SRIPOKU.COM, PALEMBANG- Gubernur Sumatera Selatan Herman, Deru menegaskan pemerintah bersama seluruh pihak terkait terus melakukan upaya maksimal untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat di sejumlah wilayah Sumsel.
Deru mengatakan, kondisi asap akibat karhutla mulai terasa dan masuk ke beberapa wilayah. Pemerintah Provinsi Sumsel terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta Kementerian Kehutanan untuk memperkuat penanganan.
"Soal karhutla, asap kan sudah mulai pekat masuk beberapa wilayah. Itu saya tayangkan terus di story pribadi saya. Kita juga tidak berhenti, baik melibatkan pemerintah kabupaten/kota maupun Kementerian Kehutanan," kata Deru saat berada di DPRD Provinsi Sumsel, Kamis (13/8/2026).
Menurut Deru, pemerintah juga telah merencanakan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya mengatasi kondisi kemarau yang semakin kering.
Namun, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi awan. Tidak semua awan memiliki kandungan air yang cukup untuk dilakukan penyemaian.
"Persoalannya, teknologi ini mengandalkan sumber air. Artinya, awan itu tidak semuanya ada kandungan air. Ketika ada awan yang memiliki kandungan air, tentu Satgas akan melaporkan untuk dapat dilakukan tindakan," ujarnya.
Deru mengakui pelaksanaan OMC membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, operasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi awan dan potensi keberhasilannya menghasilkan curah hujan.
Terkait meningkatnya luasan karhutla dari Juni ke Juli, Deru menyebut kondisi tersebut tidak terlepas dari kemarau yang semakin kering.
Sejumlah wilayah yang sebelumnya masih memiliki endapan air, genangan maupun lumpur basah kini mulai mengering sehingga lebih mudah terbakar.
"Sekarang kita sadari saat ini kering. El Nino ini kemaraunya adalah kemarau kering. Yang biasanya terdapat endapan, genangan, lumpur basah, saat ini sudah mulai mengering," jelasnya.
Selain mengandalkan penanganan teknis di lapangan, Deru juga mengajak masyarakat untuk berdoa agar hujan segera turun.
Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota dapat melaksanakan salat istisqa sebagai bentuk ikhtiar memohon turunnya hujan.
Deru memastikan keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi tidak menjadi alasan untuk mengurangi penanganan karhutla.
Menurutnya, pemerintah akan tetap mengerahkan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pemadaman.
"Kalau untuk penanganan karhutla, kita unlimited," tegasnya.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan dalam menangani karhutla adalah waktu kejadian yang tidak dapat diprediksi.
Kebakaran dapat terjadi kapan saja, termasuk pada malam hari. Petugas baru dapat bergerak setelah menerima informasi dari sistem pemantauan yang dimiliki pemerintah dan aparat terkait.
"Kadang datangnya tengah malam. Baru bisa dikerjakan setelah kita mendapat informasi dari aplikasi yang kita miliki. Di Polda, Korem untuk mengeksekusi pemadaman itu tidak bisa sendiri," ujarnya.
Karena itu, penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, mulai dari masyarakat, TNI, Polri, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota hingga pemerintah pusat.
Deru menegaskan seluruh pihak dikerahkan secara maksimal untuk mencegah api meluas sekaligus mengurangi dampak asap.
"Semua pihak, pusat, provinsi, kabupaten, kota. Yang paling penting adalah kesehatan. Itu yang paling penting dulu," katanya.
Deru menambahkan, pemerintah tidak ingin masyarakat, khususnya anak-anak, terpapar asap karhutla ketika kualitas udara sudah berada pada level yang membahayakan kesehatan.
"Kita tidak mau anak-anak atau kita semua ini terpapar akibat ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) yang tidak sehat. Tapi selama ini masih di ambang batas yang bisa ditoleransi," ujarnya.
Terkait kemungkinan penghentian sementara kegiatan sekolah maupun perkantoran apabila kualitas udara semakin memburuk, Deru memastikan pemerintah akan mengambil kebijakan berdasarkan kondisi ISPU.
"Kalau ISPU-nya sudah tidak bisa ditoleransi, tentu kita ambil kebijakan," katanya.