BNPB Soroti Ancaman Abrasi di Pesisir SBT, Siapkan Kajian Penanganan Permanen
Ode Alfin Risanto August 14, 2026 08:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Persoalan bencana di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku, ternyata bukan hanya kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Jumat (14/8/2026).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyoroti ancaman abrasi yang terjadi di sejumlah wilayah pesisir SBT.

Plt. Direktur Penanganan Darurat Wilayah II BNPB, Riswandi mengatakan, persoalan abrasi menjadi salah satu perhatian Kepala BNPB.

Baca juga: Premi Meroket hingga 184,42 Persen, Asuransi Jasindo Cabang Ambon Perkuat Pasar di Indonesia Timur

Baca juga: Kasus Utang Piutang Serka Fawa Nanlohy dan Guru di Ambon Berakhir Damai Meski Hanya Bayar 50 Persen

Pasalnya, abrasi yang terjadi di wilayah pesisir SBT berkaitan dengan gelombang pasang serta kondisi cuaca ekstrem karena dampaknya sudah mulai dirasakan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.

"Betul, ini jadi perhatian Kepala BNPB terkait abrasi karena gelombang pasangnya. Akibat cuaca ekstrem, tentunya kami akan melihat skala-skala prioritas yang tadi sudah disampaikan juga oleh Bapak Wakil Bupati," ujarnya.

Dalam penanganan abrasi, dirinya mengaku Pemkab SBT sebelumnya mengusulkan adanya bantuan geobag sebagai salah satu upaya untuk melindungi wilayah pesisir.

Namun, BNPB tidak ingin penanganan abrasi hanya dilakukan dengan intervensi sementara.

Riswandi mengatakan, pihaknya akan melakukan kajian lebih mendalam untuk menentukan bentuk penanganan yang paling tepat terhadap abrasi di SBT.

"Untuk abrasi ini memang diperlukan sesuatu yang permanen. Nanti akan kami analisis lagi apakah nanti intervensi kami didukung juga oleh kolaborasi dari instansi lain untuk mengatasi soal abrasi ini," jelasnya.

Ia menilai kolaborasi menjadi penting karena persoalan abrasi tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu lembaga.

Apalagi, kata dia, dampak abrasi di wilayah pesisir SBT sudah cukup terasa bagi masyarakat.

"Memang sangat sudah sangat terasa dampaknya di masyarakat, di pesisir," lanjutnya.

Karena itu, pihaknya memastikan persoalan abrasi akan menjadi bagian dari perhatian dalam upaya penanganan bencana di SBT.

"Akan kami intervensi bersama dengan pemerintah daerah," tutupnya.

Hal serupa juga terjadi di wilayah pesisir Desa Aruan Gaur, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, pada Juni 2026. 

Peristiwa ini merusak talut penahan ombak sepanjang 110 meter dan menyebabkan tiga rumah warga mengalami kerusakan berat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.