TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Astronaut NASA Mike Fincke mengakhiri pengabdiannya setelah 30 tahun bekerja di badan antariksa Amerika Serikat.
Selama kariernya, Fincke menjalani empat misi luar angkasa, menghabiskan 549 hari di orbit, dan melakukan sembilan kali spacewalk dengan total waktu hampir 49 jam.
Fincke (59) mengumumkan pensiun dari NASA, Rabu (12/8/2026).
Masa pengabdiannya mencakup periode penting dalam perkembangan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), program pesawat ulang-alik, hingga persiapan misi eksplorasi Bulan melalui program Artemis.
“Setelah tepat 30 tahun, saya meninggalkan NASA, tetapi saya tetap berkomitmen penuh terhadap pekerjaan eksplorasi,” kata Fincke dalam pernyataan NASA dikutip dari UPI, Kamis (13/8/2026).
“NASA memberi saya kesempatan luar biasa untuk bekerja bersama orang-orang hebat, menerbangkan dan membantu mengembangkan wahana antariksa, serta berkontribusi pada Stasiun Luar Angkasa Internasional sejak masa-masa awal hingga memimpin di orbit,” ujarnya.
Baca juga: Artemis II kembali ke Bumi, empat astronaut mendarat di Samudra Pasifik
Fincke bergabung dengan NASA pada 1996 dan pertama kali terbang ke luar angkasa pada 2004.
Latar belakangnya sebagai insinyur membuat perannya di NASA tidak hanya berkaitan dengan penerbangan.
Ia juga terlibat dalam pengembangan wahana antariksa, pengujian penerbangan, serta persiapan dan operasional misi.
Pada masa awal pembangunan ISS, Fincke turut menguji dan mengintegrasikan sejumlah modul stasiun sebelum diluncurkan.
ISS sendiri kemudian menjadi salah satu proyek kerja sama internasional terbesar di bidang eksplorasi dan penelitian antariksa, dengan astronaut dari berbagai negara bergantian menjalankan misi di orbit rendah Bumi.
Pengalaman Fincke mencakup berbagai generasi wahana antariksa. Ia menjadi spesialis misi sekaligus operator lengan robotik dalam STS-134, yang tercatat sebagai penerbangan terakhir pesawat ulang-alik Endeavour.
Salah Satu Astronaut dengan Waktu Terlama di Luar Angkasa
Dengan 549 hari di luar angkasa, Fincke menempati posisi keempat dalam daftar astronaut NASA dengan akumulasi waktu terlama di luar angkasa.
Durasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kariernya berlangsung dalam misi jangka panjang, terutama untuk mendukung penelitian dan operasional ISS.
Selama empat penerbangan, ia juga melakukan sembilan kali spacewalk. Aktivitas di luar stasiun membutuhkan persiapan panjang dan dilakukan untuk berbagai pekerjaan, termasuk pemeliharaan serta pemasangan perangkat di luar ISS.
Administrator NASA Jared Isaacman menyebut Fincke sebagai salah satu astronaut yang berperan dalam berbagai tahap sejarah NASA.
“Tidak banyak orang yang memiliki kesempatan membentuk begitu banyak babak dalam sejarah NASA seperti Mike Fincke,” kata Isaacman.
“Sepanjang kariernya yang luar biasa, Mike mengabdi kepada negara sebagai pilot, insinyur, astronaut, dan mentor,” ujarnya.
Menurut Isaacman, pengalaman Fincke dalam misi jangka panjang di ISS serta keterlibatannya dalam persiapan generasi Artemis turut membantu NASA menghadapi fase eksplorasi berikutnya.
Beralih ke Era Artemis
Pensiun Fincke terjadi ketika NASA sedang memasuki babak baru dalam eksplorasi manusia ke luar orbit rendah Bumi.
Setelah program pesawat ulang-alik berakhir pada 2011, ISS menjadi pusat aktivitas manusia NASA di luar Bumi.
Kini, perhatian NASA semakin diarahkan kembali ke Bulan melalui program Artemis, yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan eksplorasi jangka panjang sebelum misi manusia ke Mars.
Fincke turut membantu mempersiapkan generasi astronaut yang akan terlibat dalam era tersebut.
Dengan demikian, pengabdiannya mencakup tiga fase penting: pembangunan dan pengoperasian ISS, berakhirnya era pesawat ulang-alik, serta persiapan menuju eksplorasi Bulan dan tujuan yang lebih jauh.
Pensiun Fincke juga terjadi setelah sebuah peristiwa medis yang membuat misi Crew-11 kembali ke Bumi lebih awal dari jadwal pada Januari 2026.
Fincke kemudian mengungkapkan bahwa dirinya merupakan astronaut yang mengalami kondisi medis tersebut.
Peristiwa itu menjadi kali pertama NASA memulangkan sebuah kru dari ISS lebih awal karena alasan medis.
Fincke tidak mengungkapkan secara rinci kondisi yang dialaminya. Ia hanya mengatakan perlu kembali ke Bumi untuk menjalani pemeriksaan menggunakan teknologi pencitraan medis yang tidak tersedia di ISS.
Kembalinya kru lebih awal menunjukkan salah satu tantangan dalam penerbangan antariksa jangka panjang. Di luar Bumi, fasilitas medis yang tersedia jauh lebih terbatas dibandingkan di darat sehingga kondisi kesehatan astronaut menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan misi.
Mantan astronaut NASA Scott Kelly, yang pernah menjadi teman sekelas sekaligus rekan Fincke, turut memberikan penghormatan atas kariernya.
“Mike Fincke adalah salah satu orang generasi awal di stasiun luar angkasa. Dia ada di sana sejak awal hingga keseluruhan proses. Karier yang luar biasa. Saya salut kepadamu,” kata Kelly.
Bagi NASA, kepergian Fincke bukan sekadar berakhirnya karier seorang astronaut.
Tiga dekade pengabdiannya mencerminkan perubahan besar dalam program luar angkasa Amerika Serikat, dari pembangunan ISS dan era space shuttle hingga persiapan eksplorasi Bulan.
Fincke meninggalkan NASA dengan catatan 549 hari di luar angkasa dan sembilan spacewalk. Namun, seperti yang ditegaskannya, pensiun dari NASA tidak berarti berakhirnya komitmennya terhadap eksplorasi luar angkasa.