Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia ditunjukkan secara unik dan bergelora oleh warga Desa Sumber Gedhe, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur.
Baca juga: HUT ke-81 RI, DPRD Lampung Harap Ekonomi Tumbuh, Kemiskinan Turun
Secara bergotong royong, warga setempat mendirikan lorong merah putih sepanjang 210 meter yang berdiri megah mengular dari perempatan hingga ke jalan utama desa.
Pembangunan lorong setinggi 3,5 meter dan lebar 4 meter ini dikerjakan secara gotong royong oleh warga RT 20 sejak awal Agustus 2026 dan memakan waktu sekitar setengah bulan.
Tak hanya membentangkan kain merah putih yang menutupi bagian atas lorong, warga juga memajang puluhan bingkai foto pahlawan nasional, seperti Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien, serta jajaran foto pimpinan daerah sepanjang dinding lorong.
Kepala Desa Sumber Gedhe, Yoso Sukatno, mengapresiasi tinggi inisiatif kreatif warga yang dinilainya memadukan semangat patriotisme dan kebersamaan.
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama pembuatan lorong edukatif ini adalah untuk menggugah ingatan sejarah serta menanamkan pemahaman mendalam tentang arti kemerdekaan dan cara menghargai jasa para pejuang bangsa.
"Tujuannya agar masyarakat memahami arti merdeka dalam menghargai para pahlawan. Orang kalau kehilangan sejarah atau lupa sejarah itu akan linglung."
"Melalui lorong ini, kita menggugah kembali ingatan warga yang dulu pernah sekolah agar selalu menghormati para pejuang," ujar Yoso, saat dikonfirmasi, Sabtu (15/8/2026).
Menariknya, seluruh anggaran pembangunan yang mencapai Rp67 juta murni berasal dari swadaya dan keikhlasan warga tanpa menggunakan dana dari Anggaran Dana Desa (ADD) maupun pungutan paksa.
Pengeluaran terbesar dialokasikan untuk pembelian kain bendera serta lampu hias LED yang membuat lorong tampil sangat memikat pada malam hari.
Tokoh Masyarakat Desa Sumber Gedhe, Sapari, menambahkan bahwa gagasan ini berawal dari antusiasme warga yang ingin menghadirkan simbol kemerdekaan yang bermakna.
Menurutnya, tradisi menghias lingkungan secara unik ini sudah menjadi agenda tahunan desa yang digelar secara bergantian antar-RT, di mana warga kini bahkan sudah mulai menabung untuk rencana peningkatan infrastruktur jalan di tahun depan.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)