Iran Siap Perpanjang Perang hingga Masa Jabatan Trump Berakhir
Laksmi Anindita August 14, 2026 12:44 AM

TRIBUNWOW.COM - Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Mohammad Reza Naqdi, menyatakan Iran siap menghadapi konfrontasi bersenjata dengan Amerika Serikat (AS) hingga masa jabatan Presiden Donald Trump berakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan Naqdi dalam wawancara dengan media PBS pada Rabu (12/8/2026). Ia menyebut Iran perlu membangun daya tangkal agar negara tersebut tidak mudah mendapat tekanan dari negara-negara Barat.

Naqdi mengatakan Iran dapat menggunakan strategi perang berkepanjangan untuk menguras kekuatan lawan sekaligus meningkatkan daya tangkal negaranya.

"Kita harus mencapai daya tangkal agar musuh tidak pernah berani menyerang kita, sehingga kita bisa hidup dengan aman," ujar Naqdi, dikutip dari CNN.

Ia menambahkan bahwa salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah memperpanjang konflik sehingga pihak lain mempertimbangkan konsekuensi jika hendak menyerang Iran.

"Salah satu caranya adalah dengan memperpanjang perang ini hingga masa jabatan presiden berikutnya dan menguras kekuatan lawan, sehingga jika ada pihak lain yang ingin menyerang Iran, mereka akan tahu bahwa ada harga yang harus dibayar," tambahnya.

Pernyataan Naqdi muncul di tengah ketidakpastian proses perundingan damai antara Iran dan AS. Pakistan sebelumnya sempat mengumumkan adanya kesepakatan perpanjangan gencatan senjata, tetapi Teheran membantah adanya kesepakatan tersebut.

Iran juga disebut masih mempertahankan kebijakan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz hingga tuntutannya kepada AS terpenuhi.

Naqdi Klaim Iran Menguasai Situasi

Dalam wawancara yang sama, Naqdi mengklaim Iran saat ini memegang kendali atas situasi di lapangan. Ia juga menilai kebijakan militer AS tidak memiliki arah yang jelas.

"Tentu saja, kemenangan ada di pihak kami. Washington sedang menjalankan perang tanpa strategi. Setiap dua atau tiga hari, mereka mengumumkan tujuan baru, termasuk invasi ke Pulau Kharg dan pembukaan kembali Selat Hormuz," ujar Naqdi.

Ia juga membantah kekhawatiran mengenai ketersediaan persenjataan Iran, khususnya peluru kendali. Menurut Naqdi, industri pertahanan Iran mampu memproduksi rudal dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang digunakan dalam konflik.

Naqdi bahkan memperingatkan bahwa kepentingan ekonomi AS di berbagai negara dapat menjadi sasaran tekanan jika konflik terus berlangsung. Pernyataan tersebut merupakan klaim dan ancaman dari pihak Iran yang belum dapat diverifikasi secara independen.

Evaluasi Konflik Iran dan AS

Naqdi juga menilai performa militer AS dalam konflik tersebut lebih lemah dibandingkan perkiraan sebelumnya. Ia menggunakan penilaian tersebut untuk mendukung klaim bahwa strategi Iran mampu memberikan tekanan terhadap Washington.

Ketegangan Iran dan AS sendiri masih berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk meredakan konflik. Perkembangan mengenai gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu utama dalam hubungan kedua negara.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.