Dinkes Periksa Sampel Makanan dan Muntahan 134 Santri Ponpes Baiti Jannati Sukabumi yang Keracunan
Seli Andina Miranti August 15, 2026 07:31 PM

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi masih melakukan penyelidikan terkait dugaan keracunan yang dialami 134 warga Pondok Pesantren Baiti Jannati, Kampung Rawa Gede, RT 03/RW 05, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Sebanyak 134 warga pondok, terdiri dari 133 santri dan satu ustaz, sebelumnya mengalami sejumlah gejala seperti mual, pusing, muntah hingga mulas.

Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan assessment dan Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

"Rata-rata hampir sama menunjukkan gejala ya, seperti mual, kemudian muntah, gitu-gitu. Nah, yang seperti itu. Makanya kami pun dari Dinas Kesehatan juga melakukan PE," kata Ida, Sabtu (15/8/2026).

Dinkes juga telah mengambil sejumlah sampel untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Baca juga: BREAKING NEWS: 134 Santri Ponpes Baiti Jannati Sukabumi Keracunan, 1 Ustaz Turut Jadi Korban

Sampel tersebut meliputi sisa makanan yang diduga dikonsumsi para santri, termasuk menu Makan Bergizi Gratis (MBG), serta makanan yang tersedia di dapur pondok pesantren.

"Muntahan dan sisa-sisa makanan yang tersisa kita ambil. Sayuran ada, ada telur, ada tempe, dan susu. Semua sampel makanan termasuk yang ada di dapur pesantren juga kita ambil," ujarnya.

Selain sisa makanan, petugas juga mengambil sampel muntahan dari sejumlah pasien.

Sampel tersebut akan diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya bakteri atau penyebab lain yang berkaitan dengan munculnya gejala pada para santri.

Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat dan Labkesda Kota Sukabumi.

Menurut Ida, hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui sekitar satu pekan.

"Nanti diperkuat dengan hasil data laboratorium. Jadi nanti secara utuh baru kita bisa simpulkan ya seperti apa," jelasnya.

Sebanyak 134 warga pondok pesantren, terdiri dari 133 santri dan satu ustaz, dilaporkan mengalami gejala mual, pusing, muntah hingga mulas.

Gejala tersebut mulai dirasakan sejumlah santri pada Jumat (14/8/2026) sore dan jumlahnya bertambah secara bertahap hingga Sabtu (15/8/2026) pagi.

Pengasuh Ponpes Baiti Jannati, Faid Fauzan mengatakan, sejumlah santri mulai mengeluhkan pusing sekitar pukul 14.30 WIB.

"Kronologinya kejadiannya itu anak-anak mulai pusing mulai 14.30 kemarin siang menjelang sore. Nah, kemudian ada yang muntah di malam harinya, ada yang mulas. Begitu tidur, pagi tadi setelah Subuh, kami selesai halaqah Subuh, itu kami mendapati banyak santri yang muntah-muntah," kata Faid, Sabtu (15/8/2026) sore.

Melihat jumlah santri yang mengalami gejala semakin bertambah, pengurus pondok langsung melakukan evakuasi.

Para santri dibawa untuk mendapatkan penanganan medis di Puskesmas, RSUD Al Mulk dan RSUD R Syamsudin SH atau Bunut.

"Kami bawa beberapa anak yang sudah muntah-muntah, sudah pusing ke Puskesmas. Puskesmas menganjurkan kami ke IGD RSUD Al-Mulk. Tapi karena jumlahnya semakin bertambah, sehingga Al-Mulk menyarankan untuk dibawa sebagian ke Bunut," ujarnya.

Faid mengatakan, dari total 645 santri yang berada di Ponpes Baiti Jannati, sejauh ini terdapat 134 warga pondok yang mengalami indikasi gejala keracunan.

"Total semua santri yang terkena sakit tersebut itu adalah 133 plus satu. Terdiri dari santri SMP, santri SMA, dan satu orang Dewan Asatidz atau Dewan Ustaz yang ada di sini," katanya.

Baca juga: BGN Tutup Sementara SPPG Cibadak Imbas Keracunan Susu Kedaluwarsa MBG di Sukabumi

Sebagian santri masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara sejumlah lainnya telah diperbolehkan pulang dan kembali ke pondok pesantren.

"Sebagian sudah diperbolehkan untuk pulang, alhamdulillah. Sekarang sudah ada di pondok beberapa, dan kami mendengarkan informasi beberapa yang masih dirawat di rumah sakit juga sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan kesehatannya," kata Faid.

Dugaan keracunan ini terjadi setelah para santri mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat siang.

Menu yang disantap terdiri dari nasi putih, tumis sayur pakcoy, telur ceplok balado, tempe orek dan susu kotak.

Faid mengatakan, makanan MBG tiba di pondok sekitar pukul 11.00 WIB dan dikonsumsi para santri sekitar pukul 12.30 WIB.

Kemudian sekitar dua jam setelah makan, sejumlah santri mulai mengalami gejala pusing hingga muntah.

"Karena memang kemarin kan hari Jumat tuh, sampai di sini (menu MBG) jam 11.00, lalu jam 12.30 kita makan," paparnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.