TRIBUNMANADO.CO.ID - Bina Remaja Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dalam sepekan mulai 16-22 Agustus 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Keluaran 6:1-12.
Tema perenungan adalah Akulah, Tuhan Allahmu yang Membebaskan Kamu.
Khotbah:
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, kita menyebut kasih Allah sebagai kasih yang tidak ada bandingannya, terutama karena kasih Allah bukan hanya menyelamatkan, namun kasih itu juga berpanjang sabar terhadap yang diselamatkan-Nya.
Allah disebut berulang kali sebagai Allah yang berpanjang sabar. Mazmur 103:8 mengatakan, "Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia."
Kepada siapa Ia terutama berpanjang sabar? Kepada umat yang diselamatkan-Nya.
Allah menyatakan janji-Nya kepada orang Israel dalam keadaan mereka yang paling mengenaskan. Mereka sementara
diperbudak di Mesir dan telah mengalaminya untuk waktu yang sangat lama, generasi ke generasi.
Namun, bukan hanya janji-Nya, Allah juga menyatakan panjang sabar-Nya kepada mereka.
Janji dan sifat-Nya itu didasarkan pada nama Diri Allah yang diperkenalkan-Nya kepada orang Israel melalui Musa.
"Akulah Tuhan, Yahweh" adalah nama yang diperkenalkan-Nya kepada Musa (Keluaran 3:14-16) saat Musa naik ke gunung Horeb.
Nama Yahweh dipandang sangat kudus sehingga tidak disebutkan secara langsung oleh orang Israel.
Saat menemukan nama ini, mereka akan melafalkan nama itu sebagai Adonai. Israel sangat menjaga nama ini dalam penghayatan mereka untuk tidak menyebut nama Tuhan Allah secara sembarangan (Keluaran 20:7).
Nama Yahweh diperkenalkan di sini, namun terdapat nama lainnya yang telah diperkenalkan Allah, bahkan jauh ke belakang sampai kepada nenek moyang Israel, yakni kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.
Nama itu adalah Allah Yang Mahakuasa, El-shaddai. Bukanlah tanpa maksud Allah memperkenalkan nama Diri-Nya kepada
orang Israel, sebab melalui hal itu, Allah hendak menegaskan bahwa Ia memegang janji yang telah diucapkan-Nya kepada nenek moyang Israel dan janji itu akan tetap berlaku bagi keturunan Israel.
Allah telah berjanji kepada Abraham, Ishak, dan Yakub untuk membawa mereka dan keturunan mereka ke tanah
perjanjian, dan Allah pasti menggenapi janji-Nya itu.
Kemahakuasaan-Nya telah dinyatakan dahulu kala demi menggenapkan janji-Nya, maka kini pun di tengah erang orang
Israel yang sementara menderita dalam perbudakan, kemahakuasaan Allah akan dinyatakan. Allah tidak pernah
melupakan janji-Nya.
Kemahakuasaan Allah dibahasakan sebagai "tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat" yang diarahkan-Nya kepada orang Mesir.
Allah berkenan mengangkat orang Israel menjadi umat-Nya dan Dia menjadi Allah mereka dan bila demikian maka Ia sendiri akan membebaskan mereka dari kerja paksa orang Mesir, lalu membawa mereka ke negeri yang dengan sumpah telah dijanjikan-Nya kepada nenek myang Israel.
Satu kata yang penting di sini muncul dalam ayat 5, di mana Allah berjanji menebus mereka. Kata ini terutama menunjuk pada perbuatan Allah bagi Israel yang disebutnya sebagai "anak-Nya yang sulung" (Keluaran 4:22).
Saat Dia berkata "Akulah Tuhan" maka itu berarti Dia akan melakukan janji-Nya dan akan tetap melakukannya.
Namun di sinilah panjang sabar Allah dinyatakan kepada umat yang hendak dibebaskan-Nya itu.
Saat Musa menyampaikan nama dan janji Allah kepada mereka, respons mereka adalah tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu.
Perjalanan Israel sendiri adalah perjalanan penuh ketidakpercayaan, sungut-sungut, dan pemberontakan di hadapan Allah yang membebaskan dan menyelamatkan mereka.
Apakah Allah membatalkan janji-Nya?
Tidak sama sekali. Ia berpanjang sabar kepada mereka dan panjang sabar-Nya itu adalah bagian dari janji yang Ia kerjakan
bagi urnat-Nya.
Musa yang sadar akan sifat Israel yang suka memberontak itu dan sadar akan kekerasan hati Firaun, dikuatkan
oleh Tuhan agar tetap menjalankan penugasannya bagi pembebasan Israel.
Tuhan mengutus Musa, juga Harun, kepada Israel umat-Nya dan kepada Firaun, raja Mesir, dengan membawa
perintah supaya orang Israel dibawa keluar dari Mesir. Bukankah Allah itu luar biasa di dalam janji-Nya dan panjang sabar-Nya?
Hal ini untuk menegaskan kepada Israel bahwa Dialah Tuhan, yang ada dan tetap ada, Allah Yang Mahakuasa, di mana tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Dia.
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, sadarkah kita bahwa di hadapan Allah yang berjanji,
berpanjang sabar, dan yang telah menyelamatkan kita lewat karya salib Tuhan Yesus itu, kita pun banyak kali memberontak terhadap-Nya?
Alih-alih menjadikan Dia sebagai pusat kehidupan kita, prioritas dan segala-galanya bagi kita, kita justru membelakangi Dia dan melakukan apa yang tidak berkenan kepada-Nya.
Lihatlah keadaan banyak remaja hari-hari ini dengan segala tingkah laku yang tidak mencerminkan hidup di dalam
Tuhan dan buah dari hidup yang telah diselamatkan.
Hal itu pun berlaku pada para pembina remaja dan semua orang Kristen, karena kita banyak kali tidak menunjukkan perubahan dan transformasi hidup sesuai kehendak Allah. Kita menjadi sama dengan dunia.
Sesungguhnya, bila kita masih ada sebagaimana kita ada sampai saat ini, itu karena Allah tidak membatalkan janji-Nya dan
Ia berpanjang sabar terhadap kita.
Namun demikian, janganlah kita menyalahgunakan panjang sabar Allah untuk menjadi kesempatan bagi kita terus melakukan dosa dan menunda-nunda untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.
Kita dipanggil untuk melihat besar-Nya kasih Allah itu, yang telah menggenapkan janji-Nya bagi kita melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus demi keselamatan kita.
Ayo, pembina dan remaja Kristen, akuilah Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat kehidupan kita, lalu hidup menyenangkan hati-Nya. Mereka yang bersedia taat, takkan kekurangan sesuatu apa pun yang baik, sebab Ia Allah yang menepati janji-Nya. Maukah kita? Amin.
Sumber: KPRS GMIM edisi Agustus-September 2026