TRIBUNJOGJA.COM - Tidak ada batasan dalam menggunakan bahasa untuk berkarya, termasuk dalam menulis lagu.
Penulis memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi bahasa untuk menulis keseluruhan lirik hingga judul lagunya.
Biasanya, dalam menulis lagu, penulis menggunakan teknik metafora atau pemakaian kata yang tidak menjelaskan arti sebenarnya, melainkan arti kiasan sesuai konteks.
Penulis dapat menceritakan sebuah lagu dengan perumpamaan objek alam, makanan, minuman, tempat, bahkan nama bencana alam.
Berikut adalah lagu-lagu yang menggunakan nama bencana alam sebagai perumpamaannya:
Hericane merujuk pada bencana hurricane atau badai tropis.
Namun, lagu ini tidak menceritakan badai sungguhan, melainkan seseorang yang kehadirannya terasa seperti badai dalam kehidupan.
Istilah “hericane” sendiri merupakan permainan kata dari her dan hurricane, menggambarkan perempuan yang begitu kuat pengaruhnya hingga mampu mengacaukan hidup seseorang, tetapi sekaligus sulit untuk dihindari.
Jadi, badai dalam lagu ini menjadi metafora untuk seseorang yang membawa intensitas, kekacauan, sekaligus daya tarik yang besar.
Tsunami merujuk pada bencana tsunami.
Namun, lagu ini tidak menjelaskan tsunami, melainkan perasaan yang datang begitu besar dan sulit dikendalikan.
Seolah tsunami yang tiba-tiba menghantam dan menyapu apa pun yang ada di jalannya, emosi yang dirasakan dalam lagu ini juga terasa begitu kuat.
Saking kuatnya, hingga membuat seseorang kehilangan pertahanan dan kendali atas dirinya sendiri.
Tsunami kemudian menjadi metafora untuk perasaan yang terlalu besar untuk dibendung, bahkan ketika kedatangannya mungkin membawa kehancuran.
Hurricane merujuk pada bencana badai tropis.
Namun, lagu ini tidak menceritakan badai sungguhan, melainkan hubungan yang penuh kekacauan dan perubahan emosi.
Hubungan tersebut digambarkan seperti hurricane yang datang dengan cepat, mengubah keadaan, lalu meninggalkan kekacauan setelahnya.
Badai dalam lagu ini menjadi metafora akan hubungan yang intens, tidak stabil, dan sulit diprediksi, terutama ketika perasaan terhadap seseorang membuat kita tidak tahu apakah harus bertahan atau pergi.
Earthquake merujuk pada bencana gempa bumi.
Namun, lagu ini tidak menceritakan gempa bumi sungguhan, melainkan seseorang yang mampu mengguncang kehidupan dan perasaan orang lain.
Seperti gempa yang dapat meruntuhkan sesuatu yang sebelumnya kokoh dalam hitungan detik, kehadiran orang tersebut juga membuat kehidupan yang awalnya terasa stabil menjadi berubah.
Gempa dalam lagu ini menjadi metafora untuk ketertarikan atau perasaan yang begitu kuat hingga terasa mampu mengguncang seluruh dunia seseorang.
Tornado merujuk pada bencana yang disebabkan angin tornado.
Namun, lagu ini tidak menceritakan bencana tornado sungguhan, melainkan sosok perempuan yang memiliki daya tarik sekaligus sifat yang destruktif.
Ia digambarkan seperti tornado yang datang dengan kuat, menarik seseorang ke dalam pusarannya, kemudian meninggalkan kerusakan.
Bencana tornado menjadi metafora untuk seseorang yang memikat tetapi berbahaya bagi orang yang terlanjur jatuh hati, terutama karena ia mampu membuat orang lain kehilangan kendali.
Avalanche merujuk pada bencana longsoran salju.
Namun, lagu ini tidak menceritakan bencana longsoran salju sungguhan, melainkan hubungan yang perlahan-lahan runtuh akibat berbagai masalah dan beban yang terus menumpuk.
Seperti salju yang awalnya terlihat tenang lalu berubah menjadi longsoran besar ketika keseimbangannya hilang, masalah dalam hubungan juga dapat semakin besar hingga akhirnya tidak dapat ditahan lagi.
Avalanche menjadi metafora untuk hubungan yang hancur karena beban emosional yang terus menumpuk hingga akhirnya runtuh sekaligus.
Flood merujuk pada bencana banjir.
Namun, lagu ini tidak menceritakan banjir sungguhan, melainkan keadaan ketika seseorang menghadapi masalah yang terasa semakin besar dan mengancam untuk menenggelamkannya.
Air yang terus naik menggambarkan tekanan dan kesulitan yang semakin sulit dihindari, ditambah keseluruhan lagu juga membawa nuansa tentang mencari pertolongan dan harapan di tengah keadaan tersebut.
Pada lagu ini, banjir menjadi metafora untuk permasalahan hidup yang terasa sangat berat, tetapi tetap dihadapi dengan harapan untuk menemukan tempat bertahan.
Dari 7 lagu di atas, Tribunners dapat menyimpulkan bahwa nama bencana dapat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang besar dan membawa ‘kerusakan’.
(MG Hasna Aulia Syafitri)