TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DI Yogyakarta mengusulkan Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin untuk menjadi Pahlawan Pers Nasional.
Ketua PWI DIY, Hudono, menyebut, usulan itu menjadi bagian dari rangkaian Peringatan 30 Tahun atas berpulangnya wartawan Udin.
"Udin itu menjadi simbol perjuangan pers. Karena, beliau gugur dalam menjalankan tugasnya," ucapnya, di Makam Wartawan Udin, Jumat (14/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Hudono turut menceritakan meninggalnya Udin yang bermula saat menjalankan tugas atau meliput terkait kebijakan pemerintahan secara kritis kala itu.
Dari situ, Udin mengalami hal yang buruk berupa tindak penganiayaan pada 13 Agustus 1996 dan berpulang pada 16 Agustus 1996.
"Dia adalah pejuang kemerdekaan pers dan kami harapkan, teman-teman generasi yang sekarang atau wartawan sekarang bisa meneladani nilai-nilai perjuangan beliau," papar dia.
Dalam rangka itu, pihaknya melihat perlu ada prasasti atau tetenger. Di mana, prasasti itu sendiri sudah dibuat di kantor PWI DIY dengan meresmikan ruangan atau aula Fuad Muhammad Syafruddin.
"Tadi pagi itu sudah kami resmikan, kemudian sekarang berlanjut ke makam Mas Udin untuk kami berikan tetenger," ujar Hudono.
Adapun tetenger itu terdapat nama bahwa Fuad Muhammad Syafruddin sebagai Pahlawan Pers Nasional.
Kendati demikian, secara formal pihaknya juga mendapat dukungan dari Dinas Sosial maupun Dinas Komunikasi dan Informatika DIY.
Dua organisasi Pemerintah DIY itu telah mendukung pemberian tetenger terhadap Udin, namun dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh PWI DIY.
"Saya sangat berterima kasih. Karena, keluarga Udin sangat mendukung. Kemudian Mas Fauzan (adik wartawan almarhum Udin) sangat mendukung," tuturnya.
Upaya yang dilakukan oleh PWI DIY ini diharapkan dapat terwujud, mengingat kala itu sangat jarang wartawan bersikap kritis dalam kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.
"Saya kira ini bisa menjadi momentum bagi teman-teman untuk merefleksikan diri bagaimana wartawan dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik selalu berpedoman kepada kepentingan rakyat," harap dia.
Istri almarhum Udin, Marsiyem, hanya bisa menyampaikan rasa terima kasih kepada PWI DIY yang sudah bersikap bulat mengusulkan Udin sebagai Pahlawan Pers Nasional.
"Ya setuju (dengan PWI yang mengusulkan Udin sebagai Pahlawan Pers Nasional). Mas Udin semasa hidupnya memang gigih," jelasnya.
Adik Udin, Nur Fauzan, menyampaikan terima kasih dan selalu mendukung usaha PWI DIY dan Indonesia terhadap usulan Udin sebagai Pahlawan Pers Nasional.
"Apadaya kita cuma rakyat kecil. Jadi, kita cuma bisa mendukung dan mendoakan. Semoga dilancarkan. Semuanya mendapat berkah dari Allah," tandasnya. (nei)