Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Suara musik dari pengeras suara berpadu, dengan gerakan senam sejumlah anak Sekolah Dasar (SD) di lapangan SD Negeri 3 Tonjong, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Para siswa yang mengenakan pakaian olahraga berwarna biru itu, tampak semangat mengikuti setiap gerakan guru di depannya. Selesai senam, anak-anak antri mencuci tangan dengan sabun, dilanjutkan menyantap bekal sarapan masing-masing.
Aktivitas itu menjadi kebiasaan rutin yang dilakukan para siswa setiap Sabtu, setelah mendapatkan pendampingan dari program Japfa for Kids tahun 2025.
Di SD Negeri 3 Tonjong, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon terdapat 8 siswa yang termasuk kategori malagizi. Melalui program Japfa for Kids, guru, siswa dan orang tua diberikan edukasi tentang gizi seimbang dan pola hidup sehat.
Baca juga: Cek Komposisi Sebelum Memilih, Ini yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Selain Informasi Nilai Gizi
Program Japfa For Kids di SD Negeri 3 Tonjong dimulai dengan pendampingan dan edukasi oleh fasilitator kepada PIC dan Kepala Sekolah.
Edukasi diberikan meliputi pola hidup sehat dan gizi seimbang, manfaat konsumsi telur hingga laporan pengukuran berat badan dan tinggi badan siswa setiap satu bulan sekali.
Pada fase kedua, giliran PIC Sekolah yang melakukan edukasi serupa kepada siswa, tanpa pendampingan fasilitator.
Di SD Negeri Tonjong, perubahan sudah mulai terlihat dengan berkurangnya siswa malagizi dari fase I yang mulanya terdapat delapan siswa, kini berkurang menjadi satu siswa.
Berakhirnya fase dua ini, menjadi tantangan bagi Sekolah untuk meneruskan kebiasaan sehat yang sudah dilakukan sejak fase pertama.
Di SD Negeri 3 Tonjong, kebiasaan itu terus diterapkan melalui hari sehat Japfa setiap Sabtu, diisi dengan kegiatan senam pagi, makan bekal bersama sambil sosialisasi tentang makanan sehat gizi seimbang serta melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan siswa setiap satu bulan sekali.
Keberhasilan SD Negeri 3 Tonjong mengentaskan malagizi pada siswa, menjadi salah satu bukti bahwa persoalan gizi anak dapat dientaskan jika memiliki komitmen bersama.
Head of Social Investment Japfa, Retno Artsanti mengatakan, Japra for Kids dijalankan melalui berbagai pendekatan terintegrasi. Mulai dari pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, serta pemantauan berat badan dan tinggi badan berbasis aplikasi digital, hingga pembiasaan pola hidup sehat melalui program Hari Sehat Japfa.
“Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten,” ujar Retno Artsanti, dikutip dari laman resmi Japfa, Jumat (14/8/2026).
Guru Besar Departemen Gizi sekaligus Wakil Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Sandra Fikawati mengatakan, perhatian terhadap gizi anak merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
"Dulu pertumbuhan (anak-anak) tidak dipikirkan, makanya kita kurang kompetitif (sumber daya manusianya), karena saat perkembangan fisik dan otak kita tidak pernah diberikan makanan bergizi,” ujar Prof. Sandra.
Manfaat program gizi, kata Prof. Sandra, tidak hanya tercermin dari bertambahnya berat badan anak, tetapi juga berdampak pada kemampuan belajar, perkembangan kognitif, dan tingkat kehadiran siswa di sekolah. Sehingga, edukasi mengenai protein hewani, pola makan seimbang, dan perilaku hidup sehat perlu terus dilakukan secara berkelanjutan.
Baca juga: Dapur Makan Bergizi Gratis di Bandung Barat Pakai AI, Tanya Menu dan Gizi Cukup Lewat WA
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 11 persen anak usia 5-12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Data JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program pada 2024 pun menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami kondisi malagizi, sehingga masalah pemenuhan gizi anak masih membutuhkan perhatian bersama.
Masalah malagizi masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Melalui program Japfa for Kids, perusahaan produsen protein hewani ini merasa bertanggung jawab untuk memberi edukasi terkait pola makan bergizi seimbang dan hidup sehat.
Peningkatkan status gizi anak dilakukan dengan membiasakan penerapan empat pilar gizi seimbang di sekolah dasar sasaran melibatkan guru, orang tua, dan tenaga kesehatan yang diberikan pelatihan mengenai gizi dan pengelolaan program.
Pelaksanaan program ini pun tidak hanya dipantau oleh tim Japfa. Tapi, guru dilibatkan dalam mencatat konsumsi harian melalui aplikasi. Pertemuan rutin setiap bulan juga dilakukan dengan orang tua, untuk memastikan keterlibatan aktif keluarga.
Direktur Corporate Affairs Japfa, Rachmat Indrajaya mengatakan, Japfa for Kids merupakan bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan untuk mendukung tumbuh kembang anak Indonesia.
“Selama 18 tahun, Japfa for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia,” ujar Rachmat.
Menurutnya, membangun masa depan bangsa harus dimulai dengan memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan hidup dalam lingkungan sehat.
Hingga 2025, Japfa for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. Program ini juga menunjukkan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi siswa.
Pada 2024, sekitar 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5 persen. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5 persen.
Pada 2026, program kembali dilanjutkan dengan sasaran yang lebih luas. Total 93 sekolah dasar negeri dengan sekitar 16.000 siswa menjadi sasaran program di sejumlah kabupaten/kota, antara lain Padang Pariaman, Bintan, Lampung Selatan, Bogor, Tegal, Karanganyar, Lamongan, dan Maluku Utara.
Perjalanan 18 tahun, tentunya tidak hanya dilihat dari jumlah penerima manfaat. Tapi, keberlanjutan sekolah menerapkan program seperti halnya yang dilakukan Subur Leonita, guru sekaligus penanggung jawab program Japfa for Kids di SDN 3 Tonjong. Menurutnya, program Japfa for Kids membawa perubahan signifikan, meski sudah tidak lagi didampingi fasilitator.
“Program ini bukan hanya soal makanan bergizi, tapi juga mendidik anak untuk hidup sehat secara menyeluruh,” kata Subur.
Subur berharap program ini dapat berlanjut secara berkesinambungan, mengingat dampaknya yang sangat positif, terutama bagi anak-anak yang mengalami malnutrisi.
“Saya rasa program ini harus terus dilanjutkan karena manfaatnya nyata, terutama bagi siswa dengan kondisi gizi kurang. Konsumsi telur yang diberikan sangat membantu,” katanya.
Tasih, salah satu orang tua penerima manfaat asal Tonjong, Cirebon mengatakan kini anaknya mulai menyukai telur dan menjadi lebih sehat dan aktif setelah menerima program Japfa for Kids. Tasih pun jadi terbiasa membekali anaknya dengan makanan sehat.
“Sekarang, anak saya lebih semangat. Jadi jarang sakit dan lebih aktif. Semoga program ini terus berjalan dan tepat sasaran untuk anak-anak yang memang sedang butuh peningkatan gizi,” ujar Tasih.