Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin buka suara soal polemik konten selebgram Fahira Almira yang membandingkan diagnosis tiga dokter di Indonesia dengan dokter di Malaysia terkait pengakuannya mengidap usus buntu.
Budi menyesalkan narasi yang berkembang karena dinilai berpotensi mendiskreditkan kemampuan dokter Indonesia. Ia menegaskan kompetensi dokter dalam negeri tidak kalah dengan dokter di luar negeri.
"Kalau saya bilang nomor satu, dokter-dokter kita nggak kalah lah sama dokter Indonesia," kata Budi kepada detikcom, Kamis (13/8/2026).
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan media sosial sebagai rujukan untuk memastikan diagnosis penyakit.
"Kalau ada penyakit, bahasnya jangan di sosial media. Kan harus benar-benar dicek di RS, apakah itu benar atau nggak," ujarnya menanyakan kebenaran informasi yang disebar.
Menurut Budi, pemerintah juga terus melengkapi fasilitas dan peralatan kesehatan agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang optimal di dalam negeri.
"Dokter-dokter kita nggak kalah dengan yang di luar negeri. Alat-alatnya saja kita lengkapin," katanya.
Menkes soal Dugaan Endorse RS Penang
Konten Fahira juga disorot karena mencantumkan nama rumah sakit di Penang dan mengajak masyarakat mencari seperti yang dilakukannya.
Menkes menilai promosi dengan cara yang berpotensi menyudutkan layanan kesehatan Indonesia tidak tepat jika memang benar merupakan bagian dari .
"Tidak pantas endorse dilakukan seperti itu," tegasnya.
Dalam konten yang viral, Fahira mengaku mendapat diagnosis usus buntu dari tiga rumah sakit di Indonesia. Namun, saat memeriksakan diri ke Penang, Malaysia, ia mengaku dinyatakan tidak mengalami usus buntu.
Pengalaman tersebut kemudian dibandingkan dengan pelayanan medis di Indonesia dan memicu perdebatan di media sosial. Sejumlah pihak mempertanyakan diagnosis dokter Indonesia, sementara tenaga medis menilai kondisi klinis pasien tidak dapat dinilai hanya dari potongan cerita di media sosial.
Sorotan juga muncul terkait dugaan promosi rumah sakit di Penang. Sejumlah warganet bahkan meminta Kemenkes menginvestigasi apakah konten tersebut merupakan pengalaman pribadi atau bagian dari iklan.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai adanya kerja sama komersial atau endorsement antara Fahira dan rumah sakit di Penang.
"Coba @kemenkes_ri @bgsadiki investigasi terkait postingan seperti ini, apakah asli atau memang hanya iklan dari RS di Malaysia. Kalau hanya iklan, harusnya dari Kementerian bisa memberikan protes dengan negative campaign seperti ini," komentar salah satu warganet.
"Dibayar berapa endorsenya? How much did you pay for this black campaign?" timpal yang lain.





