TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Di era serba digital, guru dituntut tak hanya menguasai materi, tapi juga melek teknologi.
Rabu (12/8/2026), Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM) menggelar pelatihan pembuatan storybook berbasis kecerdasan buatan (AI) di SMPN 29 Makassar.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini bagian dari Program Kemitraan Makassar (PKM) PNBP FBS UNM.
Tujuannya, mengajak guru-guru berinovasi. Menciptakan bahan ajar yang lebih hidup, visual, dan tentunya kekinian.
Bukan Sekadar Teknis, Ini Soal Masa Depan Pembelajaran
Peserta pelatihan tak hanya guru Bahasa Inggris. Ada pula guru Bahasa Indonesia dan beberapa mata pelajaran lain.
Menariknya, ini menunjukkan bahwa AI punya potensi lintas disiplin.
Semua mata pelajaran bisa ‘disulap’ jadi lebih menarik dengan storybook digital.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 29 Makassar, H. Tasdin, S.Kom., M.M., membuka langsung acara.
Dalam sambutannya, ia tak bisa menyembunyikan antusiasmenya.
“AI bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Guru harus bisa memanfaatkannya. Apalagi untuk bikin bahan ajar yang kreatif,” tegasnya di hadapan para peserta.
H. Tasdin juga menyoroti pentingnya pelatihan ini sebagai titik awal.
Bukan hanya satu kali lalu selesai. Ia berharap ini menjadi pintu masuk kerja sama berkelanjutan antara SMPN 29 dan FBS UNM.
“Kami ingin ini jadi awal dari kolaborasi panjang. Banyak program lain yang bisa digarap bareng demi peningkatan kualitas guru dan pembelajaran,” harapnya.
AI Bukan Pengganti Guru, Tapi Alat Kreativitas
Sementara itu, Ketua Tim PKM FBS UNM, Muhammad Rifqi Syamsuddin, S.Pd., M.TESOL, menegaskan bahwa perkembangan AI harus disikapi guru sebagai peluang, bukan ancaman.
"AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi menjadi alat yang dapat membantu guru berkreasi dan mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik. Melalui pelatihan ini, kami ingin memberikan pengalaman praktis kepada para guru agar mereka tidak hanya mengenal AI secara teori, tetapi juga mampu menghasilkan produk pembelajaran yang dapat langsung dimanfaatkan di kelas," ujarnya dengan nada optimistis.
Menurutnya, guru tetap menjadi aktor utama dalam proses belajar mengajar.
AI hanyalah 'asisten' yang bisa membantu menuangkan ide-ide kreatif menjadi media nyata. Dengan begitu, pembelajaran tak lagi monoton, tapi penuh warna dan imajinasi.
Guru Diajak Jadi Kreator, Bukan Sekadar Pengguna
Dari pantauan tribun timur dalam pelatihan tersebut, guru tak cuma duduk manis menerima teori. Mereka langsung praktik.
Mulai dari mengembangkan ide cerita, menyusun alur, menciptakan karakter, hingga menghasilkan ilustrasi memakai AI.
Hasilnya? Storybook yang siap pakai sebagai media ajar. Pembelajaran jadi lebih visual dan sesuai dengan karakteristik siswa zaman sekarang.
Untuk pelajaran Bahasa Inggris, storybook ini bisa diasah untuk reading, vocabulary, speaking, dan writing.
Guru Bahasa Indonesia pun bisa mengadaptasi. Cerita rakyat atau puisi bisa dikemas ulang dengan ilustrasi AI.
Pembelajaran jadi lebih kontekstual dan tak membosankan.
Tetap Kritis dan Bertanggung Jawab
Satu hal yang ditekankan dalam pelatihan: AI hanyalah alat. Guru tetap pemegang kendali.
Mereka yang menentukan tujuan pembelajaran, memilih materi, dan mengevaluasi konten.
“Gunakan AI secara kritis dan kreatif. Jangan asal pakai. Pastikan kontennya tepat untuk siswa,” ucap Muhammad Rifqi Syamsuddin.
Dengan pendekatan ini, guru tak sekadar menjadi pengguna teknologi. Mereka menjadi kreator yang bijak.
Kolaborasi untuk Pendidikan Lebih Baik
Program ini adalah bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam meningkatkan kompetensi pendidik bahwa inovasi pembelajaran bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membuat storybook.
"Pelatihan di SMPN 29 Makassar diharapkan bukan sekadar menghasilkan produk. Tapi juga melahirkan semangat kolaborasi dan inovasi jangka panjang. Guru yang kreatif, siswa yang antusias, dan pendidikan yang terus bergerak maju," tutup Muhammad Rifqi Syamsuddin. (*)