BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pengasingan ke Timor tidak serta-merta menghentikan jejak perjuangan Depati Amir.
Jauh dari Bangka, Depati Amir bersama adiknya, Depati Hamzah justru meninggalkan warisan penting melalui aktivitas dakwah, pembentukan komunitas Muslim, hingga pelayanan kesehatan yang dilakukan Hamzah di Pulau Rote.
Hal tersebut diungkap Sejarawan sekaligus Budayawan Bangka Belitung, Dato’ Akhmad Elvian, dalam Dialog Ruang Tengah Bangka Pos, Jumat (14/8/2026).
Menurut Elvian, Depati Hamzah bukan sekadar adik Depati Amir. Sejak usia muda, Hamzah telah terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata melawan Belanda.
“Hamzah pada usia sekitar 17 tahun sudah menjadi salah satu panglima pasukan Depati Amir,” kata Elvian.
Salah satu pertempuran penting yang melibatkan Hamzah terjadi di Ampang, wilayah yang kini masuk kawasan Kelapa, Bangka Belitung.
Dalam pertempuran tersebut, pasukan Hamzah berhasil menghancurkan salah satu pos atau benteng militer Belanda.
“Salah satu pos atau benteng militer Belanda di Ampang berhasil dihancurkan oleh Depati Hamzah. Banyak pasukan Belanda tewas akibat diracun. Peristiwa itu membuat Belanda sangat marah,” ungkap Elvian.
Hamzah kemudian terus mendampingi Amir dalam sejumlah pertempuran hingga akhirnya ikut ditangkap dan diasingkan ke Timor.
Tinggalkan Jejak Islam di Timor
Menurut Elvian, masa pengasingan justru menjadi fase baru dalam perjuangan kedua tokoh tersebut. Di Timor, Amir dan Hamzah turut berperan dalam perkembangan Islam dan pembentukan komunitas Muslim.
“Dalam sejumlah literatur dan catatan sejarah Nusa Tenggara Timur disebutkan bahwa perkembangan Islam di Timor, selain melalui pedagang-pedagang Arab, juga berkaitan dengan dua tokoh yang diasingkan dari Bangka, yaitu Amir dan Hamzah,” jelasnya.
Keduanya disebut membangun masjid sekaligus membentuk komunitas Muslim di wilayah pengasingan.
“Di Kampung Air Mata, mereka membangun Masjid Baitul Qodim,” kata Elvian.
Setelah komunitas Muslim berkembang di Air Mata, aktivitas keduanya berlanjut ke wilayah lain. Amir kemudian berada di Bonifoi, sementara Hamzah menjalankan aktivitas dakwah di wilayah berbeda.
“Mereka kemudian mendirikan Masjid Al-Ikhlas di Bonifoi,” lanjutnya.
Hamzah Jadi Mantri di Pulau Rote
Jejak Depati Hamzah tidak berhenti pada aktivitas dakwah. Setelah berada di Kupang, ia kemudian dibuang ke Ba’a di Pulau Rote.
Di tempat tersebut, Hamzah dikenal memiliki kemampuan dalam bidang pengobatan.
“Hamzah sendiri memiliki keistimewaan lain. Dia tidak hanya diasingkan di Kupang. Setelah tiba di Kupang, dia kemudian dibuang ke Ba’a di Pulau Rote,” ujar Elvian.
Kemampuan medis Hamzah bahkan disebut dalam sejumlah catatan sebagai sesuatu yang sangat baik.
“Di sana Hamzah memiliki kemampuan medis yang dalam sejumlah catatan disebut sangat baik, bahkan dianggap melebihi kemampuan dokter Belanda,” ungkapnya.
Keahlian tersebut akhirnya membuat pemerintah kolonial mengangkat Hamzah sebagai mantri melalui sebuah besluit.
Ia juga memperoleh surat keputusan dan gaji dari pemerintah Belanda.
Meski telah bertahun-tahun berada di pengasingan, hubungan keluarga Amir dan Hamzah dengan Bangka tidak sepenuhnya terputus.
Komunikasi dilakukan melalui surat. Bahkan, keturunan Depati Hamzah kemudian kembali berkirim surat dengan keluarga di Bangka pada dekade 1950-an.
“Surat menyurat itu cukup berlangsung lama alias bertahun-tahun antara kedua pihak,” kata Elvian.
Namun, Amir dan Hamzah tidak pernah kembali ke tanah kelahirannya. Permintaan untuk kembali ke Bangka pernah disampaikan, tetapi ditolak pemerintah Belanda.
Bagi Elvian, kisah tersebut menunjukkan bahwa pengasingan tidak menghapus semangat perjuangan keduanya.
Pesan perjuangan Depati Amir juga dinilai tetap relevan hingga saat ini, termasuk dalam menjaga kekayaan alam Bangka Belitung.
“Pesan pertama adalah keberanian melawan pihak yang ingin membinasakan negeri selama kita masih memiliki jiwa,” ungkap Elvian.
Ia berharap perjuangan Amir dan Hamzah tidak berhenti sebagai catatan sejarah.
“Pahlawan harus menjadi panutan. Mereka seharusnya mampu memacu dan memicu semangat kita agar lebih giat, lebih bijaksana, lebih berani, dan lebih sungguh-sungguh dalam membangun negeri Bangka Belitung yang kita cintai,” tegasnya.
(Bangkapos.com/Vigestha Repit)