BANGKAPOS.COM, BANGKA – Populasi Orang Sekak atau Orang Laut, masyarakat pribumi Pulau Bangka, terus mengalami penyusutan hingga diperkirakan kini tidak lagi mencapai 1.000 jiwa.
Kondisi itu menjadi peringatan serius terhadap keberlangsungan budaya maritim yang telah mengakar di Bangka selama lebih dari dua milenium. Menipisnya masyarakat pendukung budaya berpotensi menghilangkan identitas maritim Pulau Bangka.
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, menjelaskan Orang Darat dan Orang Laut merupakan bumiputera Pulau Bangka yang berasal dari gelombang kedua persebaran bangsa Austronesia, yaitu Deutro Melayu.
Baca juga: Orang Sekak Tercatat sebagai Bumiputera Bangka, Sejarawan Ungkap Jejak Peradaban 2.500 Tahun
Bangsa tersebut menyebar ke Asia Tenggara sekitar 500 tahun sebelum Masehi bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan zaman logam.
Mereka dikenal memiliki peradaban maju dalam bidang astronomi, pelayaran, bercocok tanam, serta teknologi perundagian yang menguasai pengolahan berbagai jenis logam.
“Orang Darat maupun Orang Laut merupakan bumiputera Pulau Bangka yang berasal dari gelombang kedua persebaran bangsa Austronesia atau Deutro Melayu,” kata Akhmad Elvian kepada Bangkapos.com, Sabtu (15/8/2026).
Baca juga: Suku Sawang di Desa Kumbung Dulu ada Puluhan KK, Kini Hanya Tinggal Segelintir
Jejak peradaban itu diperkuat melalui temuan arkeologis di Situs Kota Kapur Bangka berupa terak atau sisa pembakaran logam dan peripih yang berisi perhiasan emas dari sekitar abad ke-6 Masehi.
Temuan tersebut menunjukkan masyarakat Deutro Melayu telah mengenal teknik peleburan, pencampuran, penempaan, hingga pencetakan logam seperti tembaga, timah, perunggu, besi, dan emas.
Bukti arkeologi itu menjadi penanda kuat bahwa penyebaran bangsa Deutro Melayu turut membentuk peradaban awal Pulau Bangka.
Dalam catatan sejarah, Kepulauan Bangka Belitung sejak abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-20 dihuni oleh dua kebudayaan besar yang hidup berdampingan.
Orang Darat atau Orang Gunung membangun kebudayaan yang berorientasi pada daratan, sedangkan Orang Laut atau Sekak menjadi pendukung utama kebudayaan maritim yang menggantungkan hidup pada laut.
Mereka hidup berpindah dari teluk, selat, muara, hingga pulau-pulau kecil menggunakan perahu sebagai tempat tinggal sekaligus sarana mencari nafkah.
“Bangka dibangun oleh dua orientasi kebudayaan besar, yakni budaya darat dan budaya laut,” tutur Akhmad Elvian.
Elvian memaparkan keberadaan Orang Sekak juga terekam dalam buku Residen Inggris M.H. Court berjudul An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang yang diterbitkan pada 1821.
Saat pemerintahan Inggris pada periode 1812–1816, Pulau Bangka memiliki 13.113 penduduk yang terdiri dari kelompok Tionghoa, penambang Tionghoa, Melayu, dan Orang Gunung, serta ditambah estimasi sekitar 300 jiwa Orang Laut yang sulit didata karena hidup nomaden di atas perahu. Dengan tambahan komunitas tersebut, jumlah penduduk Pulau Bangka ketika itu mencapai sekitar 13.413 jiwa.
Menurut Akhmad Elvian, Orang Sekak mengenal perahu mereka dengan sebutan perau, sedangkan dalam kajian maritim Prof. A.B. Lapian disebut sebagai perahu gobang.
Satu perahu biasanya dihuni satu keluarga inti dan membentuk kelompok berisi empat hingga sepuluh perahu yang dipimpin seorang Batin Sekak sebagai pemimpin adat.
Mata pencaharian utama mereka ialah menangkap ikan, kerang, duyung, rumput laut, hingga teripang yang kemudian ditukar melalui sistem silor atau barter dengan beras, besi, dan kebutuhan pokok dari masyarakat daratan, Melayu, maupun Tionghoa.
“Kelompok Orang Sekak dipimpin seorang Batin dan kehidupannya sepenuhnya bergantung pada laut serta sistem barter,” katanya.
Selain memiliki sistem sosial yang kuat, kata Elvian, Orang Sekak mewariskan tradisi Muang Patung atau Muang Jong sebagai upacara syukur kepada penguasa laut, serta ritual Kuneng Nambek untuk mengundang arwah leluhur.
Dalam kosmologi mereka dikenal Bujang Awang, Dayang Inak, Bujang Bisuk, dan Dayang Item sebagai penguasa wilayah laut, sementara tarian Gajah Menunggang menjadi penutup rangkaian tradisi yang diiringi pantun berbahasa Sekak.
Elvian menyebut pantun dan dialek Sekak kini semakin jarang didendangkan karena jumlah penuturnya terus berkurang.
Sejarah perjuangan Bangka juga mencatat keterlibatan Orang Sekak dalam membantu Depati Amir melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1848–1851.
Perahu gobang digunakan sebagai perahu perang dan angkut dalam pertempuran laut yang meluas hingga pesisir utara Jawa, menunjukkan kemampuan maritim masyarakat Sekak yang telah lama dikenal sebagai pelaut ulung.
Kini, komunitas Sekak masih tersisa di Teluk Kelabat, Pulau Lepar, Jebu, Tanjung Gunung, Juru Seberang, Manggar, dan beberapa wilayah lain, namun populasinya terus menurun akibat berkurangnya daya dukung lingkungan dan kebijakan pemukiman yang mengubah masyarakat laut menjadi masyarakat darat.
“Jika masyarakat pendukungnya terus menipis, kebudayaan maritim Pulau Bangka dan Pulau Belitung sangat mungkin mengalami kepunahan,” pungkas Akhmad Elvian. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)