SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Gelombang dukungan terhadap penguatan marwah serta tradisi kepemimpinan Nahdlatul Ulama mulai berembus kencang menjelang helatan Muktamar NU ke-35 lewat konsolidasi moral tokoh-tokoh penting.
Langkah strategis itu diambil guna memastikan jajaran Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) diisi oleh figur ulama senior yang memiliki kedalaman ilmu, independensi, serta rekam jejak perjuangan keumatan yang nyata.
Ikhtiar bersama itu dimotori oleh sederet mantan aktivis pemuda yang menilai hadirnya ulama berkapasitas tinggi sangat menentukan arah organisasi ke depan.
Langkah politik moral ini diyakini mampu menjaga integritas struktural maupun kultural jam'iyyah agar tetap berada pada koridor perjuangan para pendiri.
Baca juga: Persiapan Muktamar NU, Jombang Benahi Drainase dan Penerangan
Forum Mantan Ketua Korcab PMII Jawa Timur menyatakan dukungan agar Pengasuh Pondok Pesantren Ammanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, menjadi Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar NU ke-35.
Deklarasi dan dorongan itu disampaikan para mantan Ketua Korcab PMII Jatim di kediaman pribadi Kiai Asep, kawasan Pondok Pesantren Ammanatul Ummah, Kamis (13/8/2026).
Dengan penuh tekad dan keyakinan, para mantan aktivis yang dimotori Imam Nahrawi, Ketua Korcab PMII Jatim periode 1997-1999, menyampaikan bahwa figur Kiai Asep dinilai sangat mumpuni untuk diajukan sebagai AHWA.
“Jadi secara prinsip kami di sini para mantan ketua Korcab mengharapkan dan mendorong Kiai Asep untuk berkenan menjadi AHWA,” kata Imam Nahrawi yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga itu.
Menurut Imam, dukungan itu diberikan karena Kiai Asep memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan NU, pendidikan pesantren, serta perjuangan keumatan.
Kiai Asep juga merupakan putra salah satu muasis NU, KH Abdul Chalim, yang menjadi bagian dari jajaran pendiri Nahdlatul Ulama.
“Kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan kejayaan, mengembalikan kemurnian dan martabat NU, baik secara struktural maupun secara kultural,” ujar Imam.
Ia mengatakan, para mantan Ketua Korcab PMII Jatim merasa memiliki ikatan perjuangan dengan Kiai Asep karena sebagian dari mereka tumbuh dan mendapatkan bimbingan dari lingkungan perjuangan itu.
“Karena kami ini juga lahir dari bawah bimbingan beliau, kami menjadi generasi yang menjaga dan meneruskan perjuangan para muasis,” katanya.
Baca juga: Jangan Ada Suap di Muktamar, KH Asep Dorong Kembalikan Kendali NU ke Ulama
Imam menilai, Kiai Asep memiliki kapasitas keilmuan, profesionalisme, sekaligus pengalaman perjuangan yang membuatnya layak berada di jajaran AHWA.
“Kami sepakat bahwa figur dari Kiai Asep dengan segala potensi besarnya yang sudah terbukti ini, mari bersama-sama kita dorong, kita support supaya beliau bisa menjadi bagian terpenting bersama para kiai-kiai sepuh di jajaran Ahlul Halli Wal Aqdi untuk muktamar,” ujarnya.
Menurutnya, dorongan itu bukan sekadar dukungan personal, tetapi merupakan bagian dari gerakan moral untuk mendorong hadirnya figur yang dinilai mampu menjaga marwah dan arah perjuangan NU.
“Kiai Asep menurut kami sangat layak, sangat pantas dengan segala kapasitas keilmuan dan profesionalismenya serta kapasitas perjuangannya,” tegas Imam.
Ia menambahkan, para mantan Ketua Korcab PMII Jatim akan terus menyuarakan dukungan itu hingga pelaksanaan Muktamar NU ke-35.
“Kita akan terus menyuarakan gerakan moral ini sehingga kita bisa memberikan support untuk beliau,” katanya.
Selain Imam Nahrawi, sejumlah mantan Ketua Korcab PMII Jatim yang hadir dalam pertemuan itu di antaranya Yoyok Zakaria (1999-2000), M. Zainul Aripin (2002-2003), Ahmad Nur Aminudin (2005-2007), Zainuddin (2016-2018), dan Akiedo Zawa (2025-sekarang).
Mereka berharap dukungan terhadap Kiai Asep dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan kepemimpinan NU yang mampu menjaga tradisi, memperkuat perjuangan keumatan, sekaligus menjawab tantangan organisasi ke depan.