Harga Minyakita di Natuna di Atas HET, Bulog Siapkan Solusi Pengiriman Langsung dari Jakarta
Dewi Haryati August 14, 2026 08:41 PM

NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Persoalan harga Minyakita di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), yang banyak dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter mulai menemukan solusi.

Keterbatasan pasokan menjadi salah satu kendala utama yang membuat Bulog Natuna belum mampu mendistribusikan Minyakita ke seluruh toko di daerah tersebut.

Kini, Bulog Natuna tengah menyiapkan skema baru dengan mendatangkan Minyakita langsung dari produsen di Jakarta menuju Natuna melalui jalur Tol Laut.

Langkah ini diharapkan mampu menambah pasokan sekaligus menekan harga Minyakita di tingkat masyarakat, agar kembali sesuai ketentuan pemerintah.

Kepala Bulog Cabang Natuna, Pencius Siburian mengatakan, kebutuhan Minyakita khususnya di wilayah Bunguran Besar mencapai sekitar 2.000 dus setiap bulan.

Namun, pasokan yang selama ini diterima dari Bulog Tanjungpinang hanya sekitar 800 dus per bulan.

Kondisi tersebut membuat Bulog Natuna belum mampu menjangkau seluruh toko dan pedagang yang membutuhkan Minyakita.

"Untuk saat ini kita belum mampu menyebarkan ke semua toko yang ada di Natuna. Yang dari Tanjungpinang jumlahnya terbatas, hanya untuk kios yang ada di pasar atau SP2KP," ujar Pencius saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (14/8/2026).

Akibat keterbatasan tersebut, sebagian besar Minyakita yang beredar di sejumlah toko Natuna masih berasal dari distributor swasta.

Harga dari jalur distribusi tersebut kemudian lebih tinggi karena adanya tambahan biaya transportasi dari luar daerah menuju Natuna.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Bulog Natuna bersama kantor pusat kini tengah menjajaki kerja sama langsung dengan produsen Minyakita di Jakarta.

Rencananya, minyak goreng tersebut akan dikirim menggunakan kapal Tol Laut langsung ke Natuna.

"Kami lagi proses untuk kontrak langsung ke Jakarta dengan kapal pengiriman Tol Laut. Jadi langsung dari produsen ke gudang Bulog Natuna," kata Pencius.

Menurutnya, skema tersebut dinilai menjadi salah satu solusi paling memungkinkan setelah pihaknya melakukan perhitungan terhadap biaya pengiriman yang ditawarkan PT Pelni.

Dari hasil perhitungan sementara, biaya pengiriman menggunakan Tol Laut masih dinilai memungkinkan, sehingga harga jual Minyakita nantinya tetap dapat ditekan.

"Kita sudah hitung-hitungan dari penawaran Pelni, dan harga masih masuk untuk dilakukan pengiriman dari Jakarta menuju Natuna," ujarnya.

Bahkan, Bulog Natuna menargetkan pengiriman perdana dapat dilakukan pada keberangkatan Tol Laut sekitar 25 Agustus 2026.

Dalam rencana tersebut, sebanyak lima kontainer Minyakita akan dikirim langsung dari pabrikan di Jakarta menuju Natuna.

"Dari Pelni mereka siapkan untuk lima kontainer di Tol Laut," ujarnya.

Pencius memperkirakan setiap kontainer dapat menampung sekitar 1.800 dus Minyakita.

Dengan lima kontainer, total pasokan yang dapat didatangkan mencapai sekitar 9.000 dus atau 108.000 liter.

Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan kebutuhan bulanan masyarakat di wilayah Bunguran Besar.

"1.800 kardus per kontainer. Kalau lima kontainer itu sekitar 108.000 liter. Ini lebih besar dari kebutuhan. Dan dipastikan persoalan harga akan teratasi," katanya.

Tak hanya menambah stok, skema pengiriman langsung dari produsen tersebut juga diharapkan dapat memangkas rantai distribusi sehingga harga Minyakita yang diterima masyarakat lebih terjangkau.

Pencius mengatakan, Bulog Natuna telah melakukan perhitungan mulai dari harga pembelian, ongkos pengiriman, biaya bunga hingga margin.

Dengan perhitungan tersebut, harga jual Minyakita di pasar masih memungkinkan berada di bawah HET.

"Untuk penjualan ke pasar masih masuk, kita kan jual ke pasar itu maksimalnya di Rp15.500 dan HET Rp15.700," ungkapnya.

Ia menegaskan, Bulog tetap akan memastikan penyaluran Minyakita mengikuti ketentuan yang berlaku.

Jika pasokan dari Jakarta melalui Tol Laut terealisasi, distribusi tidak hanya akan menyasar kios SP2KP, tetapi juga dapat diperluas ke toko di luar pasar sesuai aturan terbaru.

"Selama ini kami fokus jual ke kios SP2KP. Sekarang maksimal di pasar itu 80 persen dan 20 persennya bisa di toko luar pasar, sesuai aturan terbaru kami," tutur Pencius.

Menurutnya, pola tersebut akan membuat masyarakat memiliki lebih banyak akses mendapatkan Minyakita dengan harga sesuai ketentuan.

Dengan pasokan yang lebih besar dan jalur distribusi yang lebih pendek, Bulog optimistis persoalan kelangkaan dan tingginya harga Minyakita di Natuna dapat ditekan.

"Dengan skema ini kami yakin harga kembali sesuai HET dan bisa ditekan. Cara ini yang paling efektif," katanya.

Setelah tiba di Natuna, pasokan Minyakita tersebut nantinya akan didistribusikan ke berbagai toko dan titik penjualan yang telah ditentukan.

Bulog berharap langkah tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga Minyakita di wilayah kepulauan.

"Ya kita harapkan ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga harga Minyakita agar dapat dijual sesuai ketentuan HET," tuturnya. (Tribunbatam.id/birrifikrudin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.