KDM Wacanakan Tes Urine Siswa, SMAN 2 Cirebon : Sudah Rutin Tiap Tahun
taufik ismail August 14, 2026 08:11 PM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Wacana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM untuk melakukan tes urine terhadap seluruh siswa SMA/SMK se-Jawa Barat ternyata bukan hal baru bagi SMAN 2 Cirebon.

Sekolah tersebut mengaku sudah rutin menggelar tes urine hampir setiap tahun, bahkan pemeriksaan tidak hanya menyasar siswa kelas tertentu, tapi seluruh peserta didik hingga guru.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Cirebon, Deddy Setiawan mengatakan, pihak sekolah sangat terbuka apabila program yang diwacanakan KDM tersebut nantinya benar-benar diterapkan.

“Insya Allah kami sangat terbuka dan siap untuk melaksanakan program itu, dan kami sangat mendukung sekali. Karena ini salah satu pencegahan kepada seluruh peserta didik ke hal-hal yang lebih parah,” ujar Deddy saat ditemui di kantornya, Jumat (14/8/2026).

Deddy menjelaskan, selama ini SMAN 2 Cirebon telah bekerja sama dengan BNN Kota Cirebon untuk melakukan pemeriksaan urine terhadap para siswa.

Menurutnya, pemeriksaan tersebut menjadi salah satu upaya sekolah untuk melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba maupun obat-obatan di kalangan pelajar.

“Beberapa tahun kemarin, dan hampir setiap tahun, kami sudah melakukan hal itu. Karena kami sudah bekerja sama dengan pihak BNN Kota Cirebon untuk melakukan tes urine,” ucapnya.

Tak hanya siswa yang hadir di sekolah saat pemeriksaan, pihak sekolah juga memastikan siswa yang berhalangan hadir tetap menjalani pemeriksaan.

“Kalaupun ada yang sempat tidak hadir, kami akan antar sampai ke sana, ke pihak BNN di Taman Cipto,” ucap dia.

Semua Siswa hingga Guru Ikut Tes

Deddy mengungkapkan, pelaksanaan tes urine di SMAN 2 Cirebon sebelumnya tidak hanya diperuntukkan bagi siswa kelas X.

Seluruh siswa dari berbagai jenjang turut dilibatkan dalam pemeriksaan tersebut. Bahkan, para guru dan tenaga pendidik juga ikut menjalani tes urine.

“Sudah. Setiap tahun kami lakukan, bahkan semua siswa, bukan hanya kelas 10, tapi semua siswa SMAN 2 Cirebon. Bahkan bapak dan ibu guru pun dilibatkan dalam kegiatan tersebut,” katanya.

Karena sudah memiliki pengalaman melakukan pemeriksaan tersebut, pihak sekolah mengaku tidak keberatan jika nantinya tes urine kembali digelar sebagai bagian dari program Pemprov Jawa Barat.

Deddy mengatakan sekolah siap mengikuti program tersebut apabila ada arahan resmi dari Dinas Pendidikan Jawa Barat.

“Kalau untuk pendanaannya ada, secepat mungkin. Namun, kalau ada program dari Pak Kadik (Kepala Dinas Pendidikan), kita sangat mendukung program tersebut. Kita terbuka dan siap untuk mengikuti itu,” ujarnya.

Ada Siswa Keringat Dingin, Tak Bisa Kencing hingga 4 Jam

Meski tes urine bertujuan sebagai langkah pencegahan, Deddy mengakui ada sebagian kecil siswa yang merasa khawatir ketika harus menjalani pemeriksaan.

Rasa gugup tersebut bahkan pernah membuat seorang siswa mengalami keringat dingin dan kesulitan mengeluarkan urine.

Deddy mengatakan, pihak sekolah pernah menunggu seorang siswa hingga sekitar empat jam karena tidak kunjung bisa memberikan sampel urine.

“Memang sempat terjadi ketika anak mau tes urine, keringat dinginnya keluar. Bahkan itu kan pernah harus mengeluarkan urinnya, ada yang sampai kita tunggu sampai 4 jam tidak kencing-kencing, karena deg-degan,” ucap Deddy.

Meski demikian, sekolah tidak memaksa ataupun memperlakukan siswa tersebut secara berbeda.

Pihak sekolah tetap menunggu hingga siswa bersangkutan berhasil memberikan sampel urine.

“Tapi kami tetap menunggu sampai berhasil, sehingga tidak ada yang merasa dibeda-bedakan, semuanya sama seperti itu,” ujar dia.

Hasil Positif Tak Langsung Dicap Narkoba

Hal lain yang menjadi perhatian sekolah adalah bagaimana menyikapi apabila hasil pemeriksaan urine menunjukkan hasil positif.

Deddy menegaskan, hasil positif tidak serta-merta membuat siswa langsung dicap sebagai pengguna narkoba.

Menurutnya, ada sejumlah obat yang dikonsumsi seseorang yang berpotensi memengaruhi hasil pemeriksaan urine.

Karena itu, pihak sekolah akan melakukan komunikasi dan klarifikasi terlebih dahulu bersama siswa dan orang tuanya.

“Kami ketika ada hal-hal yang memang dikatakan positif, kami tidak langsung nge-judge bahwa ini narkoba atau apa pun. Tapi diadakan sebuah komunikasi yang baik,” katanya.

Deddy menambahkan, klarifikasi dilakukan secara tertutup dengan melibatkan orang tua siswa.

“Positifnya hasil itu kan bukan berarti narkoba. Mungkin habis minum obat sakit kepala atau dan sebagainya, kami konfirmasi dan kami undang orang tuanya juga secara tertutup, tidak terbuka,” ujarnya.

Sekolah juga dapat meminta bukti obat yang sebelumnya dikonsumsi siswa untuk memastikan penyebab hasil pemeriksaan tersebut.

“Nah, itu kami minta resepnya mana, foto obatnya juga,” ujar Deddy.

Ia menegaskan, pihak sekolah bersama BNN juga menjaga kerahasiaan identitas siswa yang menjalani pemeriksaan.

Menurutnya, nama siswa tidak akan dipublikasikan kepada pihak lain.

Belum Ada Jadwal Tes Urine Program KDM

Sementara itu, terkait wacana tes urine seluruh siswa SMA/SMK se-Jawa Barat, Deddy mengatakan hingga kini belum menerima informasi mengenai jadwal pelaksanaannya.

SMAN 2 Cirebon masih menunggu arahan resmi dari pemerintah maupun Dinas Pendidikan.

“Kalau yang sekarang belum tahu. Bulan ini kami belum tahu kapan waktunya. Kami mendukung saja, dan insya Allah untuk SMAN 2 Cirebon siap,” ucap dia.

Sebelumnya, KDM mewacanakan tes urine bagi seluruh siswa SMA/SMK di Jawa Barat sebagai upaya mendeteksi sedini mungkin penyalahgunaan atau ketergantungan terhadap obat-obatan.

Wacana tersebut muncul di tengah perhatian terhadap keterlibatan pelajar dalam kasus penyalahgunaan obat-obatan.

KDM menyebut pemeriksaan tersebut tidak semata-mata bertujuan menghukum siswa.

Baca juga: 15 Siswa Ikut Seleksi Paskibraka, Enam Pelajar SMAN 2 Cirebon Lolos, Satu Tembus Tingkat Jabar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.