TRIBUNJOGJA.COM - Pernahkah Tribunners mengatakan kepada diri sendiri, "Aku beruntung, semua akan berjalan dengan baik"?
Kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar biasa.
Namun, beberapa tahun terakhir muncul tren di media sosial yang membuat afirmasi semacam ini menjadi lebih populer.
Namanya Lucky Girl Syndrome.
Tren ini mengajak seseorang untuk meyakini bahwa dirinya adalah orang yang beruntung dan berbagai hal baik akan datang dalam hidupnya.
Di TikTok, konsep tersebut banyak dikaitkan dengan manifestasi.
Seseorang mengucapkan afirmasi positif secara berulang, seperti "semua berjalan lancar untuk saya", kemudian percaya bahwa hal-hal baik akan mengikuti.
Lantas, benarkah afirmasi positif bisa mengubah hidup seseorang?
Apa Itu Lucky Girl Syndrome?
Lucky Girl Syndrome pada dasarnya merupakan pola pikir yang mendorong seseorang untuk melihat dirinya sebagai orang yang beruntung.
Istilah ini bukan diagnosis medis maupun kondisi psikologis resmi.
Konsepnya lebih dekat dengan tren afirmasi positif dan manifestasi yang berkembang di media sosial.
Orang yang menerapkannya biasanya mengulang kalimat-kalimat positif untuk membangun keyakinan bahwa hal baik akan datang kepadanya.
Misalnya:
"Saya sangat beruntung."
"Semua selalu berjalan baik untuk saya."
"Saya selalu berada di tempat dan waktu yang tepat."
Bagi sebagian orang, kebiasaan tersebut dapat membantu mengubah cara melihat kehidupan.
Ketika sebelumnya lebih sering memperhatikan kegagalan, seseorang mulai memberi perhatian lebih besar pada kesempatan dan pengalaman yang menyenangkan.
Mengapa Afirmasi Positif Bisa Terasa Membantu?
Manusia memang tidak selalu melihat kehidupan secara netral.
Pikiran dapat lebih mudah tertarik pada masalah, ancaman, atau pengalaman buruk.
Karena itu, membiasakan diri memperhatikan sisi positif dapat membantu seseorang keluar dari pola pikir yang terlalu negatif.
Psikolog Susan Albers dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa pola pikir positif dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri, motivasi, dan mengurangi stres.
Ketika seseorang meyakini dirinya beruntung, otak juga dapat menjadi lebih peka terhadap pengalaman yang sesuai dengan keyakinan tersebut.
Contohnya sederhana.
Seseorang yang percaya bahwa dirinya selalu mendapatkan kesempatan baik mungkin akan lebih berani mencoba sesuatu.
Ketika ada lowongan pekerjaan, ia mengirim lamaran.
Ketika ada kesempatan belajar sesuatu yang baru, ia mencoba.
Ketika bertemu orang baru, ia tidak langsung berpikir bahwa dirinya tidak akan diterima.
Akhirnya, bukan tidak mungkin kesempatan benar-benar lebih banyak datang.
Bukan karena afirmasi secara ajaib mengubah keadaan, melainkan karena cara berpikir tersebut dapat memengaruhi cara seseorang bertindak.
Lalu, Benarkah Afirmasi Bisa Mengubah Hidup?
Jawabannya tidak sesederhana "iya".
Afirmasi positif dapat membantu seseorang membangun pola pikir yang lebih optimistis. Namun, belum ada dasar ilmiah yang menunjukkan bahwa sekadar mengatakan diri sendiri beruntung dapat secara ajaib mendatangkan uang, pekerjaan, pasangan, atau kesuksesan.
Psikologi justru melihat manfaatnya pada hal-hal yang lebih realistis.
Pikiran yang lebih positif dapat membantu seseorang memiliki kepercayaan diri dan motivasi untuk mengambil tindakan.
Artinya, afirmasi bukanlah pengganti usaha.
Kalau ingin mendapatkan pekerjaan, tetap harus mencari dan mengirim lamaran.
Kalau ingin memiliki nilai bagus, tetap harus belajar.
Kalau ingin kondisi keuangan membaik, tetap perlu mengatur pengeluaran.
Afirmasi bisa menjadi dorongan untuk bergerak, tetapi bukan tombol ajaib yang membuat semua keinginan terwujud.
Ketika Lucky Girl Syndrome Berubah Menjadi Toxic Positivity
Di sinilah tren Lucky Girl Syndrome mulai mendapat kritik.
Masalah muncul ketika seseorang percaya bahwa semua kejadian dalam hidup sepenuhnya ditentukan oleh pikiran positif.
Jika sesuatu yang baik terjadi, dianggap sebagai hasil afirmasi.
Namun, ketika sesuatu yang buruk terjadi, seseorang justru menyalahkan dirinya sendiri karena dianggap kurang positif.
Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Ada penyakit, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, kegagalan, ketidakadilan, hingga berbagai keadaan yang berada di luar kendali seseorang.
Pandangan bahwa setiap orang dapat menciptakan seluruh kehidupannya hanya dengan pikiran positif juga berisiko mengabaikan kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, dan kesempatan yang berbeda-beda pada setiap orang.
Karena itu, berpikir positif tidak seharusnya berubah menjadi kewajiban untuk selalu bahagia.
Perasaan Sedih Bukan Berarti Gagal Menjadi "Lucky Girl"
Ada satu hal yang sering terlupakan dalam tren semacam ini.
Emosi negatif tetap merupakan bagian dari kehidupan.
Sedih ketika kehilangan sesuatu adalah hal yang wajar.
Kecewa ketika gagal juga wajar.
Marah, takut, cemas, dan merasa lelah juga bukan tanda bahwa seseorang memiliki "energi buruk".
Justru ketika emosi tersebut terus ditekan karena takut dianggap tidak cukup positif, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dirinya.
Terapis dalam Therapist.com menggunakan gambaran seperti bola pantai yang ditekan ke dalam air. Semakin lama ditekan, bola tersebut pada akhirnya akan kembali muncul ke permukaan.
Begitu pula dengan emosi.
Perasaan yang terus-menerus dihindari tidak serta-merta hilang hanya karena seseorang mengucapkan afirmasi positif.
Lantas, Bagaimana Menggunakan Afirmasi dengan Lebih Sehat?
Lucky Girl Syndrome tidak harus sepenuhnya ditolak.
Yang perlu diubah adalah cara memandangnya.
Daripada menggunakan afirmasi untuk menyangkal kenyataan, gunakan afirmasi untuk membantu diri sendiri menghadapi kenyataan.
Misalnya, daripada mengatakan:
"Semua pasti berjalan sempurna."
coba ubah menjadi:
"Aku mungkin menghadapi hal yang sulit, tetapi aku percaya bisa melewatinya."
Atau ketika gagal mendapatkan sesuatu:
"Aku kecewa karena belum mendapatkannya, tetapi ini bukan berarti semua kesempatan sudah berakhir."
Afirmasi seperti ini tetap memberikan harapan tanpa memaksa seseorang berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan self-compassion, yaitu memperlakukan diri sendiri dengan lebih penuh pengertian ketika menghadapi kesulitan.
Kalau Tribunners sendiri, lebih percaya "aku beruntung karena memang selalu ada hal baik yang datang" atau "keberuntungan datang karena aku berani mengambil kesempatan"?
Tulis pendapat Tribunners di kolom komentar!
(MG Natasya Aulia)