Liputan6.com, Jakarta - Ada beberapa alasan Gen Z lebih berani izin kerja ketika merasa tubuh atau pikirannya sudah tidak sanggup mengikuti rutinitas. Bagi generasi ini, pergi ke kantor dalam kondisi sangat lelah tidak selalu dianggap sebagai bukti tanggung jawab. Istirahat juga bisa menjadi bagian dari menjaga diri agar tetap mampu bekerja dengan baik.
Hal tersebut kadang membuat Gen Z terlihat berbeda di mata generasi yang lebih tua. Sebagian milenial mungkin terbiasa dengan prinsip bahwa pekerjaan harus diselesaikan terlebih dahulu. Sakit, lelah, atau sedang punya masalah pribadi sering kali dianggap bukan alasan yang cukup untuk tidak masuk kerja.
Gen Z tumbuh dengan pembicaraan yang lebih terbuka tentang burnout, kesehatan mental, lingkungan kerja yang sehat, dan work-life balance. Karena itu, mereka cenderung lebih berani mengatakan ketika membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Lantas, apa saja alasan yang membuat Gen Z lebih berani mengambil izin kerja dibandingkan generasi milenial? Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (11/8/2026).

Bayangkan seseorang sudah duduk di depan komputer sejak pagi. Email sudah terbuka, pekerjaan sudah menunggu, tetapi satu tugas sederhana saja terasa sulit diselesaikan. Pikiran seperti tidak bisa bekerja dengan baik.
Kondisi semacam ini mungkin dulu lebih sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dilewati. Selama masih bisa datang ke kantor, pekerjaan tetap dijalankan. Rasa lelah baru dianggap serius jika sudah benar-benar membuat seseorang tidak mampu beraktivitas.
Gen Z cenderung lebih terbuka dalam mengakui kondisi tersebut. Ketika merasa sudah terlalu lelah secara mental, mereka lebih mungkin mempertimbangkan untuk beristirahat atau mengambil izin.
Hal ini menjadi salah satu alasan Gen Z lebih berani izin kerja. Mereka tidak selalu melihat istirahat sebagai tanda malas. Ada pemahaman bahwa memaksakan diri ketika sudah tidak mampu berkonsentrasi juga tidak akan membuat pekerjaan menjadi lebih baik.
Cottonwood Psychology menggambarkan perbedaan ini melalui pengalaman seorang pekerja yang terkejut ketika rekan kerja Gen Z dengan tenang mengatakan ingin tinggal di rumah karena sudah sangat kelelahan. Bagi sebagian generasi yang lebih tua, keputusan seperti itu mungkin terasa asing karena mereka terbiasa dengan budaya “tetap masuk meski sedang tidak baik-baik saja”.
Perubahan cara pandang tersebut juga sejalan dengan perhatian yang semakin besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan pekerja. U.S. Surgeon General memasukkan kesehatan mental, waktu istirahat, fleksibilitas, serta lingkungan kerja yang sehat sebagai bagian penting dari kesejahteraan di tempat kerja. (hhs.gov)
Punya atasan yang sulit dihadapi bisa membuat pekerjaan terasa jauh lebih berat. Bayangkan setiap hari harus menghadapi arahan yang berubah-ubah, teguran yang tidak jelas, atau komunikasi yang membuat karyawan terus merasa salah.
Sebagian pekerja mungkin memilih diam dan bertahan. Mereka menganggap hal tersebut sebagai bagian dari dunia kerja.
Gen Z cenderung lebih berani mempertanyakan keadaan seperti ini. Jika cara memimpin seseorang sudah membuat suasana kerja tidak sehat, mereka lebih mungkin melihatnya sebagai masalah yang perlu dibicarakan, bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Cottonwood Psychology menyebut bahwa pekerja muda lebih terbiasa dengan pembicaraan mengenai atasan yang buruk, lingkungan kerja yang tidak sehat, dan batasan dalam hubungan profesional. Karena itu, mereka tidak selalu menganggap bertahan dalam situasi tersebut sebagai bukti loyalitas.
Bukan berarti Gen Z tidak bisa menerima kritik atau tuntutan pekerjaan. Mereka hanya lebih mungkin membedakan antara tuntutan pekerjaan yang wajar dan perlakuan yang membuat seseorang terus-menerus merasa tertekan.
Survei Deloitte juga menunjukkan bahwa dukungan dari atasan menjadi hal penting bagi Gen Z dan milenial. Keduanya mengharapkan manajer dapat memberikan bimbingan, membantu perkembangan karier, sekaligus mendukung keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. (deloitte.com)

Datang ke kantor saat sedang sakit dulu sering dianggap sebagai tanda pekerja yang bertanggung jawab. Ada orang yang bahkan merasa bangga karena tetap bekerja meski sedang demam atau tidak enak badan.
Pandangan tersebut berubah setelah pandemi. Bagi banyak Gen Z, datang ke tempat kerja dalam kondisi sedang mengalami penyakit menular bukan hanya soal diri sendiri. Ada rekan kerja yang bisa ikut tertular. Satu orang yang sakit juga dapat membuat beberapa orang lain tidak bisa bekerja dengan baik.
Karena itu, mengambil izin ketika sakit dapat dianggap sebagai keputusan yang masuk akal. Daripada memaksakan diri datang dan akhirnya membuat kondisi semakin buruk atau menularkan penyakit kepada orang lain, lebih baik beristirahat di rumah.
Cottonwood Psychology juga menyoroti pengalaman pandemi sebagai salah satu hal yang membentuk cara Gen Z melihat kesehatan di tempat kerja. Batuk atau demam di ruang kerja tidak lagi selalu dianggap sebagai gangguan kecil.
Pandangan ini sebenarnya bukan hanya milik Gen Z. Siapa pun yang sakit tentu sebaiknya mempertimbangkan kondisi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Perbedaannya, Gen Z mungkin lebih nyaman menyampaikan keputusan tersebut tanpa merasa harus membuktikan bahwa dirinya tetap kuat.
Ada perbedaan antara bekerja dan terlihat sibuk.
Seseorang bisa menghabiskan satu hari penuh di kantor, mengikuti rapat, membalas banyak pesan, membuka berbagai dokumen, dan tetap terlihat sangat sibuk. Namun, belum tentu pekerjaan penting benar-benar selesai.
Gen Z cenderung lebih kritis terhadap kebiasaan semacam ini. Jika sebagian besar waktu hanya digunakan untuk menunggu rapat, menghadiri pertemuan yang tidak perlu, atau berpura-pura produktif, mereka mungkin mempertanyakan manfaatnya.
Cottonwood Psychology menggambarkan kondisi ini sebagai kesibukan yang hanya menjadi “pertunjukan”. Orang terlihat bekerja keras karena terus berada di depan komputer atau kantor, padahal pekerjaan yang benar-benar penting tidak banyak bergerak.
Milenial mungkin lebih familiar dengan budaya seperti ini. Bagi sebagian pekerja yang lebih tua, terlihat sibuk adalah bagian dari menunjukkan keseriusan terhadap pekerjaan.
Gen Z justru lebih mungkin bertanya, “Kalau pekerjaan sudah selesai, mengapa harus terus terlihat sibuk?”
Cara berpikir ini juga berkaitan dengan keinginan terhadap pola kerja yang lebih fleksibel. Survei Deloitte menunjukkan bahwa keseimbangan hidup menjadi hal penting bagi Gen Z dan milenial ketika mereka menilai pekerjaan dan karier. (www2.deloitte.com)

Lingkungan kerja yang tidak nyaman bisa membuat seseorang cepat kehilangan energi. Bukan hanya karena pekerjaannya, tetapi juga karena harus menghadapi orang-orang atau situasi yang membuat stres setiap hari.
Misalnya, ada rekan kerja yang sering meremehkan orang lain. Ada pula lingkungan yang penuh gosip, candaan yang menyinggung, komunikasi kasar, atau kebiasaan menyalahkan seseorang ketika terjadi masalah.
Dulu, banyak orang mungkin memilih diam. Mereka berpikir, “Namanya juga kerja.”
Gen Z cenderung lebih terbuka untuk membicarakan masalah tersebut. Mereka lebih mudah mengenali bahwa suasana kerja juga memengaruhi kesehatan dan kemampuan seseorang untuk bekerja.
Inilah salah satu alasan Gen Z lebih berani izin kerja ketika merasa lingkungan pekerjaan sedang sangat menguras energi. Mereka tidak selalu menganggap harus bertahan sepanjang waktu hanya demi terlihat profesional.
U.S. Surgeon General juga menekankan pentingnya hubungan sosial yang sehat, rasa dihargai, serta rasa aman di tempat kerja. Lingkungan kerja yang baik bukan hanya soal gaji, tetapi juga tentang bagaimana pekerja diperlakukan. (hhs.gov)
Gen Z juga memasuki dunia kerja dengan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Biaya hidup meningkat, harga tempat tinggal tinggi, dan mendapatkan keamanan finansial tidak selalu mudah.
Kondisi tersebut membuat mereka lebih berani bertanya: seberapa besar pengorbanan yang memang layak diberikan untuk sebuah pekerjaan?
Jika pekerjaan memberikan gaji yang pas-pasan tetapi menuntut waktu dan tenaga yang sangat besar, sebagian Gen Z mungkin tidak merasa perlu mengorbankan seluruh kehidupan pribadinya demi pekerjaan tersebut.
Hal ini bukan berarti mereka tidak mau bekerja keras. Mereka hanya lebih terbuka melihat hubungan antara pekerjaan dan imbalan secara realistis.
Survei Deloitte 2025 menemukan bahwa 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial yang disurvei merasa belum memiliki keamanan finansial. Lebih dari separuh responden dari kedua generasi juga mengatakan mereka hidup dari gaji ke gaji. (www2.deloitte.com)
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan finansial bukan hanya dirasakan Gen Z. Milenial juga mengalaminya. Perbedaannya mungkin terlihat dari cara generasi muda membicarakan persoalan tersebut secara lebih terbuka.
Jika hubungan antara gaji, beban kerja, dan kehidupan pribadi dirasa tidak seimbang, mereka lebih mungkin mempertimbangkan kembali seberapa besar pengorbanan yang ingin diberikan.

Bagi Gen Z, hidup tidak berhenti ketika jam kerja dimulai.
Ada keluarga yang perlu diperhatikan, teman yang ingin ditemui, kebutuhan untuk beristirahat, hobi, pendidikan, dan berbagai urusan pribadi lainnya.
Cara pandang seperti ini membuat pekerjaan tidak selalu ditempatkan di posisi paling atas. Ketika ada kebutuhan pribadi yang penting, Gen Z mungkin lebih nyaman menggunakan hak izin yang tersedia daripada merasa bersalah sepanjang hari.
Cottonwood Psychology menggambarkan perbedaan tersebut dengan cukup jelas. Banyak pekerja dari generasi sebelumnya terbiasa menganggap kebutuhan pribadi baru layak didahulukan ketika sudah menjadi keadaan darurat. Sebelum sampai pada tahap itu, pekerjaan tetap harus berjalan.
Gen Z cenderung memiliki batas yang berbeda. Mereka bisa menganggap tidur yang cukup, memulihkan energi, mengurus keluarga, atau menangani masalah pribadi sebagai kebutuhan yang memang penting.
Pandangan tersebut berkaitan erat dengan work-life balance. Menurut Deloitte, Gen Z dan milenial sama-sama semakin memperhatikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Keduanya juga mempertimbangkan faktor uang, makna pekerjaan, serta kesejahteraan ketika menentukan pilihan karier. (www2.deloitte.com)
Perbedaan antara Gen Z dan milenial dalam urusan izin kerja sebenarnya tidak sesederhana siapa yang lebih rajin dan siapa yang lebih malas.
Generasi milenial tumbuh dalam budaya kerja yang banyak menekankan ketahanan. Datang ke kantor setiap hari, menyelesaikan tugas meski sedang lelah, dan tidak banyak mengeluh sering dianggap sebagai tanda pekerja yang baik.
Gen Z memasuki dunia kerja dengan aturan tidak tertulis yang mulai berubah. Mereka lebih sering mendengar tentang burnout, kesehatan mental, fleksibilitas, dan pentingnya menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Karena itu, alasan Gen Z lebih berani izin kerja tidak selalu berkaitan dengan keinginan untuk menghindari pekerjaan. Bisa jadi mereka hanya memiliki cara berbeda dalam menentukan kapan harus bekerja dan kapan harus beristirahat.
Pada akhirnya, mengambil izin juga tidak otomatis berarti seseorang malas. Selama dilakukan sesuai aturan perusahaan dan tanggung jawab pekerjaan tetap diperhatikan, beristirahat dapat menjadi bagian dari menjaga kemampuan untuk bekerja dalam jangka panjang.
Perbedaan cara pandang ini justru bisa menjadi bahan pembelajaran bagi tempat kerja. Generasi yang lebih tua dapat memahami bahwa tidak semua bentuk ketahanan harus ditunjukkan dengan memaksakan diri. Sebaliknya, Gen Z juga tetap perlu memahami bahwa fleksibilitas memiliki tanggung jawab dan aturan yang harus dihormati.
Belum tentu. Perbedaan yang lebih terlihat adalah Gen Z cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan kebutuhan untuk beristirahat, menjaga kesehatan mental, atau menangani urusan pribadi. Frekuensi izin tetap dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, kebijakan perusahaan, kondisi kesehatan, dan situasi masing-masing pekerja.
Tidak tepat jika seluruh Gen Z dianggap lebih malas. Banyak Gen Z tetap ingin berkembang dan memiliki pekerjaan yang baik. Perbedaannya, mereka cenderung tidak ingin mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadi hanya untuk menunjukkan loyalitas kepada pekerjaan.
Gen Z melihat pekerjaan sebagai salah satu bagian dari kehidupan, bukan satu-satunya bagian. Mereka ingin memiliki waktu untuk keluarga, teman, istirahat, hobi, dan kebutuhan pribadi. Karena itu, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi pertimbangan penting ketika memilih atau mempertahankan pekerjaan.
Tentu saja tidak. Milenial juga peduli terhadap kesehatan mental dan work-life balance. Perbedaannya lebih berkaitan dengan pengalaman saat memasuki dunia kerja. Sebagian milenial tumbuh dalam budaya yang membuat mereka terbiasa menahan lelah dan menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu sebelum memikirkan kebutuhan pribadi.
Tidak. Izin kerja tidak otomatis menunjukkan seseorang tidak profesional. Selama dilakukan sesuai prosedur perusahaan, alasan izinnya jelas, dan tanggung jawab pekerjaan tetap diperhatikan, mengambil waktu untuk beristirahat atau menyelesaikan kebutuhan pribadi merupakan bagian dari pengelolaan diri.