Rupanya Ini Cara Su-30SM dan Su-35S Rusia Berduet Buru Sasaran dari Luar Jangkauan Pertahanan Udara
TRIBUNNEWS.COM – Rusia terus mengembangkan konsep operasi udara yang mengandalkan koordinasi antara jet tempur, radar darat, dan pesawat peringatan dini.
Dalam konfliknya dengan Ukraina, satu di antara penerapan taktik operasi udara tersebut melibatkan jet tempur Su-30SM dan Su-35S.
Duet jet tempur Rusia ini dapat memperoleh informasi sasaran dari jaringan sensor sebelum melancarkan serangan dari jarak jauh.
Baca juga: Rusia: Jet MiG-29 Ukraina Jatuh di Odessa Akibat Tembakan Pasukan Sendiri
Menurut laporan RIA Novosti, pendekatan tersebut memungkinkan pesawat Rusia mengurangi paparan terhadap sistem pertahanan udara lawan.
Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas informasi sasaran, kondisi medan tempur, kemampuan peperangan elektronik, dan respons pertahanan udara Ukraina.
Su-35S pada dasarnya dirancang sebagai jet tempur superioritas udara, sementara Su-30SM memiliki kemampuan multirole yang lebih luas.
Su-30SM dapat menjalankan misi udara-ke-udara sekaligus menyerang sasaran darat dan laut.
Konfigurasi dua awak juga memungkinkan pembagian tugas antara pilot dan operator sistem persenjataan atau sensor dalam misi tertentu.
Dalam operasi yang terintegrasi, kedua jenis pesawat tersebut tidak harus bekerja sendirian. Informasi sasaran dapat diperoleh dari radar berbasis darat, pesawat peringatan dini seperti A-50, maupun sensor pesawat lain.
Konsep ini merupakan bagian dari apa yang dikenal sebagai network-centric warfare, ketika berbagai platform berbagi informasi untuk membangun gambaran situasi udara secara lebih menyeluruh.
Dengan informasi tersebut, jet tempur dapat memilih sasaran dan menentukan waktu peluncuran senjata tanpa harus terus-menerus mendekati wilayah yang dilindungi sistem pertahanan udara.
Salah satu persenjataan yang dikaitkan dengan konsep tersebut adalah rudal udara-ke-udara R-37M.
Rudal ini dirancang untuk menyerang sasaran dari jarak jauh dan dapat digunakan terhadap target bernilai tinggi seperti pesawat tempur maupun pesawat pendukung.
Angka jangkauan hingga sekitar 300 kilometer kerap disebut dalam berbagai publikasi Rusia, tetapi jarak efektif dalam kondisi pertempuran dapat berbeda bergantung pada profil penerbangan, ketinggian, kecepatan, karakteristik sasaran, serta kondisi peperangan elektronik.
Penggunaan senjata jarak jauh memberikan keuntungan taktis karena pesawat peluncur dapat berusaha menjaga jarak dari sistem pertahanan udara lawan.
Meski demikian, hal tersebut tidak berarti pesawat otomatis aman. Ukraina memiliki sistem pertahanan udara berlapis dan kemampuan untuk mendeteksi, mengganggu, atau menghindari serangan udara Rusia.
Rusia juga mengembangkan Su-30SM2, versi peningkatan dari Su-30SM.
Modernisasi tersebut mencakup peningkatan avionik, radar, sistem navigasi, peperangan elektronik, serta kompatibilitas dengan persenjataan yang lebih modern.
Salah satu tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan pesawat dalam mendeteksi sasaran dan melaksanakan serangan dari jarak yang lebih jauh.
Pesawat ini juga mendapat peningkatan pada sistem perlindungan diri dan kemampuan membawa berbagai jenis persenjataan.
Dengan demikian, Su-30SM2 dapat memainkan peran sebagai pesawat multirole sekaligus menjadi bagian dari jaringan operasi udara Rusia yang lebih luas.
Selain keluarga Su-30 dan Su-35, Rusia juga mengembangkan penggunaan Su-57 sebagai platform untuk menghadapi sistem pertahanan udara lawan.
Salah satu senjata yang disebut dalam laporan Rusia adalah Kh-58UShKE, rudal anti-radar yang dirancang untuk menyerang sumber emisi radar.
Konsep penggunaannya relatif jelas: pesawat berusaha mendeteksi atau memperoleh informasi mengenai radar lawan, kemudian meluncurkan rudal anti-radar untuk menekan atau menghancurkan sistem tersebut.
Kemampuan seperti ini penting dalam operasi suppression of enemy air defenses (SEAD), karena pertahanan udara yang tetap aktif dapat membatasi ruang gerak pesawat tempur.
Su-57 juga dikembangkan untuk membawa persenjataan serang darat dan memanfaatkan karakteristik low observability.
Namun, klaim bahwa platform tersebut dapat beroperasi tanpa risiko atau menghancurkan pertahanan udara tanpa memasuki zona berbahaya perlu dipandang secara hati-hati.
Penggunaan senjata eksternal menjadi salah satu contoh kompromi tersebut.
Beberapa munisi yang disebut dalam laporan tidak dirancang untuk ditempatkan di ruang senjata internal Su-57. Ketika senjata digantung pada hardpoint eksternal, radar cross-section (RCS) pesawat dapat meningkat dibandingkan konfigurasi senjata internal.
Artinya, kemampuan membawa senjata dalam jumlah atau ukuran tertentu harus diseimbangkan dengan kebutuhan mempertahankan karakteristik low observability.
Kompromi semacam ini merupakan persoalan umum dalam desain dan penggunaan pesawat tempur modern: semakin banyak persenjataan yang dibawa secara eksternal, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap karakteristik siluman.
Perkembangan Su-30SM2, Su-35S, dan Su-57 menunjukkan perubahan penting dalam cara operasi udara modern dilakukan.
Keunggulan sebuah jet tempur tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan manuver atau jumlah rudal yang dibawanya.
Sensor, data link, radar darat, pesawat peringatan dini, peperangan elektronik, dan rudal jarak jauh menjadi bagian dari satu sistem yang saling terhubung.
Bagi Rusia, jaringan tersebut memungkinkan jet tempur berusaha menyerang dari luar jangkauan ancaman tertentu.
Bagi Ukraina, tantangannya adalah mendeteksi pesawat peluncur, mengganggu jaringan sensor Rusia, dan mempertahankan sistem pertahanan udara agar tidak mudah ditekan.
Karena itu, persaingan di udara dalam perang Rusia-Ukraina bukan sekadar duel antara satu jenis jet dengan jet lainnya.
Pertarungan juga berlangsung pada rantai sensor hingga penembak, termasuk siapa yang lebih cepat memperoleh informasi, menentukan sasaran, meluncurkan senjata, dan menghindari serangan balasan.