BANGKAPOS.COM, BANGKA — Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan salah satu upaya penting dalam memenuhi kebutuhan gizi bayi dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Keberhasilan pemberian ASI Eksklusif tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan ibu untuk menyusui, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, kondisi fisik dan psikologis ibu, serta dukungan keluarga dan tenaga kesehatan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung keberhasilan menyusui adalah melalui perawatan payudara pada masa nifas.
Perawatan payudara merupakan salah satu tindakan yang dapat membantu ibu menjaga kebersihan dan kesehatan payudara serta mempersiapkan ibu dalam proses menyusui.
Pentingnya pemberian ASI Eksklusif dan perawatan payudara tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Tanjung Gunung, Kabupaten Bangka Tengah yang dilakukan oleh Dosen Kebidanan Poltekkes Pangkalpinang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu nifas dalam melakukan perawatan payudara sebagai salah satu upaya mendukung kelancaran pemberian ASI.
Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan melalui pemberian materi melalui video edukasi, leaflet dan buku tentang perawatan payudara masa nifas oleh Nandini Parahita Supraba, M.Kes selaku ketua pengabdian masyarakat bersama tim.
Selain ibu nifas, kegiatan juga melibatkan kader kesehatan sebagai salah satu unsur penting dalam memberikan pendampingan dan edukasi kepada ibu menyusui di masyarakat.
Tim pengabdian masyarakat menjelaskan bahwa masa nifas merupakan periode penting bagi ibu untuk beradaptasi setelah persalinan, termasuk dalam menjalankan proses menyusui.
Pada periode ini, ibu dapat mengalami berbagai masalah dalam menyusui, seperti payudara terasa penuh, puting lecet, bendungan ASI, maupun kekhawatiran bahwa ASI yang dihasilkan tidak mencukupi kebutuhan bayi.
Perawatan payudara dilakukan dengan memperhatikan kebersihan tangan, kondisi payudara, serta teknik pemijatan yang dilakukan secara lembut.
Ibu juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung langkah-langkah perawatan payudara dengan didampingi oleh tim pengabdian dan kader kesehatan.
Selain perawatan payudara, ibu juga diberikan pemahaman bahwa produksi dan pengeluaran ASI dipengaruhi oleh proses hormonal.
Hormon prolaktin berperan dalam produksi ASI, sedangkan oksitosin berperan dalam refleks pengeluaran ASI atau let-down reflex. Hisapan bayi yang efektif pada payudara menjadi salah satu rangsangan penting dalam proses tersebut.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Tanjung Gunung, diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu nifas mengenai perawatan payudara serta meningkatnya kepercayaan diri ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan cakupan ASI Eksklusif di Desa Tanjung Gunung, Kabupaten Bangka Tengah.
Dengan adanya edukasi yang berkelanjutan dan dukungan dari kader, keluarga serta tenaga kesehatan, ibu menyusui diharapkan mampu memberikan ASI Eksklusif secara optimal hingga bayi berusia enam bulan.
Rawat payudara, lancarkan menyusui, dukung ASI Eksklusif, dan bersama-sama kita wujudkan generasi sehat dari Desa Tanjung Gunung.” (*/E0)