TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK- Malam merapat di tepian Sungai Siak ketika lantunan Laa ilaaha illallah mengalun dari atas perahu.
Cahaya obor dan pelita bergetar di permukaan air yang gelap. Sesekali cahaya itu pecah diterpa riak, lalu menyatu kembali dengan bayang-bayang kapal yang bergerak perlahan mengikuti arus.
Di sungai yang menjadi urat nadi sejarah negeri itu, masyarakat Melayu Siak kembali menjalankan ritual tolak bala, Ghatib Beghanyut, Kamis, 13 Agustus 2026, bertepatan 29 Safar 1448 Hijriah. Tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut kembali mempertemukan doa, adat, sejarah dan ingatan kepada para leluhur.
Ghatib Beghanyut tidak hanya perjalanan menyusuri sungai. Ritual ini telah menjadi cara masyarakat menundukkan diri di hadapan kebesaran Allah SWT, sekaligus merawat ingatan tentang negeri yang dibangun oleh para sultan, ulama, tokoh adat dan masyarakat terdahulu. Dengan ritual ini, masyarakat Melayu bermohon agar menjauhkan segala mala petaka dari bumi Siak.
Ritual ini digelar usai salat isa. Masyarakat berpakaian serba putih berkumpul di terminal pelabuhan LLASDP, Kelurahan Kampung Dalam, Kecamatan Siak. Para remaja dan pemuda membawa obor bambu. Api kecil itu menerangi wajah-wajah yang datang dari berbagai penjuru.
Di pintu masuk, janur dari pelepah kelapa melengkung membentuk gapura. Kawasan pelabuhan yang sehari-hari menjadi tempat orang menunggu penyeberangan malam itu berubah menjadi arena ritual.
“Malam ini ritual tolak bala, ghatib beghanyut,” ujar Hasan, seorang warga yang ikut dalam kegiatan tersebut.
Lantunan tahlil telah menggema ketika satu per satu jemaah memasuki kawasan pelabuhan. Kelompok masyarakat adat, tokoh agama, aparatur pemerintah, pemuda dan warga biasa bercampur tanpa banyak jarak. Rangkaian Ghatib Beghanyut sesungguhnya telah dimulai sejak pagi.
Masyarakat bersama pemerintah daerah melakukan ziarah ke makam para sultan, pahlawan dan tokoh pendiri Siak. Rombongan mendatangi makam Raja Kecik di Buantan, makam Sultan Tengku Buwang Asmara di Mempura, makam Sultan Syarif Kasim II hingga makam Koto Tinggi. Ziarah itu seperti membuka kembali pintu sejarah.
Nama-nama yang selama ini hidup dalam buku dan cerita masyarakat kembali disebut. Makam-makam menjadi pengingat bahwa Siak hari ini berdiri di atas perjalanan panjang para pendahulu.
Selepas salat Isya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ghatib berjalan. Peserta bergerak dari Masjid Syahabuddin menuju makam Koto Tinggi, kemudian melintasi kawasan depan Istana Siak menuju Pelabuhan LLASDP.
Sepanjang perjalanan, Laa ilaaha illallah dilafalkan berulang-ulang. Dari daratan, doa kemudian berpindah ke sungai.
Satu per satu jemaah menaiki kapal feri penyeberangan yang telah menunggu di dermaga. Permadani telah terpasang di geladak. Makanan dan minuman disiapkan. Di sekeliling kapal, perahu-perahu nelayan ikut bergerak. Perahu itu telah dihias dan membawa peserta lainnya.
Ketika seluruh jemaah telah berada di atas kapal, mereka tidak langsung bergerak. Mereka menunggu arus. Dalam tradisi ini, kapal dibiarkan mengikuti aliran Sungai Siak. Biasanya perjalanan mengarah ke kawasan feri penyeberangan Belantik, kampung Langkai.
Mesin kapal kemudian hidup. Lambung kapal bergerak perlahan. Arus sungai membawa rombongan menjauh dari pelabuhan. Di tengah perjalanan, seorang muazin berdiri. Azan berkumandang dengan kerasnya. Percakapan terhenti. Jemaah terdiam.
Setelah azan, imam merapalkan doa-doa. Kepala-kepala tertunduk. Sebagian tangan terangkat. Suasana yang semula dipenuhi gerak perlahan berubah hening.
“Dipastikan sebelum memasuki kapal tadi, semua orang sudah dalam keadaan bersuci,” kata imam sejak awal.
Tahlil kembali menggema. Semakin jauh kapal hanyut, suara jemaah terdengar semakin kuat. Ratusan suara menyatu di tengah sungai. Laa ilaaha illallah berulang-ulang dilafalkan, menjadi semacam denyut yang mengikuti gerak kapal. Air menjadi lantai yang bergerak. Kapal menjadi tempat berkumpul. Arus menjadi bagian dari ritual.
Bagi masyarakat Melayu Siak, perjalanan mengikuti arus memiliki makna simbolis. Bala, penyakit, musibah dan berbagai keburukan didoakan agar pergi dari negeri, terbawa arus menuju hilir dan akhirnya ke laut.
Yang dihanyutkan bukan benda. Melainkan doa dan harapan agar segala keburukan dijauhkan dari Siak.
Tradisi itu juga memperlihatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. Orang-orang datang dari latar belakang berbeda, lalu duduk dalam satu kapal, mengucapkan kalimat yang sama dan memanjatkan harapan yang sama.
Ritual Ghatib Beghanyut ini juga mewujudkan arti sosialnya. Tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga arena perjumpaan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Siak bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari warisan budaya dan kearifan lokal. Dalam pelaksanaannya, aparatur sipil negara turut dilibatkan.
Namun di atas kapal, simbol-simbol jabatan itu seolah menghilang. Semua berdiri di hadapan Tuhan dengan posisi yang sama. Ghatib Beghanyut menjadi pertemuan antara hablum minallah dan hablum minannas, hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia.
Tema yang diangkat tahun ini adalah Menolak Bala, Menjemput Tuah. Bala tidak hanya dipahami sebagai bencana atau musibah yang datang dari luar. Ia juga dapat lahir dari perilaku manusia sendiri.
“Menolak bala berarti menjauhkan diri dari perbuatan yang membawa kemudaratan. Sementara menjemput tuah berarti berusaha meraih keberkahan melalui jalan yang diridai Allah SWT,” ujar Wakil Bupati Siak Syamsurizal.
Perahu bergerak menuju hilir. Doa terus mengalir. Tahlil selalu dilantunkan. Seolah ada harapan bahwa apa pun yang buruk meninggalkan negeri bersama air yang bergerak menuju laut. Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti Ghatib Beghanyut menghadirkan cara lain untuk menjaga identitas.
Bukan dengan membekukan masa lalu, melainkan menghidupkannya kembali dalam bentuk yang masih dipahami generasi sekarang.
Ada sejarah yang dikenang melalui ziarah. Ada adat yang dijaga melalui ritual. Ada agama yang dihidupkan melalui zikir dan doa. Ada persaudaraan yang dipererat karena orang-orang duduk bersama di atas sungai.
Di kejauhan, cahaya kota semakin mengecil. Yang tampak hanya lampu kapal, obor dari perahu dan pantulan cahaya di permukaan Sungai Siak.
“Secara Islam iya, dan dimulai juga ada adat istiadat Melayu yang pernah dilakukan oleh leluhur kita sebelumnya,” kata Syamsurizal.
Menurut dia, zikir yang dilafalkan dalam tradisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Ia mengatakan ada dua hubungan yang ingin dijaga melalui tradisi itu. Hubungan manusia dengan Allah atau hablum minallah, serta hubungan manusia dengan sesama atau hablum minannas.
“Mudah-mudahan kita menolak bala yang terjadi di Kabupaten Siak. Apalagi ini di bulan Safar. Mudah-mudahan agenda ini betul-betul menjadi ikhtiar kita memohon perlindungan dari Allah SWT,” ujar Syamsurizal.
Ia berharap doa yang dipanjatkan bersama menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk membawa Siak ke arah yang lebih baik.
“Doakan masyarakat Kabupaten Siak, kita sama-sama berdoa, semoga Siak semakin jaya, semakin kaya, dan sumber daya alam yang ada di Siak bisa menyejahterakan masyarakatnya,” katanya.
Syamsurizal juga berharap kekayaan alam yang dimiliki Siak dapat dikelola untuk kepentingan masyarakat, termasuk mendukung pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Malam semakin larut. Kapal terus mengikuti arus menuju hilir. Suara mesin bersahutan dengan lantunan zikir. Di atas air, doa-doa terus mengalir.
“Pergi ke surau membawa sajadah,
Di malam hari membawa pelita.
Semoga Siak semakin berkah,
Negerinya makmur, masyarakat sejahtera,” ujar Syamsurizal dalam pantun.
Ia juga memastikan, ritual tolak bala ini akan dilaksanakan setiap tahun, yang bertepatan pada bulan Safar di bulan hijriyah. Meskipun pada 2025 lalu, ritual ini sempat terhenti.
“Ke depan kita adakan setiap tahun, karena ritual keagaan, adat dan budaya, ruang sosial bertemu pada momen ini,” ujarnya. (Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)