TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Di tengah riuh rendah barisan pakaian adat dan rias warna-warni yang memadati pelataran GOR Malinau Utara, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, ada satu sudut yang tak henti-hentinya menyedot perhatian warga.
Senyum sumringah anak-anak kelas 4, 5, dan 6 dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Falah Malinau Seberang, tampak begitu percaya diri melangkah, dibalut gaun, dan atribut unik yang tak biasa.
Siapa sangka, busana yang anggun meliuk saat diterpa angin pagi itu lahir dari tumpukan barang yang tak lagi terpakai.
Plastik, limbah kemasan, hingga barang bekas disulap menjadi kostum karnaval yang unik dan sarat pesan lingkungan.
Di belakang barisan cilik yang tampil memesona tersebut, ada dua sosok guru yang tak berhenti merapikan lipatan baju dan membenahi atribut anak didiknya: Yeyen dan Ayu.
Dengan telaten, kedua pendidik di madrasah ini memastikan tiap detail riasan dan busana terpasang sempurna sebelum rombongan dilepas dari titik start.
"Persiapannya kurang lebih tiga minggu," tutur Yeyen, sembari tersenyum di tengah kesibukan mendampingi anak didiknya, Kamis (13/8/2026).
Baca juga: Ribuan Peserta Meriahkan Karnaval Budaya Malinau Utara, 6 Etnis Bersatu Rayakan HUT ke-81 RI
Usaha tiga minggu tersebut bukanlah proses yang instan.
Terlebih, karya ini tidak dibeli dari toko rentalan atau memesan pada penjahit profesional.
Selama hampir satu bulan, Yeyen dan Ayu bersama para siswa meluangkan waktu untuk memotong, memilah, dan merangkai bahan-bahan daur ulang menjadi helai-helai busana yang megah.
Ayu menceritakan, keberanian menampilkan karya daur ulang ini berawal dari ruang kelas melalui kegiatan kokurikuler sekolah.
Di MI Al Falah Malinau Seberang, para siswa diajak untuk tidak hanya melihat sampah sebagai barang buangan, melainkan sebagai media berekspresi dan mengasah kreativitas.
"Ini dari barang-barang bekas, bagian dari program kokurikuler desainer baju karnaval di sekolah kami," kata Ayu penuh kebanggaan.
Sentuhan riasan di wajah polos para siswa, paduan warna-warni limbah yang disusun rapi, hingga derap langkah mantap anak-anak madrasah ini menjadi cerita hangat di balik kemeriahan acara.
Bahwa dengan ketekunan dua orang guru dan usaha tiga minggu tanpa lelah, barang bekas pun bisa disulap menjadi karya yang memikat hati siapa saja yang memandangnya.
(*)
Penulis: Mohammad Supri