TRIBUNNEWS.COM - Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan.
Terkadang, seseorang baru benar-benar menyadari kekeliruannya setelah waktu berlalu, lalu muncul keinginan untuk memperbaiki diri dan kembali mendekat kepada Allah SWT.
Karena itu, kesempatan untuk bertobat sebelum ajal datang merupakan nikmat yang sangat berharga.
Islam mengajarkan umatnya untuk tidak menunda-nunda taubat, sebab manusia tidak pernah mengetahui kapan kehidupan akan berakhir.
Allah SWT berfirman, “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS An-Nur: 31).
Dalam hadis disebutkan doa Rasulullah SAW yang memohon ampunan Allah SWT dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, berikut doanya.
Allahumma ahyinī mā kānatil-ḥayātu khairan lī, wa tawaffanī idzā kānatil-wafātu khairan lī.
Artinya: “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Doa agar Tidak Larut dalam Kesedihan dan Bersandar Hanya kepada Allah
Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa il lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin.
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A'raf: 23)
Setiap manusia tentu tidak luput dari kesalahan dan dosa. Namun, Islam tidak mengajarkan manusia untuk terus terjebak dalam kesalahan masa lalu.
Selama nyawa masih ada dan kesempatan untuk kembali kepada Allah SWT masih terbuka, pintu taubat senantiasa menjadi jalan untuk memperbaiki diri.
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjadi manusia yang baik bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan memiliki kesadaran untuk segera kembali kepada Allah SWT setelah melakukan dosa.
Allah SWT bahkan memperkenalkan diri-Nya sebagai At-Tawwab, yakni Zat Yang Maha Penerima Taubat.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS Al-Baqarah: 222)
Karena itu, taubat seharusnya tidak hanya berhenti pada ucapan istighfar. Ada kesungguhan hati dan perubahan perilaku yang perlu menyertainya.
Langkah pertama dalam taubat adalah menyadari bahwa perbuatan yang dilakukan merupakan kesalahan. Seseorang perlu mengakui dosanya di hadapan Allah SWT dan menumbuhkan penyesalan dalam hati.
Penyesalan menjadi tanda bahwa seseorang benar-benar ingin meninggalkan masa lalunya. Taubat yang hanya diucapkan dengan lisan, sementara hati tidak merasa bersalah dan masih menganggap ringan dosa yang dilakukan, belum menunjukkan kesungguhan untuk berubah.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS At-Tahrim: 8)
Taubat nasuha berarti taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar ucapan yang diulang tanpa keinginan untuk memperbaiki diri.
Taubat juga harus diikuti dengan meninggalkan perbuatan yang menjadi sumber dosa. Tidak cukup seseorang mengucapkan “astaghfirullah”, tetapi setelah itu kembali melakukan kemaksiatan tanpa berusaha menghindarinya.
Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, barulah ia mengatakan, ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.’” (QS An-Nisa: 18)
Ayat tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak menunda-nunda taubat. Kesempatan untuk kembali kepada Allah tidak boleh dianggap remeh karena manusia tidak pernah mengetahui kapan ajal akan datang.
Salah satu bentuk kesungguhan dalam bertaubat adalah memiliki tekad untuk tidak kembali melakukan dosa yang sama.
Seseorang mungkin pernah jatuh kembali ke dalam kesalahan setelah bertaubat. Hal itu tidak berarti ia harus berhenti memohon ampun kepada Allah.
Selama ia benar-benar menyesal dan terus berusaha meninggalkan dosa tersebut, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.
Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS Az-Zumar: 53)
Ayat tersebut memberikan harapan besar bagi setiap hamba yang ingin memperbaiki diri. Kesalahan masa lalu bukan alasan untuk berhenti mendekat kepada Allah.
Taubat yang tulus seharusnya membawa perubahan dalam kehidupan. Setelah meninggalkan dosa, seseorang dapat mengisinya dengan berbagai amal kebaikan seperti salat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, membantu sesama, dan memperbanyak istighfar.
Allah SWT berfirman: “Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menerangkan kebenaran, maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya.” (QS Al-Baqarah: 160)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa taubat tidak hanya berkaitan dengan meninggalkan kesalahan, tetapi juga melakukan perbaikan.
Istighfar menjadi salah satu amalan yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk memohon ampun kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri merupakan manusia yang paling mulia dan terjaga dari dosa, tetapi beliau tetap banyak beristighfar.
Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR Bukhari)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kadang-kadang ada sesuatu yang menyelimuti hatiku, dan sungguh aku memohon ampun kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR Muslim).
Hal tersebut menunjukkan bahwa istighfar sebaiknya menjadi bagian dari kebiasaan seorang Muslim, bukan hanya dilakukan ketika merasa telah melakukan dosa besar.
Salah satu bentuk kesungguhan seseorang setelah menyadari kesalahan adalah melaksanakan salat taubat.
Dalam hadis Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW menjelaskan tentang seorang hamba yang melakukan dosa kemudian bersuci, melaksanakan salat, dan memohon ampun kepada Allah.
Salat taubat dapat menjadi momentum untuk berhenti sejenak, mengakui kelemahan diri, dan memohon pertolongan Allah agar diberi kekuatan untuk tidak kembali kepada kesalahan yang sama.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi setelah melakukan dosa adalah merasa bahwa dirinya sudah terlalu jauh untuk mendapatkan ampunan Allah.
Padahal, Allah SWT justru melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya.
Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS Az-Zumar: 53)
Selama seseorang masih memiliki kesempatan untuk bertaubat, jangan biarkan dosa masa lalu membuatnya menjauh dari Allah. Jadikan rasa bersalah sebagai dorongan untuk kembali, bukan alasan untuk menyerah.
Pada akhirnya, taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, tetapi sebuah perjalanan untuk kembali kepada Allah SWT.
Ada penyesalan yang tumbuh dalam hati, dosa yang ditinggalkan, tekad untuk tidak mengulanginya, serta usaha memperbaiki diri melalui amal saleh.
Tidak ada manusia yang dapat memastikan apakah dirinya telah benar-benar terbebas dari dosa. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah terus berusaha, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, dan memohon agar Allah SWT menerima taubat yang dilakukan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)