Kejuaraan Dunia 2026 - Debut Langsung Jadi Unggulan, Raymond/Joaquin Manfaatkan Hawa Persaingan dengan Fajar/Fikri
Delia Mustikasari August 14, 2026 08:33 PM

DELIA MUSTIKASARI/BOLASPORT.COM
Pasangan ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, berpose di pelatnas Cipayung, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

BOLASPORT.COM - Pasangan ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, akan menjalani debut di kelas senior pada Kejuaraan Dunia 2026 di New Delhi, India, 17-23 Agustus.

Sebelumnya, Raymond/Joaquin tampil pada Japan Open 2026 dan China Open 2026, tetapi langsung tersingkir pada babak pertama.

 

"Persiapan sudah dari kemarin sejak setelah China Open, recovery juga sudah dilakukan," kata Raymond kepada media, termasuk BolaSport.com di pelatnas Cipayung, Jakarta.

Meski sudah pernah mengikuti turnamen BWF level tinggi yakni Super 750 dan Super 1000, Kejuaraan Dunia 2026 tetap memiliki makna berbeda bagi ganda putra ranking ke-12 dunia itu.

"Kejuaraan dunia menurut saya salah satu turnamen bergengsi dan juga menurut saya medalinya beda sendiri dan saya ingin memilikinya. Dulu saat junior, di nomor individu saya kalah. Jadi, saya ingin mencoba membawa medali di senior," tutur Joaquin.

"Pola pikir atau perasaan yang berbeda untuk kejuaraan dunia sama saja. Apapun hasilnya pada kejuaraan dunia nanti, pastinya, kami sudah lakukan yang terbaik di latihan dan itu hasilnya."

Sementara itu, Raymond tidak merasa gugup tampil perdana pada kejuaraan dunia.

"Biasa saja. Kami mau tampil maksimal," ujar Raymond.

Raymond/Joaquin akan memulai perjalanan pada kejuaraan dengan mendapat bye sebagai unggulan ke-12.

Pada babak 32 besar, mereka akan menghadapi pemenang laga antara Nguyen Dinh Hoang/Tran Dinh Manh (Vietnam) dan Junaidi Arif/Roy King Yap (Malaysia)

"Kalau menjadi unggulan malah bagus karena jadi tahu ditempatkan dimana, tidak acak. Cukup senang mendapat posisi unggulan," aku Joaquin.

"Mendapat bye pada babak 64 besar pastinya menguntungkan karena lawan sudah bertanding lebih dulu. Hal yang membedakan, mereka sudah tahu lapangan saja karena sudah sekali bertanding Tetapi, bagi kami tidak masalah. Kami bisa fokuskan apa yang harus disiapkan."

"Untuk kejuaraan dunia ada latihan yang membedakan. Kami lebih banyak latihan pertahanan. Kalau secara program dengan yang lain hampir sama. Tetapi, kami lebih diprioritaskan dulu. Setelah kami selesai, pasangan lain ada program sendiri."

Selain Raymond/Joaquin, ganda putra Indonesia diwakili Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

"Hawa persaingan sudah terasa. Sebenarnya, sudah lama terasa persaingannya dengan tidak mau kalah. Jadi, positif untuk ganda putra."

Pengalaman mengikuti turnamen tingkat tinggi membuat permainan Raymond/Joaquin sudah mulai diketahui lawan.

"Ya ada (sudah diketahui pemain lain), tetapi kami mungkin karena sering bertanding, sudah bisa membaca permainannya, sudah tahu pola permainannya. Jadi masih bisa kami antisipasi apa yang akan mereka lakukan sebelumnya kalau bertemu kami," tutur Raymond.

"Untuk kejuaraan dunia, tidak ada pola permainann yang diubah. Hanya koreksi saja, gaya bermain tetap sama cuma. Mungkin ada gaya bermain yang berbeda, sedikit ada plan B-nya."

"Dari Jepang sudah evaluasi saat main di China, Mungkin butuh evaluasi lagi. kami sudah berdiskusi lagi apa yang dibutuhkan untuk selanjutnya."

"Faktor kekalahan mungkin salah satunya pola permainan yang sudah terbaca lawan. Kami pasti sudah mempersiapkan diri. Kami kurang variasi sehingga lawan sudah hafal betul apa pukulan kami selanjutnya."

Saat ini, tiga ganda putra yang tengah bersaing di level tinggi adalah Fajar/Fikri, dan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin.

"Bagus menurut saya. Leo/Daniel juara dan Kang Jay (Fajar) juga juara. Itu memotivasi kami juga supaya bisa sama seperti mereka. Kalau bisa lebih dari mereka seperti bergantian juaranya. Itu benar-benar sehat untuk ganda putra," ucap Joaquin.

Terkait target pada kejuaraan dunia, Joaquin tidak mau berpikir terlalu tinggi.

"Sebenarnya kalau berpikir ke (semifinal kejuaraan dunia) karena ekspektasi tinggi menghancurkan diri kami sendiri. Kami mau fokus saja setiap babak," ujar Joaquin.

Venue kejuaraan dunia sempat dikritik sejumlah pebulu tangkis dunia saat menjadi tuan rumah India Open karena kondisi lapangan yang kotor hingga kehadiran kera ke dalam venue.

"Pastinya berpengaruh, tetapi saat bertanding seharusnya tidak. Kami fokus pada permainan kami saja. Kami mau berteriak seperti apa tidak akan terdengar seperti suara penonton kaream akami fokus di permainan," ucap Raymond.

"Kami belum pernah bertemu (kera) saat India Open. Saya belum ada karena lawan bermain di satu tempat yang sama. Jadi, kalau saya merasakan, mereka juga merasakan," kata Joaquin.

"Selain Thomas Cup, kejuaraan dunia salah satu yang diinginkan. Semoga bisa juara."

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.