Malaysia Mulai Diselimuti Kabut Asap Kiriman dari Kebakaran Hutan RI
GH News August 13, 2026 05:08 PM
Kuala Lumpur -

Kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia perlahan-lahan mulai menyelimuti Malaysia.

Dua negara bagian di Negeri Jiran pun mencatat kualitas udara yang buruk. Semua itu akibat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia.

South China Morning Post (SCMP) melaporkan kabut asap dari Indonesia terbang ke wilayah Malaysia dan menyelimuti langit bagian selatan negara bagian Sarawak pada Senin (10/8).

Kabut asap itu membuat indeks polusi udara (API) di distrik Serian mencapai angka 182. Pemerintah Sarawak telah mendesak masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih menyelimuti. Otoritas Malaysia tak bisa berbuat banyak karena karhutla terjadi di negara tetangga.

"Ini bukan masalah yang terjadi sekali waktu saja. Ini terjadi hampir setiap tahun, dan sebagian besar berasal dari seberang perbatasan karena aktivitas di luar kendali kami," kata Wakil Menteri Perhubungan Sarawak, Henry Harry Jinep.

Distrik Johan Setia di Selangor juga mencatat angka API tertinggi di Semenanjung Malaysia, yakni 152 pada Senin siang. Selangor termasuk yang terdampak parah kabut asap tahun lalu karena karhutla meluas di Sarawak, Kalimantan, dan bagian utara dan tengah Sumatra, Indonesia.

Malaysia menyebut angka API antara 100 hingga 200 sebagai "tidak sehat". Angka di bawah 200 dianggap "sangat tidak sehat" dan biasanya menyebabkan penutupan sekolah dan pembatasan ketat pada aktivitas luar ruangan.

Badan Meteorologi Malaysia pada Minggu memperingatkan bahwa cuaca panas dan curah hujan rendah akan terjadi hingga setidaknya Jumat (14/8) mendatang. Kondisi ini berpotensi memperparah kabut asap di Negeri Jiran.

"Angin selatan dan banyaknya titik panas di negara tetangga berpotensi menyebabkan kabut asap lintas batas dan mengurangi jarak pandang, terutama di selatan Sarawak," demikian pernyataan badan tersebut.

Kabut asap telah menjadi masalah rutin di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Malaysia dan Singapura, karena kedekatan jarak mereka dengan Indonesia.

Kabut asap sudah menjadi masalah endemik sejak tahun 1970-an. Krisis terburuk terjadi pada 1997-1998 dan 2015 ketika puluhan orang meninggal dan ribuan orang di Indonesia, Malaysia, dan Singapura dirawat di rumah sakit akibat masalah pernapasan dan jantung gara-gara kabut asap karhutla.

Malaysia dan Singapura sudah berulang kali menuduh Indonesia lamban dalam menindak kasus karhutla. Karhutla biasanya diakibatkan oleh petani yang membakar lahan mereka untuk mempersiapkan musim tanam. Sementara itu, Indonesia menegaskan petani bukan biang masalah karhutla.

Seperti diketahui, karhutla terjadi di berbagai provinsi Indonesia, termasuk di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang menghanguskan 900 hektare lahan hingga membuat akses wisata ditutup bagi wisatawan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.