TRIBUNNEWS.COM - Tangis pecah di kamar jenazah RSUD TC Hillers Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Keluarga korban gempa Flores datang membawa duka yang tak pernah mereka bayangkan.
Di tempat lain, di Kabupaten Manggarai Timur, sebuah keluarga kehilangan rumah yang baru saja dibangun dari hasil jerih payah merantau.
Dua peristiwa itu menjadi potret getir gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026), sebelum matahari terbit.
Gempa bukan hanya merobohkan bangunan. Gempa juga memutus harapan, mempertemukan keluarga dengan kematian, serta memaksa mereka meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung.
Suasana duka menyelimuti kamar jenazah RSUD TC Hillers Maumere.
Isak tangis keluarga korban pecah ketika jenazah korban gempa tiba di rumah sakit tersebut.
Keluarga berdatangan untuk memastikan kondisi kerabat mereka setelah gempa dahsyat mengguncang Flores.
Kamar jenazah menjadi titik pertemuan antara harapan dan kenyataan pahit.
Mereka yang sebelumnya masih berharap anggota keluarganya selamat harus menghadapi kemungkinan terburuk setelah gempa menelan korban jiwa.
Baca juga: Gempa Susulan Masih Melanda NTT Dini Hari, BMKG Catat Tiga Guncangan di Manggarai
Peristiwa itu menjadi salah satu gambaran dampak kemanusiaan dari gempa yang mengguncang wilayah NTT pada Sabtu pagi.
Bukan sekadar angka dalam laporan bencana, korban meninggalkan keluarga yang kehilangan orang terkasih dalam waktu singkat.
Kisah berbeda datang dari Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Skolastika Karlinda atau Indah sedang berada di Bali ketika kabar buruk itu datang.
Dua tahun bekerja di Pulau Dewata menjadi jalan bagi Indah untuk menabung dan membangun rumah bagi keluarganya di kampung halaman.
Rumah itu menjadi simbol perjuangan. Sebelumnya, keluarga Indah tinggal di rumah yang kondisinya tidak layak. Ketika hujan turun, air bahkan masuk ke dalam rumah.
Indah kemudian memperbaikinya menggunakan hasil tabungan dari bekerja di Bali.
Rumah baru itu bahkan baru selesai dibangun sekitar dua bulan.
Namun rumah yang menjadi hasil kerja keras selama merantau itu tidak sempat lama dinikmati.
Gempa hanya membutuhkan waktu sekitar 10 detik untuk merobohkannya.
"Tadi pagi mereka telepon rumah sudah rata tanah. Rumah itu saya bangun dari hasil tabungan saya bekerja di Bali. Hanya dalam waktu 10 detik roboh," kata Indah kepada TribunFlores.com dari Bali, Sabtu malam.
Yang membuat Indah semakin terpukul, kedua orangtuanya bahkan belum sempat merasakan tinggal lama di rumah baru tersebut.
"Bapak dan mama belum merasakan tinggal di rumah baru sudah rata tanah," ujarnya.
Di dalam rumah itu tinggal Adolfus Muda, Theresia Susilawati Wosa, Adelia Ekalista, Rosalia Firziani, serta Leticia Alesyha Asten yang masih berusia sembilan bulan.
Malam Tanpa Kepastian
Kecemasan Indah tidak berhenti pada kehilangan rumah.
Ia juga tidak mengetahui keberadaan keluarganya setelah gempa.
Jaringan komunikasi sempat terputus setelah gempa. Listrik di sejumlah wilayah Flores padam dan sinyal telepon menghilang.
Beberapa jam setelah gempa, listrik dan jaringan komunikasi mulai kembali.
Namun selama masa tanpa komunikasi itu, Indah hanya bisa menunggu dari Bali.
"Dari tadi kami telepon tidak aktif. Mereka tinggal di mana dan bagaimana keadaan mereka kami tidak tahu. Ini malam mereka tidur di mana dan di sana dingin lagi," kata Indah.
Kekhawatiran itu semakin besar karena anaknya yang berusia sembilan bulan juga berada di rumah tersebut.
Indah hanya ingin memastikan keluarganya selamat. "Pak tolong cek mereka," pintanya.
Permintaan itu menggambarkan kepanikan seorang ibu yang berada jauh dari keluarganya ketika kampung halaman dilanda bencana.
Gempa Mengubur Mimpi dalam Sekejap
Rumah Indah di Manggarai Timur bukan sekadar bangunan.
Di balik dinding yang roboh terdapat dua tahun perjuangan di tanah rantau.
Setiap tabungan yang dikumpulkan di Bali ditujukan untuk satu tujuan: memberikan tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarga di kampung.
Rumah yang sebelumnya tak mampu menahan air hujan telah diperbaiki.
Tetapi ketika gempa datang, seluruh hasil perjuangan itu runtuh dalam hitungan detik.
Di Maumere, kehilangan mengambil bentuk yang berbeda.
Bukan lagi rumah yang roboh, melainkan kehidupan yang terhenti dan keluarga yang harus menerima kenyataan pahit di kamar jenazah.
Dua kisah tersebut memperlihatkan wajah lain dari bencana Flores.
(Pos-Kupang.com/Petrus Chrisantus Gonsales)( TribunFlores.com/Aris Ninu)