Duka Gempa Flores Menyelimuti Soekarno Cup 2026, Pemain dan Penonton Heningkan Cipta
Samsul Arifin August 16, 2026 12:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), membawa suasana duka hingga ke tengah gelaran Soekarno Cup 2026 di Jawa Timur. 

Semangat pertandingan sejenak dihentikan untuk memberikan penghormatan dan doa bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Sebelum kick-off pertandingan pada Sabtu (15/8/2026), pemain muda dari kedua kesebelasan, official, panitia, hingga penonton serentak mengheningkan cipta.

Aksi solidaritas tersebut dilakukan di sejumlah venue yang menjadi lokasi pertandingan Soekarno Cup 2026, yakni di Surabaya, Gresik, dan Bangkalan.

Gempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu pagi membuat atmosfer kompetisi yang biasanya dipenuhi sorak-sorai berubah menjadi khidmat.

Baca juga: Dua Legenda Timnas Indonesia Dukung Soekarno Cup 2026, Bidik Bintang Baru Sepak Bola Nasional

Pemain dan Penonton Heningkan Cipta

Para pemain dari kedua tim berdiri berdampingan di tengah lapangan. Mereka menundukkan kepala dan memanjatkan doa untuk para korban serta masyarakat yang terdampak gempa.

Di tribun, penonton juga menghentikan sementara dukungan kepada tim masing-masing. Suasana semakin mengharukan ketika sejumlah penonton yang memiliki kerabat di NTT terlihat meneteskan air mata.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa pertandingan sepak bola tidak hanya mempertemukan pemain untuk berkompetisi, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menunjukkan solidaritas ketika saudara sebangsa menghadapi musibah.

Juru Bicara Soekarno Cup, Anang Ma’ruf, mengatakan mengheningkan cipta tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat Flores yang tengah menghadapi bencana.

“Di balik semangat kompetisi dan olahraga, ada rasa persaudaraan bangsa yang tak boleh terputus. Mengheningkan cipta ini merupakan bentuk simpati dan doa terbaik kami untuk saudara-saudara di Flores, NTT, agar diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi musibah ini,” ujar Anang yang juga legenda Timnas Indonesia.

Nilai Kemanusiaan di Atas Rivalitas

Menurut Anang, prosesi tersebut menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan berada di atas persaingan olahraga.

Para pemain muda dan penonton yang datang dari berbagai daerah dipersatukan dalam keheningan untuk menyampaikan doa serta dukungan moral kepada masyarakat Flores yang terdampak gempa.

Bagi penyelenggara dan peserta Soekarno Cup 2026, kompetisi bukan semata-mata menjadi ajang mengukur kemampuan di lapangan hijau.

Di tengah bencana yang menimpa masyarakat NTT, turnamen tersebut juga menjadi momentum untuk memperlihatkan semangat persaudaraan dan kepedulian antarsesama anak bangsa.

Pertandingan Kembali Dilanjutkan

Setelah prosesi mengheningkan cipta selesai, pertandingan kembali dilanjutkan.

Namun, beberapa menit keheningan sebelum kick-off meninggalkan pesan kuat bahwa rivalitas dalam olahraga tidak menghapus rasa kemanusiaan.

Di tengah persaingan untuk meraih kemenangan, para pemain dan penonton Soekarno Cup 2026 menunjukkan bahwa duka akibat bencana dapat menyatukan masyarakat dari berbagai daerah dalam satu doa dan solidaritas untuk Flores, NTT.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.