Suku Sawang Tak Cukup Jadi Objek Penelitian, Butuh Pembangunan yang Nyata
Asmadi Pandapotan Siregar August 13, 2026 11:37 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Persoalan yang dihadapi masyarakat Suku Sawang tidak akan selesai jika hanya berhenti pada penelitian dan dokumentasi budaya. Selama puluhan tahun, masyarakat yang dikenal sebagai orang laut itu terus menjadi objek kajian akademisi maupun pemerintah, tetapi perubahan signifikan terhadap kehidupan mereka dinilai belum terjadi.

Penulis sejarah di Belitung, Wahyu Kurniawan mengatakan, keberadaan Suku Sawang telah tercatat dalam laporan-laporan kolonial Belanda sejak abad ke-19. Sejak saat itu, masyarakat Suku Sawang terus dikaji dari berbagai perspektif, mulai dari kebudayaan, ekonomi hingga antropologi.

Namun, berbagai pembahasan tersebut belum sepenuhnya menghasilkan perubahan yang berarti bagi kehidupan masyarakat Suku Sawang.

Ia menjelaskan, dalam catatan sejarah kolonial, masyarakat Suku Sawang atau orang laut pernah dikaitkan dengan aktivitas perompakan yang didalangi elite pribumi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sejak dahulu mereka berada dalam posisi yang rentan dieksploitasi oleh kelompok yang memiliki kekuasaan, modal, maupun akses pendidikan.

Menurut Wahyu, masyarakat Suku Sawang lebih banyak mengandalkan kemampuan fisik dan pengetahuan tradisional dalam menjalani kehidupan di laut. Kondisi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk ketika industri pertambangan timah berkembang di Belitung.

Mereka dimanfaatkan sebagai buruh dan pengangkut barang di pelabuhan-pelabuhan timah. Perempuan-perempuan mereka juga bekerja sebagai penjahit karung timah.

Seiring perkembangan zaman, kehidupan masyarakat Suku Sawang perlahan bergeser dari laut menuju daratan. Namun, perpindahan tersebut dinilai tidak sepenuhnya membawa perubahan kesejahteraan.

Wahyu mengatakan, selama puluhan tahun masyarakat Suku Sawang terus menjadi bahan kajian akademisi maupun pemerintah. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut belum diikuti dengan program pembangunan yang mampu meningkatkan kualitas hidup mereka.

Secara pribadi saya merasa terusik karena saya juga menjadi bagian dari orang-orang yang menulis tentang mereka, tetapi belum mampu memberikan perubahan yang signifikan bagi kehidupan masyarakat Suku Sawang.

Ia menilai pemerintah sebenarnya telah memiliki perhatian terhadap masyarakat Suku Sawang. Namun, menurutnya, upaya tersebut perlu diperkuat melalui kebijakan yang lebih konkret.

Kalau pemerintah maupun kalangan akademisi benar-benar serius ingin mengangkat harkat dan martabat masyarakat Suku Sawang, seharusnya tidak berhenti pada pencatatan atau penelitian saja.

Harus dilanjutkan dengan perencanaan pembangunan, baik pembangunan sumber daya manusianya maupun sarana dan prasarana yang mereka butuhkan.

Dalam analisisnya, Wahyu juga menyoroti hilangnya sejumlah pengetahuan tradisional masyarakat Suku Sawang sebagai dampak perubahan pola hidup.

Salah satu contoh yang ditemukannya adalah kemampuan membuat perahu yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan orang laut.

Saat ini mereka sudah tidak lagi mampu membuat perahu sendiri. Perahu yang digunakan sekarang kebanyakan merupakan bantuan atau dibuat oleh pengrajin kapal.

Pengetahuan tradisional itu perlahan hilang karena kehidupan mereka sudah banyak berubah menjadi buruh. 

Ia pun mengingatkan agar persoalan Suku Sawang tidak hanya dipahami sebagai isu pelestarian budaya semata.

Menurut Wahyu, masyarakat Suku Sawang justru sedang menghadapi persoalan sosial yang lebih kompleks karena hingga kini belum pernah benar-benar berada dalam posisi yang menguntungkan sepanjang perjalanan sejarahnya.

Pada masa kerajaan mereka dikaitkan dengan aktivitas bajak laut, pada masa kolonial masuk dalam sistem perburuhan, sedangkan pada masa kemerdekaan posisi mereka semakin tidak jelas.

Karena itu saya melihat masyarakat Suku Sawang saat ini sedang menuju titik nadir karena belum menunjukkan perubahan kehidupan yang lebih baik dibandingkan era-era sebelumnya. 

Ia menambahkan, pembangunan masyarakat Suku Sawang memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan masyarakat pada umumnya.

Pembangunan tidak bisa disamakan dengan masyarakat lain. Menurut saya harus dimulai dari pembangunan mental dan karakter, kemudian pendidikan, peningkatan kapasitas, serta penyediaan sarana yang benar-benar mereka butuhkan agar memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat lainnya. (posbelitung.co/dede suhendar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.