Pemilik sebuah warung makan mie di Vietnam menjadi sorotan karena memutuskan untuk tutup. Bukan karena tidak laku, melainkan karena warungnya terlalu viral!
Pemilik usaha kuliner tentunya ingin jualan makanannya laku dan disukai banyak orang. Kepuasan pelanggan tak hanya menggaet lebih banyak pembeli, tetapi juga membantu meningkatkan keuntungan bisnis tersebut.
Namun, bagaimana kondisinya jika usaha kuliner tersebut terlalu ramai atau viral? Apakah hal ini menjadi sebuah kabar baik bagi pengusaha kuliner atau justru menjadi malapetaka?
Seorang pemilik warung usaha mie di Vietnam mengalami kesulitan ketika warung makannya menjadi terlalu viral. Warung Mie Hu Tieu berlokasi di halaman villa kota Ho Chi Min ditutup sementara setelah lonjakan pelanggan secara tiba-tiba membanjiri bisnis yang dikelola oleh sebuah keluarga.
Pemiliknya, Mai Van Liem, mengungkap jika keluarga mereka berhenti melayani pelanggan sejak Selasa pagi. Keputusan tersebut mereka buat usai melihat pelanggan perlu antre 45 menit demi makan di warung mie.
Menurut Mai Van Lie, ada terlalu banyak pelanggan yang datang, sehingga mereka kesulitan melayaninya.
"Saya merasa tidak enak karena membuat mereka menunggu begitu lama," jelasnya.
Karena terlalu ramai, warung makan mie ini memutuskan untuk tutup sementara. Foto: Getty Images/An Pham / VnExpress/Ngoc Ngan
|
Karena lonjakan pelanggan, keluarga ini memutuskan cuti terlebih dahulu. Keputusan ini dibuat karena pemiliknya ingin mencari staff tambahan, membeli mangkuk, sekaligus mengatur ulang area makan, lapor e.vnexpress.net (11/8).
Pemilik restoran ini belum mengumumkan tanggal pembukaan kembali warung mienya.
Liem dan istrinya telah menjual hidangan hu tie atau selama 36 tahun. Hu tie merupakan olahan sup mie asal Vietnam yang memadukan mie beras dengan mie kuning lalu disajikan dengan kuah kaldu biasanya dari babi yang gurih serta beragam topping.
(Gambar hanya ilustrasi) Seperti ini kurang lebih bentuk hidangan mie yang ditawarkan warung tersebut. Foto: Getty Images/An Pham
|
Sebelum membuka warung, mereka menjual mienya melalui gerobak di trotoar dan kebanyakan melayani pelanggan setempat.
Setelah pindah ke halaman vila yang baru dibangun, bisnis kuliner ini langsung mendapat popularitas tidak terduga. Menurut Liem, kerumunan pelanggan mulai muncul sekitar tiga minggu lalu setelah seorang pelanggan mengunggah bisnis ini di TikTok.
Meskipun sudah mendapat popularitas tinggi, pemilik usaha kuliner ini tetap menjualnya di harga sama, yaitu VND30.000 per mangkuk atau sekitar Rp 20,542.
Sebelumnya warung mie ini hanya menjual 50-70 mangkuk sehari dengan tambahan 20 mangkuk di akhir pekan. Namun, semenjak viral, warung makan ini bisa menjual 150-200 mangkuk per hari sampai 250 di hari-hari tertentu.







