Sampah Berserakan di Taman Ikon Jelawat Sampit Kotim, Warga Soroti Kesadaran Masyarakat
Sri Mariati August 15, 2026 11:05 AM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Suasana sore di Taman Wisata Ikon Jelawat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Jumat (13/8/2026), masih diramaikan aktivitas warga. 

Warga datang untuk sekadar duduk, bersantai, menikmati makanan, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman. Namun, di balik ramainya aktivitas tersebut, persoalan kebersihan masih menjadi pemandangan yang cukup mencolok. 

Pantauan di lapangan sekitar pukul 17.25 WIB, sampah terlihat berserakan di sejumlah sudut taman. Bahkan, beberapa sampah ditemukan berada tepat di sekitar tempat warga sebelumnya duduk dan menikmati makanan. 

Setelah duduk dan makan, sebagian pengunjung terlihat meninggalkan sampah begitu saja di tempat mereka duduk. Padahal, tempat sampah telah disediakan di sejumlah titik di kawasan taman. 

Yang cukup disayangkan, kebiasaan meninggalkan sampah tersebut terlihat dilakukan oleh pengunjung dari berbagai kelompok usia, mulai dari remaja hingga orang dewasa. 

Kondisi itu membuat kawasan Taman Ikon Jelawat yang seharusnya menjadi salah satu ruang publik sekaligus ikon wisata Kota Sampit terlihat kurang terawat. 

Persoalan serupa juga terlihat di kawasan Sungai Mentaya. Sejumlah sampah, terutama berbahan plastik, tampak berada di aliran sungai yang melintas di kawasan Kota Sampit. 

Keberadaan sampah tersebut tidak hanya mengganggu kebersihan, tetapi juga mengurangi keindahan dan estetika Sungai Mentaya yang menjadi bagian dari wajah Kota Sampit. 

Seorang warga Sampit, Nur Aina, menilai persoalan sampah tidak semata-mata dapat dibebankan kepada pemerintah daerah. Menurutnya, kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang perlu dibenahi. 

“Ini bukan hanya soal pemerintah. Kesadaran masyarakat juga harus dibangun, terutama kebiasaan membuang sampah pada tempatnya,” kata Nur Aina. 

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan pola pikir dan kebiasaan yang sudah terjadi secara turun-temurun di tengah masyarakat. 

Karena itu, ia menilai perubahan perilaku perlu dimulai sejak usia dini. Anak-anak harus dikenalkan dengan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. 

“Pola pikir yang sudah turun-temurun ini memang harus dibenahi. Bisa diajarkan sejak anak usia dini, mulai dari PAUD, TK sampai SD,” ujarnya. 

Ia berharap Dinas Pendidikan bersama organisasi perangkat daerah terkait dapat memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sejak anak-anak. 

Nur Aina menyadari perubahan kebiasaan masyarakat tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses panjang dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. 

“Memang tidak mudah dan butuh proses panjang. Tapi kalau diajarkan sejak kecil, saya yakin lama-lama pola pikir masyarakat bisa berubah,” tuturnya. 

Baca juga: Terik Matahari Tak Surutkan Antusias Warga Berlibur ke Destinasi Wisata Ikon Jelawat Sampit Kotim

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Ikon Jelawat Kotim Destinasi Wisata Favorit Warga Habaring Hurung Kalteng

Menurutnya, menjaga kebersihan Kota Sampit merupakan tanggung jawab bersama.  

Pemerintah perlu menyediakan fasilitas dan melakukan pengawasan, sementara masyarakat juga harus memiliki kesadaran untuk menggunakan fasilitas tersebut dengan baik. 

Dengan begitu, kawasan seperti Taman Ikon Jelawat dan Sungai Mentaya tidak hanya menjadi tempat berkumpul atau ikon Kota Sampit, tetapi juga dapat tetap bersih, nyaman, dan enak dipandang oleh masyarakat maupun pengunjung.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.