Bagaimana jadinya jika Gen Z hidup pada 1945, saat Indonesia masih memperjuangkan kemerdekaan?
Kala itu, belum ada teknologi yang memudahkan komunikasi.
Bukan sekadar hidup tanpa internet atau media sosial, mereka juga harus menghadapi situasi ketika masa depan Indonesia belum sepenuhnya pasti.
Jepang baru menyerah kepada Sekutu dan keputusan mengenai kemerdekaan harus diambil dalam waktu yang sangat singkat.
Sementara saat ini, Gen Z terbiasa dengan banyak kemudahan.
Berkomunikasi dalam hitungan detik, mencari informasi hanya dengan beberapa sentuhan, dan mendapatkan berbagai kebutuhan dengan cepat.
Namun, bagaimana jika semua kemudahan itu tiba-tiba tidak ada?
1. Gen Z Jika Menghadapi Peristiwa Rengasdengklok
Bermula dari peristiwa Rengasdengklok, apa yang terjadi jika Gen Z berada dalam peristiwa 16 Agustus 1945?
Saat itu, golongan muda mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan.
Namun, Soekarno dan Hatta memilih mempertimbangkan waktu, cara, serta kondisi keamanan.
Perbedaan pendapat itu kemudian membawa keduanya ke Rengasdengklok, Karawang, pada dini hari 16 Agustus.
Jika berada di posisi itu, tantangan pertama mungkin bukan sekadar keberanian.
Melainkan bagaimana menyampaikan pendapat, mempertahankan keyakinan, sekaligus mencari jalan keluar ketika orang-orang di sekitar memiliki pandangan berbeda.
2. Gen Z dalam Situasi Terdesak Saat Merumuskan Naskah Proklamasi
Lalu bagaimana jika Gen Z mengalami situasi terdesak seperti saat itu Soekarno dan lainnya harus segera merumuskan naskah proklamasi?
Kala itu, di Jakarta, Ahmad Soebarjo membujuk golongan muda dan memberikan jaminan akan memproklamasikan kemerdekaan paling lambat 17 Agustus.
Kesepakatan itu membuat Soekarno dan Hatta akhirnya kembali ke Jakarta pada malam hari menggunakan mobil yang dibawa Ahmad Soebardjo.
Penyusunan Proklamasi dilakukan di Jakarta karena kota ini memiliki pemancar radio dan akses pers yang memungkinkan kabar kemerdekaan disebarluaskan dengan cepat.
Berbeda dengan saat ini, ketika Gen Z bisa menyebarluaskan informasi melalui media sosial dalam hitungan detik.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan pertemuan untuk menyusun teks Proklamasi dilakukan secara daring melalui Zoom.
Namun, perjuangan belum selesai.
Waktu semakin sempit. Naskah Proklamasi bahkan belum dirumuskan.
Malam 16 Agustus, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo berkumpul di rumah Laksamana Tadashi Maeda.
Mereka merumuskan konsep Proklamasi. Soekarno menuliskannya, kemudian Sayuti Melik mengetik naskah tersebut.
Bayangkan jika Gen Z berada di ruangan itu.
Yang ada hanya waktu yang terbatas, tekanan, dan keputusan yang dampaknya jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi.
3. Gen Z di Tengah Mencekamnya Pembacaan Teks Proklamasi
Setelah naskah selesai, persoalan berikutnya adalah tempat pembacaan.
Rencana awal dilakukan di Lapangan Ikada.
Namun, akhirnya dipindahkan ke rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56 karena pertimbangan keamanan dan risiko bentrokan dengan pihak Jepang.
Pagi 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks Proklamasi.
Jadi, jika Gen Z hidup pada masa itu, perjuangannya bukan sekadar soal mengangkat senjata.
Mereka harus berani menyampaikan pendapat, mampu bekerja sama, mengambil keputusan dalam ketidakpastian, dan siap menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka.
Karena kemerdekaan tidak lahir dalam satu pagi.
Ada perbedaan pendapat, perdebatan, perjalanan ke Rengasdengklok, negosiasi, perumusan naskah, hingga akhirnya Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945. (*)