Jeritan Warga di Tengah Kepungan Limbah Sungai Bango Pati, Cemari Sawah hingga Timbulkan Penyakit
rival al manaf August 15, 2026 11:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, PATI — Pencemaran limbah industri dan domestik kian memperburuk kondisi Sungai Bango (Mbango) yang melintasi Desa Bulumanis Lor, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. 

Tumpukan limbah organik dan nonorganik dari industri pengolahan tapioka hingga udang tersebut memicu ancaman serius bagi kelangsungan hidup warga setempat, mulai dari gagal panen ratusan hektare lahan pertanian dan tambak hingga ancaman penyakit berbahaya.

Kepala Desa Bulumanis Lor, Moh Kunarso, menuturkan bahwa mayoritas warganya yang berprofesi sebagai petani dan petambak kini menanggung kerugian besar. 

Ia menjelaskan daun padi kerap menguning sebelum menua hingga berujung gagal panen, sementara ikan di tambak mati mendadak serta mengalami gangguan pertumbuhan.

"Limbahnya dari pabrik pengolah udang dan juga tapioka. Luasan lahan (yang tercemar) ratusan hektare," ungkap Kunarso kepada awak media, Sabtu (15/8/2026).

Kondisi tersebut kian parah saat musim penghujan tiba karena tumpukan sampah yang menggunung menyumbat aliran air menuju laut. 

Kunarso menerangkan bahwa luapan air kotor bercampur limbah kerap meluber merendam areal persawahan, tambak ikan, hingga permukiman warga.

"Kalau hujan meskipun air deras dari pegunungan sampahnya tidak bisa sampai ke laut, tertahan di sini. Akhirnya menyumpal di aliran sungai. Airnya bercampur dengan limbah sehingga keluar ke kanan-kiri, akhirnya pertanian dan tambak terdampak," ujarnya.

Pencemaran di Desa Bulumanis Lor sejatinya telah berlangsung selama berpuluh tahun, dengan eskalasi keparahan yang memuncak sejak 2019 hingga kini. 

Kunarso mengaku berbagai pertemuan lintas sektor bersama pelaku industri telah berulang kali digelar, namun hingga kini belum ada tindakan konkret dari pihak pabrik. 

Menurutnya, masyarakat kini hanya bisa menunggu ketegasan pemerintah untuk mengeksekusi penanganan wilayah terdampak.

Keresahan serupa disuarakan oleh kalangan pegiat lingkungan dari Aliansi Warga Anti Limbah (AWALI) yang mendesak ketegasan pemerintah terhadap pabrik-pabrik tanpa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). 

Aktivis AWALI, Kholid, mengungkapkan bahwa limbah beracun yang dibuang langsung ke sungai itu menebarkan bau menyengat yang sangat mengganggu kenyamanan.

"Kami dari AWALI mendapat kabar bahwa ada warga yang kena kanker dampak dari aroma bau limbah. Pencemaran limbah beracun ini menguapkan gas beracun, bahkan bisa melekat di tubuh atau baju," tegas Kholid.

Ia menambahkan bahwa pihaknya telah melayangkan laporan resmi ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hingga ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dengan harapan eksekusi penindakan benar-benar terwujud di lapangan.

Merespons persoalan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, turun langsung menyusuri bantaran Sungai Bango sejauh 500 meter dengan didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati serta Kepala DLH Kabupaten Pati. 

Chandra menilai pengerukan semata akan sia-sia jika pencemaran di hulu terus berlanjut.

"Walaupun sudah ditangani sejak Juni-Juli tapi sampah sampai hari ini banyak lagi menumpuk. Walaupun kita keruk lagi sebulan, dua bulan akan begini lagi," kata Chandra.

Sebagai tindak lanjut, Chandra menegaskan bahwa DLH akan segera mengumpulkan para pelaku industri tapioka guna mewajibkan pembuatan IPAL berstandar, sekaligus meminta komitmen bersama masyarakat agar tidak lagi membuang sampah rumah tangga ke aliran sungai. (mzk)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.