Negara Teluk Mulai Akomodasi Iran demi Hindari Risiko Perang di Selat Hormuz
Laksmi Anindita August 14, 2026 12:44 AM

TRIBUNWOW.COM - Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi sekutu Amerika Serikat dinilai mulai mengakomodasi pengaruh Iran di Selat Hormuz demi menghindari risiko eskalasi militer yang lebih besar.

Perubahan sikap tersebut muncul karena konflik di kawasan berpotensi mengancam langsung infrastruktur energi negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada kelancaran ekspor minyak dan gas melalui Selat Hormuz.

Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak dilaporkan melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun, aktivitas pelayaran kini turun tajam setelah serangkaian serangan Iran mengganggu lalu lintas kapal.

Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah melalui Selat Hormuz hanya sekitar 2,2 juta barel per hari. Angka tersebut turun drastis dibandingkan sekitar 8,5 juta barel per hari yang tercatat sebulan sebelumnya.

Negara-negara Teluk sebenarnya telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz dengan mencari jalur alternatif untuk mengirimkan energi.

Arab Saudi menggunakan jaringan pipa menuju Laut Merah, sedangkan Uni Emirat Arab mengandalkan jalur darat dan sejumlah rute pelayaran lainnya.

Namun, jalur alternatif tersebut juga dinilai belum sepenuhnya aman dari ancaman kelompok yang bersekutu dengan Iran.

Houthi dilaporkan menyerang pengiriman minyak Saudi. Sejumlah kapal energi Uni Emirat Arab juga dilaporkan terdampak serangan rudal dan drone.

Adnoc menyebut empat kapalnya terdampak serangan dalam satu pekan terakhir. Secara keseluruhan, perusahaan tersebut menyatakan terdapat 16 kapal yang terdampak sejak perang dimulai.

Iran juga memperingatkan bahwa fasilitas energi di negara-negara Teluk dapat menjadi sasaran apabila Amerika Serikat kembali meningkatkan eskalasi.

Kondisi tersebut membuat negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit di tengah ketidakjelasan strategi Amerika Serikat dalam menghadapi konflik dengan Iran.

Dalam situasi tersebut, negara-negara Teluk dinilai lebih memilih mengakomodasi sebagian tuntutan Iran daripada mengambil risiko konflik yang lebih besar dan mengancam infrastruktur energi mereka.

Selat Hormuz menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan gas serta meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasar energi global. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.