AS Ancam Blokade Iran Tanpa Batas Waktu, Perang Selat Hormuz Makin Memanas
Amirullah August 15, 2026 02:37 PM

AS Ancam Blokade Iran Tanpa Batas Waktu, Perang Selat Hormuz Makin Memanas

SERAMBINEWS.COM – Amerika Serikat (AS) menyatakan siap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tanpa batas waktu di tengah kebuntuan pembicaraan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Angkatan Laut AS memiliki kemampuan untuk menjaga keberadaan kapal-kapal militernya di kawasan tersebut dalam waktu yang tidak ditentukan.

Pernyataan itu disampaikan Hegseth kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Panama, Kamis (13/8/2026).

Dikutip Serambinews melalui Al Jazeera, Sabtu (15/8/2026), Hegseth mengatakan AS akan melakukan rotasi kapal untuk memastikan operasi blokade tetap berjalan.

“Angkatan Laut Amerika Serikat dapat mempertahankan blokade seperti itu tanpa batas waktu karena kami akan secara bergantian mengerahkan kapal masuk dan keluar,” kata Hegseth.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington tidak hanya mengandalkan serangan militer, tetapi juga berusaha memberikan tekanan ekonomi kepada Iran.

Baca juga: Klaim Iran Kalah Telak, Trump Bersiap Caplok Selat Hormuz Jadi Wilayah AS

AS Siapkan Tekanan Ekonomi Lebih Besar

Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump akan menerapkan langkah-langkah ekonomi baru untuk semakin mengisolasi Iran.

Bessent menyebut kebijakan tersebut akan menjadi salah satu bentuk tekanan ekonomi terbesar yang pernah diterapkan terhadap sebuah negara.

Menurutnya, kebijakan itu akan dikombinasikan dengan blokade berkelanjutan di sekitar Selat Hormuz.

Tujuannya adalah membatasi aktivitas perdagangan Iran, terutama ekspor minyak yang menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara tersebut.

Iran sendiri dilaporkan telah kehilangan sedikitnya 6 miliar dolar AS dari pendapatan minyak sejak blokade yang disebut Teheran sebagai tindakan pembajakan dimulai pada 13 April.

Namun, seberapa lama AS mampu mempertahankan tekanan tersebut masih menjadi pertanyaan.

Baca juga: Iran Klaim 75 Persen Rudal dan Drone Masih Utuh, Siap Tempur Lawan AS dan Israel

Kondisi USS Abraham Lincoln Jadi Sorotan

Salah satu persoalan yang muncul adalah kondisi personel militer AS yang menjalankan operasi di kawasan tersebut.

Kapal induk USS Abraham Lincoln disebut telah berada di laut selama berbulan-bulan tanpa jeda panjang untuk kembali ke pelabuhan.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran dari sejumlah anggota parlemen AS setelah muncul laporan mengenai menurunnya kesehatan mental dan moral para personel di kapal.

Navy Times dan Stars and Stripes sebelumnya melaporkan kekhawatiran keluarga personel terkait kondisi di atas kapal.

Salah satu laporan bahkan menyebut seorang pelaut mencoba melompat ke laut akibat kelelahan mental.

Senator Demokrat Richard Blumenthal kemudian meminta penjelasan dari Hegseth.

Ia mengatakan USS Abraham Lincoln, yang membawa lebih dari 5.000 pelaut dan Marinir, telah berada di laut selama hampir tujuh bulan.

Selain persoalan kesehatan mental, muncul pula laporan mengenai kekurangan sejumlah kebutuhan dasar, masalah air, insiden keselamatan dan gangguan layanan pos.

Blumenthal mempertanyakan apakah Angkatan Laut AS mampu mempertahankan tempo operasi yang tinggi dalam waktu lama.

Namun, Hegseth membantah laporan mengenai memburuknya kondisi di kapal tersebut dan menyebutnya tidak akurat.

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga membantah laporan mengenai adanya tujuh personel Angkatan Laut yang tewas di atas USS Abraham Lincoln.

CENTCOM menyatakan tidak ada personel militer yang meninggal di atas kapal induk tersebut.

CENTCOM juga mengatakan seorang pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus berhasil diselamatkan dengan cepat dan aman.

Baca juga: AS Tak Mampu Lumpuhkan Iran Lewat Perang, Trump Siapkan Sanksi Ekonomi Besar-besaran

Kapal Perang Tetap Membutuhkan Perawatan

Meski AS memiliki banyak kapal perang, operasi berkepanjangan tetap memiliki batas teknis.

Harlan Ullman, pensiunan perwira senior Angkatan Laut AS dan ketua The Killowen Group, mengatakan kapal perang, khususnya kapal induk bertenaga nuklir, membutuhkan perawatan rutin di pelabuhan.

Menurut Ullman, sebagian perawatan memang dapat dilakukan ketika kapal berada di laut.

Namun, sejumlah pekerjaan penting hanya dapat dilakukan secara optimal ketika kapal berada di pelabuhan.

Penugasan yang terlalu lama, menurutnya, dapat mengurangi kesiapan dan kemampuan kapal.

Karena itu, strategi rotasi kapal menjadi penting apabila AS benar-benar ingin mempertahankan blokade dalam jangka panjang.

Laporan juga menyebut kapal induk USS George Washington yang saat ini berada di kawasan Pasifik mulai bergerak menuju Timur Tengah.

Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya AS mengganti atau memperkuat kapal yang telah lama berada di kawasan konflik.

Baca juga: Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Iran Membantah: Jalur Minyak Dunia Tetap Ditutup

Iran Tidak Hanya Menunggu

Di sisi lain, Iran juga tidak berada dalam posisi pasif.

Teheran masih memiliki sejumlah cara untuk memberikan tekanan balik kepada AS.

Ali Vaez dari International Crisis Group mengatakan Iran dapat meningkatkan tekanan dengan menargetkan aset militer AS atau mendorong kelompok Houthi di Yaman untuk memperketat tekanan terhadap jalur ekspor energi regional.

Iran juga memiliki pengaruh besar terhadap Selat Hormuz.

Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia karena menjadi jalur utama bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia.

Iran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum tuntutannya dipenuhi, termasuk pencabutan blokade, penghapusan sanksi dan pencairan aset-aset Iran.

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran, Laksamana Muda Ali Azmaei, bahkan mengatakan Iran memiliki kendali penuh atas pergerakan di selat tersebut.

Baca juga: Perang Iran Masih Berkecamuk, AS Kirim Kapal Induk USS George Washington ke Timur Tengah

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Selat Hormuz menjadi salah satu kartu strategis terbesar Iran.

Jika aktivitas pelayaran di jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran dan AS.

Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar dan Kuwait juga dapat terkena dampak karena perekonomian dan ekspor energi mereka sangat berkaitan dengan jalur laut tersebut.

Profesor Mehran Kamrava dari Georgetown University di Qatar menilai Iran berusaha memberikan tekanan ekonomi kepada negara-negara tetangganya.

Tekanan tersebut diharapkan membuat negara-negara kawasan mendorong Washington untuk kembali melakukan negosiasi dengan Teheran.

Dengan demikian, konflik ini bukan hanya persoalan kemampuan militer AS dan Iran.

Ada pula pertarungan ekonomi dan politik yang melibatkan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Iran Bantah Klaim Trump: Tegaskan Selat Hormuz Masih di Bawah Kendali Penuh Teheran

Berapa Lama Blokade Bisa Bertahan?

Secara teori, AS memang memiliki kemampuan untuk mempertahankan operasi angkatan laut dalam waktu lama melalui sistem rotasi kapal.

Namun, kata “tanpa batas waktu” tidak berarti blokade dapat dilakukan tanpa biaya atau tanpa kendala.

Kapal perang membutuhkan bahan bakar, suku cadang, perawatan, pergantian personel dan dukungan logistik.

Personel militer juga menghadapi tekanan fisik dan mental jika ditempatkan terlalu lama di wilayah konflik.

Di sisi lain, Iran juga menghadapi tekanan ekonomi yang sangat besar akibat terhambatnya ekspor minyak dan aktivitas perdagangan.

Namun, Iran memiliki kemampuan untuk menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar.

Alih-alih menyerah karena tekanan ekonomi, Teheran dapat mempertahankan strategi perang asimetris dan berusaha membuat biaya blokade semakin mahal bagi AS dan negara-negara sekutunya.

Mostafa Khoshcheshm, profesor di Universitas Ilmu Terapan dan Teknologi di Teheran, mengatakan Iran melihat konflik tersebut sebagai perang ekonomi.

Baca juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup, Pakistan Turun Tangan Jadi Mediator

Menurutnya, Selat Hormuz merupakan bagian penting dari strategi Iran untuk menghadapi tekanan AS.

Karena itu, akhir dari blokade kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh berapa lama kapal perang AS mampu bertahan di laut.

Faktor yang lebih menentukan adalah siapa yang lebih dulu menghadapi tekanan ekonomi, militer, politik dan diplomatik yang membuat mereka harus mengubah strategi.

Selama AS masih mampu melakukan rotasi kapal dan mempertahankan dukungan logistik, blokade dapat terus berlangsung.

Namun, semakin lama operasi berjalan, semakin besar pula kebutuhan perawatan kapal, pergantian personel dan biaya militer yang harus ditanggung Washington.

Di sisi lain, Iran harus menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat jika ekspor minyak dan perdagangan terus terganggu.

Dengan kondisi tersebut, pertanyaan mengenai kapan blokade berakhir kemungkinan besar bukan sekadar soal kemampuan militer.

Blokade dapat bertahan selama kedua pihak masih menganggap mempertahankan posisinya lebih menguntungkan daripada mencapai kesepakatan.

Baca juga: Iran Tantang AS, Bersumpah Terus Melawan hingga Tuntutan Dipenuhi, Selat Hormuz Tetap Ditutup

(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.