Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Tim dosen jurusan keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang memberikan edukasi kepada warga SMAN 10 Bandar Lampung terkait Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP) serta Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Baca juga: Poltekkes Tanjung Karang Dampingi Kader Perkuat Deteksi Tumbuh Kembang Balita di Hajimena
Kepala SMA Negeri 10 Bandar Lampung, Ngimron Rosadi menjelaskan bahwa pihak dari Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang datang ke sekolah dalam program pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan edukasi tentang kesehatan.
"Acara telah berlangsung sejak 7-14 Agustus 2026 dengan melibatkan siswa, guru, hingga tenaga kependidikan untuk membekali warga sekolah dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi pertolongan pertama dalam P3LP dan BHD," kata Ngimron Rosadi, Sabtu (15/8/2026).
Pihaknya menyambut baik inisiatif dari Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang ini sebagai langkah konkret menciptakan ekosistem pendidikan yang tanggap dan aman.
"Kami dari pihak sekolah berterima kasih atas pembelajaran yang telah diberikan dan sekolah berkomitmen membangun sekolah yang aman dan suportif," ucap Ngimron.
Dia berharap dengan pelatihan P3LP dan BHD ini peserta bisa menjaga diri dan membantu orang lain.
"SMAN 10 Bandar Lampung akan melanjutkan program ini secara berkelanjutan melalui optimalisasi peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS)," kata Ngimron.
Sementara itu, ketua tim pengabdian kepada masyarakat Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang, Siti Fatonah, S.Kp., M.Kes., menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab dua tantangan utama di lingkungan masyarakat dan remaja.
Pertama yakni pentingnya peran bystander atau masyarakat awam dalam memberikan pertolongan awal pada kasus henti jantung mendadak (Out-of-Hospital Cardiac Arrest/OHCA), sebelum bantuan medis profesional tiba.
Kemudian kedua, kerentanan psikologis remaja akibat tekanan akademik maupun sosial.
"Program pengabdian ini menempatkan peningkatan pengetahuan BLS/BHD serta keterampilan RJP sebagai target utama," kata Siti.
Pihaknya ingin membekali peserta agar siap menangani kondisi kritis yang mengancam jiwa sekaligus peka terhadap kondisi emosional sesama.
Pelatihan Metode SUFA dan Praktik RJP bahwa peserta mendapatkan pembekalan teori yang langsung dilanjutkan dengan sesi praktik.
Edukasi P3LP (Metode SUFA) yakni pelatihan menggunakan pendekatan SUFA (Sadari, Utarakan, Fasilitasi, dan Arahkan).
Metode ini melatih peserta mengenali tanda gangguan emosional, memberikan dukungan awal secara empati, serta melakukan rujukan bila diperlukan.
Praktik BHD dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yakni peserta dilatih merespons korban henti jantung.
Di antaranya mulai dari mengecek respons dan pernapasan, menghubungi sistem darurat 119, mengamankan alat AED.
Hingga teknik kompresi dada yang kuat dan cepat di bagian tengah dada.
Adapun hasil efektif dengan nilai rata-rata peserta melonjak 91 dan pelatihan ini membuahkan hasil signifikan bagi para peserta.
Peningkatan pengetahuan dengan evaluasi pasca edukasi menunjukkan nilai rata-rata peserta mencapai 91.
Keterampilan praktis bahwa lebih dari 50 peserta dinyatakan mampu melakukan prosedur RJP dengan teknik yang benar dan tepat.
"Melalui pembekalan ini, warga sekolah diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu bertindak sebagai first responder di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat," kata Siti.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)