TRIBUNNEWS.COM - Sri Sultan Hamengkubuwono IX merupakan tokoh penting dalam sejarah Gerakan Pramuka Indonesia.
Sosok yang juga dikenal sebagai Raja Kesultanan Yogyakarta ini memiliki perjalanan panjang dalam dunia kepanduan.
Kiprahnya dalam gerakan kepanduan telah dimulai sejak usia muda dan terus berkembang hingga tingkat nasional.
Ia menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam pembentukan Gerakan Pramuka pada 1961.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga dipercaya menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sejak 1961 hingga 1974.
Atas jasa dan pengabdiannya, ia kemudian dikukuhkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
Lantas, bagaimana perjalanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX hingga mendapat gelar tersebut?
Mengutip laman pramukajakarta.id, Sri Sultan Hamengkubuwono IX lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912 dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun.
Ia merupakan putra Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah.
Sejak usia muda, Sri Sultan Hamengkubuwono IX telah aktif dalam kegiatan kepanduan.
Keterlibatannya tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi kiprahnya dalam mengembangkan gerakan kepanduan di Indonesia.
Baca juga: Mengenal Baden Powell, Bapak Pramuka Dunia dan Pencetus Gerakan Kepanduan
Pendidikan dasarnya ditempuh di Yogyakarta. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke sejumlah kota hingga akhirnya menempuh studi di Universitas Leiden, Belanda.
Selama masa pendidikannya, minat Sri Sultan Hamengkubuwono IX terhadap kegiatan kepanduan terus berkembang.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia terlibat dalam pembentukan Gerakan Pramuka di Indonesia.
Perjalanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX di dunia kepanduan membawanya menjadi salah satu tokoh penting dalam pembentukan Gerakan Pramuka Indonesia.
Pada 1961, pemerintah berupaya menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang sebelumnya berkembang di Indonesia.
Presiden Soekarno kemudian melibatkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam proses pembentukan Gerakan Pramuka.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX turut berkontribusi dalam penyusunan dasar-dasar organisasi hingga Gerakan Pramuka lahir sebagai wadah pendidikan kepanduan di Indonesia.
Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mencetuskan nama Pramuka.
Nama tersebut merupakan singkatan dari Praja Muda Karana, yang memiliki arti rakyat muda yang suka berkarya.
Pada 14 Agustus 1961, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dilantik sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Ia kemudian memimpin organisasi tersebut selama empat periode berturut-turut, yakni dari 1961 hingga 1974.
Baca juga: 10 Puisi Hari Pramuka 14 Agustus, Penuh Semangat dan Cinta Tanah Air
Di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Gerakan Pramuka mengalami perkembangan yang signifikan.
Ia menjadi pelopor berbagai kegiatan dan program kepramukaan yang turut memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda.
Beberapa program yang dikaitkan dengan kiprahnya antara lain Wirakarya dan Perkemahan Satya Dharma.
Ia juga mendorong pengembangan nilai-nilai kepramukaan yang menjadi pedoman bagi anggota Pramuka.
Dedikasinya terhadap dunia kepanduan tidak hanya mendapat pengakuan di Indonesia.
Pada 1973, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menerima World Organization of the Scout Movement Bronze Wolf Award.
Penghargaan tersebut merupakan penghargaan tertinggi dalam gerakan kepanduan dunia yang diberikan kepada individu atas jasa luar biasa dalam pengembangan kepramukaan.
Jasa Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam perkembangan Gerakan Pramuka membuatnya mendapat penghormatan khusus dari organisasi tersebut.
Dalam Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka pada 1988, Sri Sultan Hamengkubuwono IX secara resmi dikukuhkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia melalui Surat Keputusan Nomor 10/MUNAS/88.
Pengukuhan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas dedikasinya dalam membangun dan mengembangkan Gerakan Pramuka serta pendidikan karakter bagi generasi muda Indonesia.
Selain dikenal sebagai tokoh kepramukaan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Menteri Pertahanan, hingga Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1973-1978.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX wafat pada 2 Oktober 1988 di Washington D.C., Amerika Serikat.
Meskipun telah meninggal dunia, kiprah dan pengabdiannya dalam dunia kepramukaan tetap dikenang hingga saat ini.
Bagi anggota Pramuka Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak hanya dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam pembentukan organisasi.
Ia juga menjadi teladan dalam kepemimpinan dan pengabdian.
Sikap disiplin serta kecintaannya terhadap bangsa menjadi nilai yang terus diwariskan kepada generasi muda.
Warisan nilai yang ditinggalkannya menjadi bagian penting dalam perjalanan Gerakan Pramuka.
Karena itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX tetap dikenang sebagai Bapak Pramuka Indonesia sekaligus salah satu tokoh bangsa yang memberikan inspirasi bagi generasi muda.
(Tribunnews.com/Nurkhasanah)