Bukan Kekurangan Air, Urban Farming di Cirebon Justru Terancam Cuaca Panas, Ini Dampaknya
Mutiara Suci Erlanti August 16, 2026 07:11 AM

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Bukan kekurangan air, tanaman urban farming di Kota Cirebon, Jawa Barat, justru menghadapi ancaman lain selama musim kemarau.


Suhu udara yang tinggi membuat tanaman, terutama sayuran yang memiliki usia panen relatif pendek, lebih cepat kehilangan kelembapan hingga akhirnya layu.


Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon yang meminta masyarakat meningkatkan pemantauan serta perawatan tanaman selama musim kemarau.

Baca juga: KPU Kota Cirebon Ungkap Perubahan Data Pemilih: 5.417 Warga Baru Masuk, 1.592 Nama Keluar


Kepala DKPPP Kota Cirebon, Elmi Masruroh mengatakan, kondisi urban farming di wilayahnya relatif masih aman dari persoalan kekurangan air.


Sejumlah kelompok urban farming memanfaatkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan penyiraman tanaman.


"Yang terdampak bukan dari kekurangan airnya, tapi lebih ke tanaman karena panas, jadi otomatis cepat layu," ujar Elmi saat diwawancarai media, Sabtu (15/8/2026).


Menurut Elmi, sebagian besar kegiatan urban farming di Kota Cirebon masih dilakukan dalam skala rumah tangga.


Meski demikian, aktivitas tersebut tersebar di sejumlah wilayah dan dikelola secara berkelompok, baik oleh kelompok wanita tani (KWT) maupun kelompok tani hortikultura.


Beberapa lokasi yang mengembangkan urban farming di antaranya berada di Kelurahan Kalijaga dan Pulasaren.


Secara keseluruhan, DKPPP Kota Cirebon mencatat terdapat 51 kelompok tani hortikultura dan 35 KWT yang menjadi bagian dari aktivitas pertanian masyarakat.

 

Baca juga: Cirebon Punya Cara Unik Rayakan HUT ke-81 RI, 11 DJ Lawas Bakal Adu Racik Musik Malam Ini


*Air Masih Aman*


Elmi menjelaskan, penggunaan sumur bor membuat kebutuhan air untuk urban farming relatif masih dapat terpenuhi.


Ditambah lagi, kegiatan urban farming umumnya dilakukan dalam skala rumah tangga sehingga kebutuhan air tidak sebesar lahan pertanian dengan cakupan luas.


"Kalau urban farming itu menggunakan sumur bor. Airnya masih aman, jadi tidak begitu signifikan terdampak dari kekurangan airnya," ucapnya.


Namun, kondisi tersebut bukan berarti tanaman bisa dibiarkan tanpa perawatan rutin.


Justru, tingginya suhu udara selama musim kemarau membuat pola penyiraman dan pemantauan tanaman perlu dilakukan lebih intensif.


DKPPP mengimbau masyarakat tidak menunggu tanaman terlihat layu untuk melakukan penyiraman.


Pemilik tanaman disarankan memperhatikan kondisi media tanam, terutama ketika kelembapannya mulai berkurang.


"Sayuran biasanya berumur pendek, harus sering diamati dan disiram supaya tidak gampang layu karena panasnya cuaca," jelas dia.

 

Baca juga: Jangan Lewat Jalan Ini Besok! Maulid Akbar Al-Bahjah Cirebon Bikin Arus Lalu Lintas Dialihkan


*Lantai Bawah Rak Juga Perlu Disiram*


Perhatian khusus diberikan kepada masyarakat yang menanam sayuran menggunakan polybag maupun menempatkannya di rak bertingkat.


Menurut Elmi, penyiraman tidak hanya dilakukan pada media tanam.


Area lantai di bawah rak juga perlu disiram secara berkala untuk membantu menjaga kelembapan sekaligus menurunkan suhu di sekitar tanaman.


"Kalau tanaman ada di rak-rak, lantai bawah itu harus sering disiram juga untuk menjaga kelembapan dan menurunkan suhu," katanya.


"Sebenarnya itu antisipasi menghadapi panasnya cuaca," imbuh Elmi.

 


*Tujuh Penyuluh Pantau Urban Farming*


Di sisi lain, DKPPP Kota Cirebon terus mengoptimalkan peran penyuluh pertanian untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi cuaca selama musim kemarau.


Sebanyak tujuh penyuluh pertanian telah dibagi berdasarkan wilayah binaan.


Mereka melakukan pemantauan terhadap perkembangan tanaman masyarakat secara berkala.


Elmi mengatakan, pemantauan tersebut penting agar berbagai persoalan yang muncul di lapangan dapat diketahui lebih cepat.


Dengan begitu, kelompok urban farming dapat menyesuaikan pola perawatan berdasarkan kondisi tanaman maupun cuaca.


"Pemantauan ini penting supaya persoalan yang muncul di lapangan bisa segera diketahui dan kelompok urban farming dapat menyesuaikan pola perawatannya," ujarnya.


DKPPP berharap aktivitas urban farming di Kota Cirebon tetap berjalan meski masyarakat menghadapi cuaca panas selama musim kemarau.


"Dengan perawatan yang lebih intensif, kami berharap aktivitas urban farming di Kota Cirebon tetap berjalan dan mampu mempertahankan produksi tanaman meskipun berada di tengah kondisi cuaca panas selama musim kemarau," ucap Elmi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.