknya terinspirasi dari tanduk rusa. Dalam filosofi tata rias Jawa, bentuk tersebut sering dikaitkan dengan kecerdikan, ketangkasan dan keanggunan.

Apa Makna Setiap Bagian Paes Ageng?

Paes tidak dibuat sekadar untuk mempercantik wajah pengantin.

Terdapat beberapa bagian utama yang dikenal dalam pakem Paes Ageng, yaitu penunggul, pengapit, penitis dan godheg.

1. Penunggul
Penunggul merupakan bagian paes yang berada di tengah dahi dan memiliki ukuran paling besar.

Bagian ini menjadi titik utama pada riasan dahi dan memiliki makna mengenai keluhuran, kehormatan serta harapan agar pengantin mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik.

2. Pengapit
Pengapit berada di sisi kanan dan kiri penunggul.

Posisinya yang mengapit bagian tengah menggambarkan keseimbangan dalam kehidupan. Dalam konteks pernikahan, hal ini dapat dimaknai sebagai harapan agar pasangan mampu saling melengkapi.

3. Penitis
Penitis berada di bagian samping dahi dan menjadi bagian dari rangkaian bentuk paes.

Bagian ini juga memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan ketepatan dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.

4. Godheg
Godheg berada di bagian bawah paes dan mengarah ke area cambang.

Godheg tidak hanya menjadi bagian dari bentuk riasan, tetapi juga memiliki makna mengenai kebijaksanaan dan pengingat agar seseorang tidak melupakan asal-usulnya.

Mengapa Paes Ageng Menggunakan Warna Hitam dan Emas?

Warna hitam pada paes berasal dari bahan yang secara tradisional disebut pidih, yaitu bahan khusus yang digunakan untuk membentuk cengkorongan paes.

Sementara itu, bagian berwarna emas atau prada memberikan kesan mewah sekaligus mempertegas bentuk paes.

Dalam perkembangannya, teknik dan bahan yang digunakan perias dapat menyesuaikan kebutuhan, terutama untuk mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan kulit pengantin.

Apa Saja Perhiasan dalam Paes Ageng?

Paes Ageng tidak hanya berkaitan dengan tata rias wajah. Busana dan perhiasan yang dikenakan juga menjadi bagian penting.

Salah satunya adalah cunduk mentul, yaitu hiasan berbentuk bunga atau ornamen yang dipasang di atas sanggul.

Jumlah cunduk mentul biasanya dibuat ganjil. Dalam berbagai penafsiran tradisi Jawa, jumlah tersebut memiliki makna filosofis tertentu.

Misalnya, lima cunduk mentul sering dikaitkan dengan lima Rukun Islam, sedangkan tujuh dikaitkan dengan pitulungan atau pertolongan.

Penggunaan jumlah cunduk mentul sendiri dapat mengikuti pakem dan konteks busana yang dikenakan.

Selain itu, terdapat berbagai perhiasan lain seperti kalung pethon, kelat bahu dan gelang kana.

Mengapa Pengantin Paes Ageng Menggunakan Kain Dodot?

Salah satu bagian yang membuat Paes Ageng mudah dikenali adalah penggunaan kain dodot atau kampuh.

Kain tersebut memiliki ukuran besar dan dililitkan pada tubuh pengantin dengan tata cara tertentu.

Motif yang digunakan juga tidak sembarangan. Beberapa motif batik yang dapat ditemukan dalam busana pengantin tradisional keraton memiliki filosofi tersendiri.

Misalnya, motif Semen Rama sering dikaitkan dengan ajaran kepemimpinan Asta Brata, sedangkan motif Truntum memiliki kaitan dengan simbol cinta kasih.

Apa Fungsi Ronce Melati dalam Paes Ageng?

Rangkaian bunga melati juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata rias pengantin Jawa.

Pada Paes Ageng, melati dapat dirangkai dan ditempatkan di sekitar sanggul hingga menjuntai ke bagian dada.

Bunga melati secara umum erat dengan simbol kesucian dan keharuman nama baik.

Selain melati, rangkaian bunga juga dapat dipadukan dengan bunga mawar dan kantil sesuai dengan pakem busana yang digunakan.

Apa yang Membuat Paes Ageng Berbeda dari Paes Solo?

Meskipun sama-sama berasal dari tradisi keraton Jawa, Paes Ageng Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri.

Salah satu perbedaan yang mudah terlihat terdapat pada bentuk cengkorongan paes dan tata busana yang mengikutinya.

Paes Ageng Yogyakarta memiliki bentuk yang lebih khas dengan ujung yang tegas dan runcing. Sementara itu, tata rias pengantin gaya Surakarta memiliki pakem dan karakter bentuk yang berbeda.

Perbedaan tersebut menjadi bagian dari identitas budaya masing-masing keraton setelah perkembangan tradisi Mataram terbagi ke dalam Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Paes Ageng masih digunakan hingga sekarang, terutama oleh masyarakat yang ingin menggunakan konsep pernikahan adat Jawa.

Dalam perkembangannya, riasan tradisional ini juga dapat dipadukan dengan sentuhan modern.

Perias dapat menyesuaikan beberapa bagian seperti penggunaan kosmetik modern tanpa menghilangkan ciri utama Paes Ageng.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus berhenti pada bentuk masa lalu. Paes Ageng tetap dapat mengikuti perkembangan zaman selama identitas dan makna utama yang terkandung di dalamnya tetap dijaga.

(MG ABIL PRAMUDYA)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.