TRIBUNMANADO.CO.ID - Seorang wanita berpakaian Kabasaran disapa Presiden RI Prabowo Subianto saat membawakan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Dialah Thelma Humena. Thelma adalah penerima program BSPS atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya.
Program yang juga dikenal sebagai bedah rumah ini adalah bantuan dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperbaiki rumah tersebut tidak layak menjadi hunian yang aman dan sehat.
Sapaan Prabowo itu viral di Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Para anggota DPRD Manado beserta undangan yang menonton sidang itu via streaming di ruang rapat paripurna kantor DPRD Manado, sontak bertepuk tangan saat wajah Prabowo dan Thelma muncul di layar.
Saya mengunjungi rumah Thelma di Kelurahan Malendeng, Lingkungan 2, setengah jam setelah rapat usai.
Di sana ada Faisal Maruf, suami dari Thelma.
Ia tengah berada di bagian belakang rumah.
Faisal mengaku tahu sang istri disapa Presiden hanya dari WA Kelurahan.
Ia tak menyaksikan langsung peristiwa besar bagi keluarganya itu.
"Saya tak punya televisi," kata dia.
Keluarga Faisal dan Thelma memang kategori tak mampu.
Thelma sehari-harinya hanya ngojek.
Sedang Faisal hanya jualan bensin.
"Ojeknya bukan online, tapi hanya di sekeliling rumah," katanya.
Rumah bantuan pemerintah itu kini tengah dikerjakan.
Bagian depan rumah sudah jadi.
Gayanya minimalis, dengan sebuah pintu, tiga jendela, dengan dinding berwarna kuning.
Bagian dalam tengah dikerjakan.
Tampak dinding yang sudah berdiri, namun belum diplester.
Beberapa lembar kayu tergeletak di lantai.
Ada dua kamar.
Sebuah tangga dan seorang pekerja tampak di kamar kedua.
Ia menuturkan, sebelumnya rumah itu tak begini.
"Sebelumnya rumah ini hanya tripleks dengan tiangnya yang sudah lapuk dimakan rayap, lantainya juga hanya tanah," kata dia.
Sebut dia, keluarga senantiasa dilanda ketakutan bahwa rumah itu suatu saat akan roboh.
Ketakutan memuncak saat hujan disertai tiupan angin kencang.
"Kami selalu ketakutan, apalagi tiangnya juga pernah roboh," katanya.
Rumah itu juga mendatangkan rasa minder bagi anak anaknya.
Pergaulan mereka pun terganggu.
"Mereka merasa risih setiap ada teman yang datang," katanya.
Faisal dan istrinya banting tulang demi beroleh uang untuk memperbaiki rumah.
Sembari itu mereka berlutut, berdoa.
"Kami selalu berdoa agar nantinya akan dapat memperbaiki rumah ini, dan syukurlah Allah menjawab doa kami melalui pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," katanya.
Ia menuturkan, kondisi rumah kali ini bak langit dan bumi dengan rumah lama.
Mereka kini tak perlu khawatir lagi.
"Uang juga bisa sepenuhnya untuk menyekolahkan anak kami," kata dia.
Terkait keberangkatan sang istri ke Jakarta, ia mengaku, sebelumnya beberapa kali didatangi oleh Setneg.
Mereka bercakap cakap dengan keluarga dan setelah itu mengambil video.
"Istri saya berangkat tanggal 12 Agustus ke Jakarta," kata dia.
Ia kerap berhubungan dengan sang istri via ponsel.
Komunikasi terakhir pada Jumat pagi.
"Saat itu ia katakan siap siap ke gedung Nusantara," ujar dia.
Ia mengaku senang dan bangga, rumahnya dapat diperbaiki dan sang istri bisa ke Jakarta dan disapa Presiden.
Dirinya berharap ada lebih banyak lagi warga miskin yang bisa direhab rumahnya.
"Saya mengucapkan terima kasih pada Pak Presiden RI Prabowo Subianto, Pak Hashim Djojohadikusumo, Pak Ara, Gubernur Sulut Yulius Selvanus dan Walikota Manado Andrei Angouw serta Wawali Richard Sualang," katanya.
Pala lingkungan 2 Malendeng, Venan Repi menuturkan, pihaknya mengajukan keluarga Thelma setelah ada permintaan dari Kementerian.
"Waktu itu ada dari Kementerian yang meminta data rumah yang tidak layak," katanya.
Ungkap dia, dalam proses selanjutnya, keluarga Thelma terpilih karena memenuhi syarat.
Menurut dia, keluarga Thelma memang layak menerima bantuan tersebut.
(TribunManado.co.id/Art)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK