Kabut Asap Picu Risiko ISPA dan Pneumonia, RSUD Soedarso Pastikan Oksigen Siaga 24 Jam
Maudy Asri Gita Utami August 14, 2026 08:43 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Direktur RSUD dr Soedarso Pontianak, Hary Agung Tchayadi mengatakan, kondisi kualitas udara yang tidak sehat akibat kabut asap berpotensi meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Barat.

Menurutnya, berdasarkan data dalam beberapa pekan terakhir, kasus ISPA di Kalbar memang menunjukkan kecenderungan meningkat.

Namun, untuk kasus ISPA yang ditangani di RSUD dr Soedarso dalam lima pekan terakhir belum menunjukkan peningkatan signifikan.

“Dengan situasi udara yang tidak bagus, memang ada faktor yang berkaitan dengan ISPA ini menjadi tinggi. Secara data Kalbar beberapa minggu terakhir agak meningkat, tetapi ISPA ini bisa ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas maupun klinik,” kata Hary, pada Jumat 14 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, pasien ISPA yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat dirujuk secara bertahap sesuai tingkat keparahan penyakit, mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit tipe C dan D.

Sementara itu, apabila infeksi sudah bersifat akut atau kronis dan berkembang menjadi pneumonia, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit tipe A seperti RSUD dr Soedarso.

• Ria Norsan Tegaskan Kalbar Siap Kawal Program Prabowo, Sinkronkan Pembangunan Pusat dan Daerah

“Kalau kita lihat perkembangan lima minggu terakhir, untuk angka ISPA yang ditangani RSUD Soedarso tidak terjadi peningkatan, biasa saja. Tetapi pneumonia memang ada dan cenderung meningkat,” ujarnya.

Hary menegaskan, peningkatan kasus di rumah sakit juga sangat dipengaruhi pola rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga fasilitas kesehatan lanjutan.

Karena itu, ia meminta seluruh fasilitas kesehatan tetap menyiapkan sarana dan prasarana untuk menghadapi kemungkinan peningkatan gangguan pernapasan, termasuk ketersediaan obat-obatan dan oksigen.

“Yang penting semuanya harus punya kesiapan untuk memberikan penanganan dengan baik. Baik itu obat-obatan maupun yang sifatnya kedaruratan, kesiapan oksigen atau hal-hal lain yang sifatnya kedaruratan untuk pernapasan harus disiapkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, ISPA dapat berkembang menjadi pneumonia ketika infeksi pada saluran pernapasan berlanjut. Kondisi tersebut juga lebih rentan terjadi pada masyarakat yang memiliki penyakit atau gangguan pernapasan sebelumnya.

“Pneumonia berkaitan dengan ISPA. Itu adalah infeksi yang berlanjut. Kondisi-kondisi yang mempunyai penyakit terkait pernapasan rentan terhadap situasi kualitas udara yang tidak bagus. Infeksi itu bisa berkelanjutan sehingga justru larinya ke pneumonia dan infeksi akut lainnya. Kabut asap bisa menjadi salah satu pemicunya,” ungkap Hary.

Untuk penanganan pasien pneumonia, RSUD dr Soedarso telah memiliki ruang isolasi serta ruang rawat inap infeksius yang dapat digunakan apabila terjadi peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan.

Namun, hingga saat ini Hary memastikan kondisi di RSUD dr Soedarso masih terkendali dan belum memerlukan penambahan tempat tidur secara khusus.

• Tim SAR Gabungan Evakuasi Jasad Pekerja Jetty PT BAP, Tenggelam di Perairan Pagar Mentimun

“Selama ini masih dalam kondisi yang terkendali, terutama untuk pasien kedaruratan gangguan pernapasan. Kalau memungkinkan kemudian dibantu oksigen dan dia normal, kita pulangkan. Jadi sementara masih aman dan terkendali,” katanya.

Hary juga memastikan ketersediaan oksigen di RSUD dr Soedarso tetap disiapkan selama 24 jam, terlepas dari ada atau tidaknya lonjakan kasus.

Menurutnya, kesiapan oksigen menjadi bagian penting dalam menghadapi kemungkinan pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan akibat memburuknya kualitas udara.

“Rumah sakit harus siap oksigen selama 24 jam untuk bantuan masalah oksigen dan lainnya. Saya kira Rumah Sakit Soedarso siap. Kalau pun ada lonjakan dan sebagainya, kita sudah bisa prediksi,” pungkasnya. 

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.