Mahasiswa Unwira Sulap Kopi Manggarai dan Biji Kelor Jadi Produk Inovatif, Bidik Pasar Timor Leste
Ryan Nong August 15, 2026 09:19 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon


POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kreativitas mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dalam mengembangkan potensi lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) patut mendapat perhatian.


Melalui Tim Komang, mahasiswa-mahasiswi semester V Program Studi Manajemen, Julian Mukin dan Olimpha Pegan beserta beberapa rekan lainnya mampu mengembangkan produk Komang (Kopi Kelor Manggarai) yang memadukan kopi Manggarai dengan biji kelor.


Produk tersebut diperkenalkan dalam Pameran Pembangunan yang berlangsung di Lapangan Hotel Harper Kupang, Sabtu 15 Agustus 2026.

Baca juga: Trauma Gempa, Ribuan Warga dievakuasi ke Stadion Gelora Samador Maumere

Bukan sekadar menciptakan minuman kopi dengan cita rasa berbeda, Tim Komang mencoba menghadirkan produk yang mengangkat potensi petani dan masyarakat desa di NTT.


"Kami dari Unwira kali ini membawa produk yang namanya Komang, Kopi Kelor Manggarai. Kami mengambil biji kopi langsung dari petani di Kabupaten Manggarai," ujar Julian Muki salah satu  perwakilan Tim Komang.


Menurut Julian, inovasi utama Komang terletak pada penggunaan biji kelor sebagai campuran kopi. Tanaman kelor sendiri cukup mudah ditemukan di NTT, namun pemanfaatan bijinya masih belum banyak dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.


Menariknya, kata dia proses pengolahan kopi juga tetap mempertahankan cara tradisional. Biji kopi disangrai sendiri kemudian ditumbuk menggunakan lesung.


"Kami tetap mempertahankan alat tradisional di era generasi zaman sekarang. Aromanya sangat wangi khas kopi sangrai," katanya.


Semangat Tim Komang tidak berhenti pada produk kopi. Mahasiswa juga berupaya membangun rantai usaha yang melibatkan masyarakat lokal.


Biji kopi diperoleh langsung dari petani di Manggarai, sedangkan bahan baku biji kelor diperoleh dari Desa Oelomin dan Desa Oebelo.


Mereka juga menggandeng pengrajin anyaman lontar di Desa Oebelo untuk membuat wadah atau kain cup yang digunakan sebagai alternatif pengganti plastik.


"Kami memberdayakan bapak-bapak di sana, jadi ini murni hasil kerajinan tangan mereka," jelasnya.


Untuk pengelolaan sampah dari produk siap minum, Tim Komang bekerja sama dengan Mutiara Timor Bank Sampah. Sementara untuk promosi dan distribusi, mereka menggandeng NTT Market.


Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa agar bisnis yang dibangun tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat.


Perjalanan produk Komang dimulai dari pengajuan proposal program kepada Kemendikbudristek sejak April 2026.


Sementara produksi dan pemasaran produk dalam bentuk kopi bubuk maupun siap saji mulai dieksekusi sejak awal Juli.


Meski baru berjalan sekitar satu setengah bulan, Tim Komang sudah memiliki target pasar yang lebih luas.


Mereka berencana membawa produk kopi kelor tersebut ke Jawa melalui berbagai kegiatan kampus.


Tidak berhenti di dalam negeri, peluang pasar internasional juga mulai terbuka.


Rekan mereka di Timor Leste bahkan telah menyatakan ketertarikan untuk membeli produk Komang dan menjualnya kembali di negara tersebut.


"Rencananya kami akan membawa produk lokal NTT ini ke Jawa melalui kegiatan kampus dan semoga bisa tembus ekspor ke Timor Leste. Saat ini pemasarannya masih berfokus di wilayah NTT," ujarnya.


Untuk menarik berbagai segmen konsumen, kata Julian Komang hadir dalam sejumlah varian.


Produk siap saji varian Original Hot/Ice dibanderol Rp 12.000. Varian Jahe, Komang Milk dan Cokelat Milk masing-masing Rp 15.000. Sementara varian Less Sugar Original dan Kelor dijual Rp 12.000.


Untuk kopi kelor bubuk, kemasan 250 gram dijual Rp 50.000 dan 500 gram Rp 85.000.
Ada pula kopi murni Manggarai kemasan satu kilogram seharga Rp 90.000 serta bubuk biji kelor murni Rp 35.000.


Menurut Julian, Tim Komang menyasar dua kelompok konsumen utama. Orang dewasa yang mulai memperhatikan gaya hidup sehat diarahkan pada produk original dan kopi kelor tanpa gula.


Sementara generasi muda menjadi sasaran varian Komang Milk dan Cokelat Milk yang dirancang sebagai pilihan bagi mereka yang gemar nongkrong.


Julian menjelaskan bahwa pengembangan usaha ini mendapat dukungan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dengan hibah sekitar Rp 8 juta hingga Rp 9 juta.


Selain pendanaan dari program tersebut, Tim Komang juga memperoleh dukungan pendanaan dan fasilitas dari Unwira.


Pemasaran saat ini, kata Julian dilakukan melalui WhatsApp, Instagram @komang.unwira, serta TikTok. 


Ke depan, lanjut Julian setelah program P2MW berakhir, Tim Komang memiliki ambisi untuk membuka kedai atau kafe sendiri.


"Kami ingin menciptakan tempat nongkrong yang estetis dan nyaman sesuai kebutuhan anak muda zaman sekarang," kata Julian.


Ia berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi NTT, semakin aktif memberikan ruang promosi bagi UMKM dan wirausaha muda.


Menurutnya, banyak produk lokal NTT yang memiliki kualitas baik, tetapi belum mendapatkan akses pasar yang memadai.


"Banyak potensi desa, seperti pengrajin anyaman lontar, yang produknya bagus tetapi dijual murah karena takut tidak laku. Jika dirangkul dan diberi wadah, produk lokal NTT sangat berpotensi tembus ke pasar internasional," ujarnya.


Bagi mereka, kata Julian keberhasilan usaha mahasiswa bukan semata soal menghasilkan produk dan keuntungan.


Lebih dari itu, mereka ingin membuktikan bahwa mahasiswa dapat menjadi bagian dari pencipta lapangan kerja dengan mengolah kekayaan lokal NTT menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.


"Semoga ke depannya acara seperti ini terus mendukung UMKM, sehingga kami tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi bisa membuka lapangan kerja dan menggaji orang lain," pungkasnya. (*)


 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.